Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Perempuan dalam Cermin Wahyu: Menegakkan Keadilan Relasi Gender dalam Al-Qur’an

20
×

Perempuan dalam Cermin Wahyu: Menegakkan Keadilan Relasi Gender dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

Perempuan dalam Islam, Gender Qur’ani, (Ilustrasi)

ppmindonesia.com.Jakarta – Perdebatan tentang posisi perempuan dalam Islam terus mengemuka, seringkali dipicu oleh tafsir-teks yang dipenggal, dikontekstualisasi secara keliru, atau dipengaruhi kultur patriarki. Dalam tengah derasnya arus bias sosial, Al-Qur’an justru menghadirkan perspektif yang egaliter—berbasis takwa, pilihan moral, dan kualitas amal, bukan jenis kelamin.

Artikel ini mengajak pembaca melakukan kajian Qur’an bil Qur’an, melihat bagaimana ayat-ayat berbicara tentang kesetaraan spiritual, tanggung jawab sosial, dan citra perempuan dalam struktur wahyu.

Kesetaraan Hakikat & Potensi Manusia

Islam memulai narasi kemanusiaan bukan dengan superioritas laki-laki, melainkan kesetaraan asal-usul dan martabat penciptaan.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa.” (QS An-Nisā’ 4:1)

Ayat ini menolak hierarki biologis. Perempuan bukan makhluk kelas dua, melainkan bagian dari struktur ketauhidan manusia (“nafsin wāḥidah”).

Kesetaraan ini ditegaskan lebih kuat:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa.” (QS Al-Ḥujurāt 49:13)

Takwa, bukan gender menjadi tolok ukur keutamaan.

Kesetaraan Spiritual & Amal

Al-Qur’an menyatakan jelas bahwa pahala dan kemuliaan amal tidak membedakan perempuan dari laki-laki:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنكُم
مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ ۖ بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ

“Aku tidak menyia-nyiakan amal siapa pun di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan; sebagian kalian adalah bagian dari yang lain.” (QS Āli ‘Imrān 3:195)

Ungkapan “ba‘ḍukum min ba‘ḍ” adalah fondasi teologis bahwa perempuan dan laki-laki saling melengkapi, bukan mendominasi.

Relasi Gender dalam Kehidupan Sosial

Islam mengatur relasi laki-laki dan perempuan berdasarkan keadilan, mutual responsibility, dan maqāṣid syariah (perlindungan martabat manusia):

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Bagi perempuan terdapat hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut yang makruf.” (QS Al-Baqarah 2:228)

Ini bukan hanya kesetaraan legal, tetapi juga sosial-moral.

Namun Al-Qur’an juga mengakui realitas sosial yang beragam, sehingga beberapa ayat bersifat regulatif untuk mencegah ketidakadilan—bukan untuk menetapkan kelelakian sebagai supremasi permanen.

Perempuan sebagai Subjek Perubahan & Sejarah Nabi

Al-Qur’an menampilkan perempuan sebagai:

Tokoh Peran Ayat
Maryam Teladan iman & kemurnian QS 19
Ibu Musa Pemelihara misi kenabian QS 28:7-13
Ratu Saba’ Pemimpin politik yang bijak QS 27:23-44
Para Mujahidah Pejuang di jalan Allah QS 9:71

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
“Laki-laki beriman dan perempuan beriman — sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”
(QS At-Taubah 9:71)

Perempuan bukan sekadar pendukung; mereka penggerak misi profetik.

Membongkar Bias Tafsir

Seringkali, bias muncul bukan dari teks, tapi dari:

  1. Pembacaan patriarkal
  2. Selektifitas hadis dan atsar
  3. Budaya lokal yang dilabeli agama
  4. Mengabaikan prinsip umum Qur’an

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa agama tidak pernah memusuhi perempuan — budaya yang memusuhi perempuan.

 Islam sebagai Gerakan Emansipasi

Al-Qur’an memulihkan martabat perempuan dari masa jahiliyah menuju kemuliaan ruhaniah.
Relasi laki-laki & perempuan menurut wahyu adalah:

  • Kesetaraan martabat
  • Keadilan sosial
  • Kerja sama kolektif membangun kebaikan

بَعْضُكُم مِّن بَعْضٍ
→ Kau adalah bagian dari kami, dan kami bagian dari mu.

Islam memanggil kita untuk menghormati, bukan menguasai.

Example 120x600