Scroll untuk baca artikel
HikmahNasional

Ketika Dua Riwayat Bertabrakan: Benarkah Nabi Berwasiat ‘Sunnahku’ atau ‘Keturunanku’?

19
×

Ketika Dua Riwayat Bertabrakan: Benarkah Nabi Berwasiat ‘Sunnahku’ atau ‘Keturunanku’?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Perdebatan klasik antara Sunni dan Syiah selalu menukik pada satu pertanyaan besar:
Nabi Muhammad SAW meninggalkan apa sebagai pegangan umat setelah wafatnya?

Sunni berpegang pada riwayat “berpeganglah pada al-Qur’an dan Sunnahku”.
Syiah berpegang pada riwayat “berpeganglah pada al-Qur’an dan Ahlul Baitku”.

Dua riwayat yang menyangkut momen penting dan konteks yang sama, tetapi menghasilkan dua klaim teologis berbeda — dan keduanya dijadikan landasan legitimasi politik yang berujung konflik panjang sepanjang sejarah.

Pertanyaannya:
Benarkah Nabi mengucapkan dua hal yang berbeda untuk satu pesan yang sama?

Al-Qur’an: Sumber Peringatan dan Wasiat Nabi

Sebelum melangkah pada pertentangan riwayat, mari kembali ke sumber yang mutlak shahih — Al-Qur’an.

Allah menegaskan peran Nabi sebagai pemberi peringatan dengan Al-Qur’an:

إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلْوَحْىِ
“Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kalian dengan wahyu.”— QS Al-Anbiya: 45

Dan ditegaskan lagi:

وَأُوحِىَ إِلَىَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan dengannya kepada kalian…”— QS Al-An’am: 19

Bukan dengan kitab lain, bukan pula dengan dokumen ajaran di luar wahyu itu.

Bukan Dinasti: Nabi Tidak Mewariskan Takhta

Jika riwayat Syiah yang menekankan keturunan dipegang secara absolut, maka itu bertentangan dengan firman Allah bahwa Nabi bukan kepala dinasti kerajaan:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّينَ
“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”— QS Al-Ahzab: 40

Silsilah Arab ditarik melalui laki-laki, sementara Hasan dan Husain adalah cucu dari putri Nabi, Fatimah — sehingga garis keturunannya tidak sejalan dengan tradisi nasab Arab saat itu.

Siapakah Ahlul Bait Menurut Al-Qur’an?

Syiah menegaskan bahwa Ahlul Bait adalah keturunan Nabi dari jalur Fatimah.
Namun Al-Qur’an menggunakan istilah Ahlul Bait justru untuk istri-istri Nabi:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ…
(“Dan tetaplah kamu di rumah-rumahmu…”)

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah hendak membersihkan kalian (Ahlul Bait) sebersih-bersihnya.” — QS Al-Ahzab: 32–33

Ayat ini ditujukan langsung kepada istri-istri Nabi — bukan keturunan Nabi secara eksklusif.

Dua Riwayat, Dua Kepentingan

Jika logika dihidupkan:
Apakah masuk akal Nabi mengucapkan dua wasiat berbeda pada waktu dan konteks yang sama?

Jika satu pesan punya dua versi berbeda,
maka minimal salah satunya cacat riwayat.

Sejarah penulisan hadis pun menunjukkan: riwayat baru dibukukan lebih dari 200 tahun setelah Nabi wafat, rentan pengaruh politik perebutan kepemimpinan pasca-kenabian, dan terjadinya seleksi berdasarkan kecenderungan mazhab.

Karena itu, Al-Qur’an menyebut:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍۢ بَعْدَهُۥ يُؤْمِنُونَ
“Maka hadis (pernyataan) apa lagi setelah Al-Qur’an yang mereka imani?” — QS Al-A’raf: 185

Wasiat Nabi yang paling otentik sudah ada dalam Kitab Allah.

Wasiat Sebenarnya

Satu-satunya “wasiat berpegang teguh” yang mutlak shahih ada dalam Al-Qur’an sendiri:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.” — QS Ali ‘Imran: 103

Lalu ditegaskan:

وَمَن يَعْتَصِم بِٱللَّهِ فَقَدْ هُدِىَ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.” — QS Ali ‘Imran: 101

Tali Allah hanya satu: Al-Qur’an.

Yang perlu dipegang oleh umat bukanlah: klaim Sunni tentang Sunnahku, klaim Syiah tentang Keturunanku, tetapi apa yang Allah sendiri perintahkan dalam Al-Qur’an.
Karena di hari pengadilan nanti, bukan nama mazhab yang ditanya, bukan imam yang kita bela, tetapi Kitab yang kita abaikan.

Selama umat menjadikan riwayat manusia sebagai fondasi teologi, selama itu pula kita akan terus berselisih.
Dan konflik Sunni–Syiah hanyalah satu dari sekian banyak tragedi yang berawal dari melupakan Al-Qur’an sebagai otoritas tertinggi.

Example 120x600