ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah meningkatnya polarisasi pemahaman agama, Al-Qur’an justru membawa pesan yang sangat mendasar: gunakan pendengaran, penglihatan, dan akal, jangan terjebak dalam dogma yang tidak bersandar pada ilmu. Melalui berbagai ayat yang saling menafsirkan, Al-Qur’an menghadirkan kerangka epistemologi yang memisahkan antara keyakinan berbasis ilmu dan kepercayaan tanpa dasar.
AL-QUR’AN: AGAMA INI BERDIRI DI ATAS ILMU, BUKAN DOGMA
Salah satu kritik paling tajam dari Al-Qur’an adalah terhadap mereka yang mengikuti tradisi, kebiasaan, dan kata orang, ketimbang ilmu dan bukti. Pesan ini muncul berulang-ulang ketika Allah menegur manusia yang mengikuti nenek moyang tanpa verifikasi.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۚ اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawaban.”(QS Al-Isrā’ 17:36)
Ayat ini merupakan fondasi epistemologi Qur’ani: jangan mengikuti tanpa ilmu, gunakan tiga instrumen pengenal kebenaran: mendengar, melihat, dan berpikir.
MANUSIA DIPERINTAH UNTUK MENGAKTIFKAN AKAL, BUKAN MENERIMA DOGMA
Berulang kali Al-Qur’an mengecam mereka yang memiliki akal tetapi tidak menggunakannya.
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya dahulu kami mau mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka Sa‘ir.’” QS Al-Mulk 67:10
Ayat ini menunjukkan:
Kerosakan spiritual bukan karena kurang ibadah, tapi karena enggan menggunakan akal dan pendengaran untuk mencari kebenaran.
AL-QUR’AN MENGULANG SERUAN “AFALĀ TA‘QILŪN”
Sebanyak 49 kali Al-Qur’an menyindir manusia dengan pertanyaan retoris:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kalian berakal?”
Seruan ini hampir selalu muncul saat manusia: mengikuti tradisi tanpa kajian, menolak ayat Allah karena tekanan sosial, atau beragama dengan simbol, bukan pemikiran.
DOGMA DALAM TRADISI KEAGAMAAN: AL-QUR’AN MEMINTA KITA KRITIS
Al-Qur’an mengkritik kecenderungan umat untuk tunduk pada tokoh agama, lalu menjadikan perkataan mereka sebagai hukum, meski tidak bersumber dari Allah.
اِتَّخَذُوْا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ
“Mereka menjadikan ulama-ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan selain Allah.”QS At-Tawbah 9:31
Maksudnya bukan menyembah secara ritual, tetapi menaati mereka dalam menetapkan halal–haram tanpa dasar wahyu, sebuah bentuk dogmatisme keagamaan.
AL-QUR’AN MENCOLOK Tradisi Taklid Buta
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”QS Al-Baqarah 2:170
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi umat Islam kini:
banyak keyakinan bertahan bukan karena ayat, tapi karena kebiasaan.
PENGETAHUAN ADALAH TANDA KETAQWAAN
Qur’an tidak hanya memerintahkan menggunakan akal; ia menegaskan bahwa kedudukan spiritual tertinggi hanya diberikan kepada orang berilmu, bukan kepada orang yang sekadar mengikuti dogma.
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰٓؤُا ۗ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu.”QS Fāthir 35:28
Ketakwaan bukan hadir dari hafalan atau tradisi, tetapi dari ilmu yang membuka kesadaran.
BAGAIMANA AL-QUR’AN MEMBANGUN MASYARAKAT BERBASIS ILMU?
Metode Qur’ān bi al-Qur’ān (Syahida) menunjukkan bahwa seluruh pesan Al-Qur’an saling terhubung:
- Pendengaran – menerima informasi secara jujur
- Penglihatan – memeriksa bukti
- Akal – menimbang, menganalisis, dan menyimpulkan
Dengan tiga instrumen ini, umat diarahkan menjadi masyarakat kritis, bukan masyarakat yang hanya menerima fatwa tanpa memahami dalil.



























