ppmindonesia.com Jakarta – Hari ini saya berbahagia menerima kunjungan silaturrahim dari 40 orang guru SMP MOETOE Kotagede, Yogyakarta. Rombongan ini dipandegani oleh Ibu Nilawati Iswindari, Sri Lestari, dan Enggarwati. Turut serta pula Lik Sumarwan—mantan Kepala Sekolah yang penuh kenangan—bersama Bu Husnul, Pak Irud, Khoiruddin Bashori, Bu Rochayati Tamam, dan rekan-rekan lainnya.
Silaturahim berlangsung penuh keakraban, diselingi cerita kangen-kangenan, mengenang masa-masa indah kebersamaan di sekolah kebanggaan, MOETOE. Momen yang sangat menyentuh hati adalah ketika Bapak Sumarwan MS yang kini telah berusia 84 tahun, berdiri memimpin seluruh hadirin menyanyikan lagu Mars MOETOE dengan penuh semangat. Sebuah nostalgia yang menghidupkan kembali semangat perjuangan pendidikan.
Saya juga menerima hadiah yang sangat berkesan: 15 buku Milad 60 MOETOE dan sehelai Batik Kaligrafi dari Ibu Enggarwati, pemilik Gallery Batik Darmo di Ngasem, Yogyakarta. Sebuah penghormatan yang saya terima dengan penuh rasa syukur.
Kisah Perjalanan Seorang Guru
Dalam kesempatan itu, saya berbagi cerita bahwa masa ketika saya menjadi guru ternyata justru menjadi pintu pembuka jalan ke berbagai negara. Pada tahun 1976, saya mendapat undangan pertama ke Colombo, Sri Lanka untuk menghadiri Consultation on Land and Rural Community Development in Asia Pacific. Setahun kemudian, 1977, saya diundang ke Hong Kong dan Macao dalam pertemuan Young Theologian Meeting on Development, lalu singgah di Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura dalam perjalanan pulang.
Berkat aktivitas tersebut, pada tahun 1978 saya terpilih sebagai salah satu dari tujuh pemuda Asia dalam bidang pendidikan dan pembangunan, untuk mengikuti perjalanan studi ke tujuh negara Asia Tenggara dan Selatan: Thailand, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Bangladesh, dan Nepal.
Di luar dugaan, pada tahun 1979 saya kembali mendapat kehormatan: undangan ke Paris, disusul perjalanan konferensi dan kunjungan lapangan ke berbagai wilayah Brazil seperti Rio de Janeiro, Amazon, Alagamar, Alexandria, Nova Iguaçu, Recife, hingga João Pessoa.
Dalam forum di João Pessoa yang dihadiri tokoh besar Gereja Katolik dan pejuang sosial, Dom Helder Câmara, saya bersama Noel Mondejar dari Filipina terpilih menjadi anggota Secretariate of International Study Days (ISD) untuk periode 1979–1982. Sekretariat ini berkantor di Rue Saint-Benoît, kawasan Saint-Germain—yang kini dikenal pula sebagai markas klub sepak bola ternama. Setiap musim panas, saya selalu kembali ke Paris untuk pertemuan tahunan ISD.
Amanah Baru dan Kiprah Internasional
Pada 1982 dilakukan regionalisasi ISD dengan pembentukan kawasan Asia Tenggara berpusat di Manila. Dari proses itu, lahirlah SEARICE (South East Asia Regional Institute for Community Education). Dalam rapat pembentukan SEARICE, saya diberi kepercayaan menjadi presiden pertama, bersama tokoh-tokoh hebat seperti Noel Mondejar, Charlie Avila, dan Jun Atienza dari Filipina; Dr. Dan Breen dari Singapura; Hamzah Hamid dari Malaysia; serta Chanet Khumtong dari Thailand.
Sejak saat itu, perjalanan saya ke Manila, berbagai negara Asia Tenggara, dan beberapa negara Eropa semakin intens. Justru pada masa menjadi guru itulah saya paling aktif menulis dan mengabdikan diri dalam kerja-kerja internasional untuk pemberdayaan masyarakat.
Hijrah ke Jakarta dan Perjalanan Hidup Selanjutnya
Pada tahun 1985, saya mendapat amanah baru sebagai konsultan dan country representative sebuah lembaga donor pembangunan dari Belanda, NOVIB (The Netherlands Organization for International Development Cooperation). Tugas inilah yang membawa kami sekeluarga hijrah dari Yogyakarta ke Jakarta.
Saat itu anak pertama kami, Arief, baru berusia 3 tahun dan anak kedua, Navis, masih dalam kandungan 9 bulan. Kami tinggal di Jakarta sejak 1985 hingga 2011, sebuah perjalanan panjang penuh pengalaman dan dinamika kehidupan keluarga serta profesi.
Kembali ke Tanah yang Menenteramkan
Kini, saya dan keluarga menetap di Magelang, tepatnya di Jalan Borobudur KM 3 No. 88, Ngrajek. Dari tempat yang sejuk dan teduh inilah saya terus bersyukur bahwa perjalanan hidup seorang guru dapat menuntun ke berbagai pintu kebaikan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Catatan Redaksi:
Artikel ini ditulis sebagai dokumentasi kisah perjalanan tokoh pendidikan dan pemberdayaan masyarakat Indonesia asal Yogyakarta yang kontribusinya memberi warna pada jejaring gerakan sosial Asia dan dunia



























