ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam tradisi Yahudi-Kristen, kisah kejatuhan manusia selalu menampilkan dua tokoh utama: Adam dan Hawa (Eve). Hawa digambarkan sebagai pihak yang lebih dulu tergoda, pembujuk Adam, atau penyebab awal dosa warisan. Namun, menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut nama “Hawa” satu kali pun.
Mengapa kitab suci yang sangat rinci dalam banyak hal justru tidak menarasikan “Hawa”?
Mengapa Al-Qur’an memilih pendekatan yang sangat berbeda dari Al-Kitab?
Apakah ini sekadar gaya naratif—atau sebuah koreksi teologis?
Artikel ini mencoba menjawabnya melalui kajian Qur’an bil Qur’an (al-Qur’ân yufassiru ba‘ḍuhû ba‘ḍan) serta pendekatan syahida, yaitu membaca ayat dengan kesaksian ayat-ayat lain.
Al-Qur’an Menolak Menyalahkan Perempuan
Dalam beberapa kisah penciptaan, Al-Qur’an menggunakan bentuk dual (مُثَنّى) atau bentuk jamak, menunjukkan bahwa Adam dan pasangannya sama-sama bertanggung jawab, tanpa menempatkan salah satu sebagai biang kesalahan.
Contoh paling jelas:
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا
“Lalu setan membuat keduanya tergelincir darinya.” (QS Al-Baqarah 2:36)
Ayat ini sangat tegas: keduanya (humā), bukan Hawa seorang diri.
Bandingkan dengan narasi Perjanjian Lama (Kejadian 3:6) yang menyalahkan perempuan lebih dulu dan menjadikannya sumber godaan. Al-Qur’an menolak model naratif yang bias patriarki tersebut.
Karena itu, menyebut nama “Hawa”—yang sarat beban teologis dalam tradisi sebelumnya—tidak diperlukan.
Fokus Al-Qur’an Bukan pada Identitas, Tapi Pesan Moral
Dalam seluruh kisah Al-Qur’an, figur perempuan disebut hanya bila terkait pesan moral atau teladan:
- Maryam (ketulusan dan spiritualitas)
- Istri Firaun (keberanian)
- Ibu Musa (tawakkal)
- Ratu Saba’ (kepemimpinan dan kecerdasan)
Dalam kasus istri Adam, pesannya bukan tentang karakter perempuan, melainkan: asal-usul manusia, tanggung jawab moral, konsekuensi pilihan bebas.
Karena itu, nama tidak menjadi penting.
Bentuk penyebutan Al-Qur’an:
يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
“Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga.”
(QS Al-A‘raf 7:19)
Kata “zauj” menggambarkan relasi setara dan berpasangan, bukan hierarkis.
Al-Qur’an Menghapus Doktrin “Dosa Warisan”
Salah satu tujuan utama Al-Qur’an dalam koreksi narasi Biblikal adalah menghapus dogma dosa warisan.
Kisah Adam–pasangan dalam Al-Qur’an tidak diposisikan sebagai tragedi kosmis yang menurunkan dosa ke anak cucu.
Al-Qur’an dengan tegas menyatakan:
ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ
“Kemudian Tuhannya memilih Adam dan menerima tobatnya.” (QS Ṭāhā 20:122)
Dengan demikian: tidak ada dosa bawaan, tidak ada perempuan sebagai sumber kutukan, tidak ada keturunan yang menanggung kesalahan leluhur.
Menyebut nama “Hawa” dengan konteks lama justru melanggengkan teologi yang sudah dibatalkan oleh wahyu Qur’ani.
Ketika Al-Qur’an Tidak Menyebut Nama, Itu Biasanya Pilihan Editorial Ilahi
Ada pola dalam Al-Qur’an:
Nama disebut ketika bagian dari pesan. Misal: Musa, Ibrahim, Maryam.
Nama dihilangkan ketika yang ditekankan adalah universalitas.
Misal:
- istri Adam,
- istri Nuh dan istri Lut,
- pengasuh Musa,
- pemuda Ashabul Kahfi,
- keluarga Imran (ayahnya tak disebut).
Absennya nama “Hawa” adalah cara Al-Qur’an mengatakan:
“Kisah ini milik seluruh manusia, bukan mitos gender tertentu.”
Al-Qur’an Mengangkat Martabat Perempuan dari Warisan Narasi Lama
Tidak seperti narasi lama yang memusatkan kesalahan pada perempuan, Al-Qur’an meluruskan posisi perempuan sebagai:
a. Makhluk bermartabat dan setara
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh, Kami memuliakan anak cucu Adam.” (QS Al-Isrā’ 17:70)
Ini mencakup laki-laki dan perempuan secara setara.
b. Makhluk yang diberi akal dan kehendak
Tidak ada ayat Al-Qur’an yang menampilkan perempuan sebagai penyebab kejatuhan moral dunia.
c. Pasangan hidup, bukan sumber godaan
هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Mereka (perempuan) adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah 2:187)
Relasi pakaian adalah relasi saling menutupi, melindungi, dan mendekat.
Al-Qur’an Memperbaiki Narasi, Bukan Menyalinnya
Alih-alih mengulang cerita Biblikal secara mentah, Al-Qur’an melakukan:
- Koreksi teologis, Menghapus dosa warisan.
- Koreksi moral Menghapus blame terhadap perempuan.
- Koreksi filosofis Menekankan tanggung jawab individu.
- Koreksi naratif, Menghapus unsur-unsur yang berpotensi salah paham—termasuk nama yang terbebani makna patriarkal.
Ketidakhadiran “Hawa” Adalah Pesan, Bukan Kekurangan
Absennya nama “Hawa” menunjukkan:
- Al-Qur’an egaliter, tidak menyalahkan perempuan.
- Al-Qur’an tidak melanjutkan teologi yang bias gender.
- Pasangan Adam bukan simbol dosa, tetapi simbol kemanusiaan.
- Kisah ini bukan kisah perempuan vs laki-laki, tetapi kisah manusia sebagai makhluk yang memilih dan bertanggung jawab.
Dengan tidak menyebut nama Hawa, Al-Qur’an mengembalikan narasi penciptaan kepada: kemanusiaan, kesetaraan, dan rahmat.
Itulah keindahan dan keunikannya sebagai kitab petunjuk.



























