Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika ‘Orang Berilmu’ dalam Al-Qur’an Disalahpahami: Bukan Elit Agama, Tapi Mukmin Sejati

165
×

Ketika ‘Orang Berilmu’ dalam Al-Qur’an Disalahpahami: Bukan Elit Agama, Tapi Mukmin Sejati

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

Cahaya matahari menembus halaman mushaf terbuka (ilustrasi)

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam banyak masyarakat Muslim, istilah orang berilmu sering dilekatkan secara otomatis pada para ulama, ustaz, atau pemegang otoritas keagamaan formal. Namun, Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan radikal: ‘orang berilmu’ (الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ) bukanlah kasta religius, melainkan mereka yang menyaksikan kebenaran Allah dengan iman yang hidup.

Kesalahpahaman ini telah melahirkan ketimpangan epistemologis dalam kehidupan umat. Ilmu yang seharusnya menuntun kepada taqwa berubah menjadi alat pembenaran status sosial dan otoritas keagamaan.

QS Al-‘Imrān 3:18 — Kesaksian Ilmu yang Membenarkan Tauhid

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu; (mereka bersaksi) bahwa Allah menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS Āli ‘Imrān [3]:18)

Ayat ini sering dijadikan legitimasi bahwa “orang berilmu” adalah kelompok khusus yang diakui oleh Allah. Namun jika dibaca secara Qur’an bil Qur’an, maka kesaksian ini bukanlah klaim akademik atau formal, melainkan kesaksian eksistensial — kesadaran batin yang muncul dari pengalaman iman.

Dalam QS Fāṭir [35]:28 Allah menegaskan:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.”

Maka jelas, “ulama” dalam ayat ini bukanlah gelar sosial, tetapi mereka yang mengenal Allah hingga takut kepada-Nya. Artinya, siapa pun yang menghidupkan kesadaran tauhid dalam dirinya adalah bagian dari ulū al-‘ilm — orang-orang yang berilmu dalam makna Qur’ani.

QS Al-Mujādilah 58:11 — Ilmu yang Meninggikan Derajat Mukmin

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS Al-Mujādilah [58]:11)

Sering kali ayat ini dijadikan pembenaran bahwa ulama harus lebih dihormati dari masyarakat awam. Padahal, struktur ayat ini memisahkan dua lapisan:

  1. الَّذِينَ آمَنُوا – orang-orang yang beriman, dan
  2. الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ – mereka yang diberi ilmu, yaitu yang menghidupkan imannya dengan pengetahuan yang membuahkan amal dan keadilan.

Dengan demikian, ilmu yang meninggikan derajat bukan sekadar hafalan kitab, ijazah, atau status keulamaan, melainkan ilmu yang berbuah iman dan amal salih.

Sebaliknya, Al-Qur’an mengecam keras mereka yang menggunakan ilmu tanpa iman. Dalam QS Al-Jumu‘ah [62]:5 Allah berfirman:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Kitab Taurat kemudian mereka tidak memikulnya (mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal.”

Ilmu sebagai Cahaya, Bukan Kekuasaan

Dalam QS Az-Zumar [39]:9 Allah mengajukan pertanyaan retoris:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”

Ayat ini bukan seruan untuk membedakan kelas sosial, tetapi untuk menegaskan bahwa ilmu sejati menghidupkan kesadaran akan kebesaran Allah. Karena itu, ilmu dalam Qur’an tidak pernah berdiri sendiri — ia selalu terkait dengan dzikr, taqwa, dan ‘amal shalih.

Refleksi: Mengembalikan Ilmu kepada Spirit Tauhid

Ketika “orang berilmu” diidentikkan dengan gelar keagamaan atau jabatan, maka ilmu menjadi alat kekuasaan. Namun ketika ilmu dimaknai sebagai pencerahan yang membangkitkan iman dan keadilan, maka ia menjadi nur (cahaya) sebagaimana ditegaskan dalam QS Az-Zumar [39]:22:

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ
“Maka apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan yang hatinya keras)?”

Maka, orang berilmu dalam makna Qur’an adalah mereka yang hatinya lapang, imannya hidup, dan ilmunya menuntun manusia kepada keadilan.
Bukan elit agama, tetapi mukmin sejati yang menyaksikan kebenaran dengan amal dan ketundukan.

Dari Monopoli Ilmu ke Kesadaran Mukmin

Ilmu dalam Al-Qur’an bukan monopoli akademik, melainkan karunia yang membimbing manusia menuju pengakuan akan keesaan Allah.
Dalam masyarakat yang menjadikan agama sebagai sistem simbol dan otoritas, pesan ini penting dihidupkan kembali:
bahwa setiap mukmin sejati adalah orang berilmu, sejauh ia hidup dengan cahaya iman dan memancarkan keadilan.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS Al-Mujādilah [58]:11)

Example 120x600