Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ilmu, Iman, dan Iqra’: Menyatukan Kembali Akal dan Wahyu

18
×

Ilmu, Iman, dan Iqra’: Menyatukan Kembali Akal dan Wahyu

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah gelombang disinformasi, polarisasi keagamaan, dan tumbuhnya sentimen anti-intelektual, umat Islam menghadapi tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan perintah beriman dan perintah berpikir.

Ketika sebagian kelompok menekankan wahyu tanpa akal, dan sebagian lain mengagungkan akal tanpa bimbingan moral, Al-Qur’an tampil sebagai kitab yang menyatukan keduanya dalam satu tarikan komando: “Iqra’!”

Artikel ini menyajikan kajian Qur’an bil Qur’an, menelusuri bagaimana wahyu membangun koherensi antara ilmu, iman, dan akal, suatu kesatuan yang seharusnya menjadi fondasi peradaban Islam.

Panggilan Pertama Wahyu: Baca, Tinjau, Renungkan

Ayat pertama yang turun bukan perintah salat, bukan syariat, bukan hukum.
Ayat pertama adalah perintah membaca, yang bersifat intelektual-spiritual.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS Al-‘Alaq 96:1)

Perintah “iqra’” tidak menyebut apa yang dibaca, karena objek bacaannya bersifat universal: ayat-ayat tertulis (wahyu), ayat-ayat terbentang dalam semesta (alam), ayat-ayat diri manusia. Al-Qur’an memulai dakwahnya dengan perintah membuka pikiran.

Akal: Instrumen Ilahi dalam Diri Manusia

Berulang kali, Al-Qur’an mengecam mereka yang tidak menggunakan akal:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kalian berpikir?”
(QS Al-Baqarah 2:44)

أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ
“Tidakkah kalian merenung?” (QS Al-An‘ām 6:50)

Pertanyaan retoris ini menunjukkan bahwa akal bukan sekadar alat pilihan, tetapi kewajiban moral.
Ibadah tanpa kesadaran mudah menjadi ritual tanpa ruh; ilmu tanpa iman mudah berubah menjadi arogansi intelektual.

Al-Qur’an menghendaki manusia menggunakan akalnya untuk: memahami wahyu, membaca tanda-tanda semesta, membangun etika sosial, menghindari manipulasi keagamaan.

Ilmu sebagai Jalan Menuju Ketakwaan

Bagi Al-Qur’an, ilmu bukan ancaman bagi iman.
Justru ilmu adalah jalan menuju ketundukan yang autentik.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah para ulama (orang yang berpengetahuan).” (QS Fāṭir 35:28)

Dalam ayat ini, ilmu → khashyah → ketakwaan.
Artinya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dalam kesadarannya terhadap Sang Pencipta.

Wahyu Tidak Anti Sains: Semesta sebagai Kitab Terbuka

Al-Qur’an mengajak manusia meneliti fenomena alam sebagai ayat kauniyah:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di cakrawala dan dalam diri mereka.” (QS Fuṣṣilat 41:53)

Semesta bukan objek yang harus dicurigai.
Semesta adalah jilid kedua dari wahyu, tempat manusia belajar sunnatullah: hukum gravitasi, perkembangan janin, perputaran siang-malam, siklus air — semuanya disebut ayat.

Sains dan iman bukan dua kutub yang bertentangan;
mereka adalah dua lensa membaca realitas.

Bahaya Memisahkan Akal dari Wahyu

Sejarah menunjukkan dua ekstrem yang sama berbahayanya:

1. Wahyu tanpa akal → Dogmatisme

Teks dibaca tanpa konteks.
Hukum diterapkan tanpa keadilan.
Agama berubah menjadi otoritas yang membungkam kritik.

2. Akal tanpa wahyu → Materialisme dangkal

Intelektualitas menjadi ego.
Manusia merasa tidak butuh Tuhan.
Kemajuan teknis kehilangan arah moral.

Al-Qur’an memperbaiki kedua deviasi ini dengan mengikat akal pada etika iman dan mengikat iman pada kejernihan akal.

Kembalinya Peradaban Islam: Sinergi Akal—Wahyu

Di masa emas Islam, para ilmuwan seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Ibn Haytham, Al-Kindi, Al-Khawarizmi, dan Al-Razi membuktikan bahwa wahyu tidak menghambat ilmu, tetapi mengilhami penelitian.

Mereka membaca wahyu dengan akal, dan membaca alam dengan iman.

Itulah mengapa peradaban Islam melahirkan: rumah sakit modern, observatorium astronomi, standar ilmiah, filsafat etis, sistem pendidikan, dan riset multidisipliner.

Fondasinya: Iqra’, bukan dogma.

 Memulihkan Paradigma Qur’ani

Al-Qur’an menegakkan tiga pilar:

  1.  Ilmu — membaca realitas
  2. Iman — membangun kompas moral
  3. Akal — menghubungkan keduanya

Ketika tiga pilar ini dipisahkan, umat terjatuh pada: fanatisme, taklid buta, atau sekularisme tanpa arah.

Ketika tiga pilar ini dipersatukan, muncul: kebijaksanaan, keseimbangan, dan kemajuan peradaban.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
“Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah.” (QS Al-‘Alaq 96:3)

Iqra’ adalah panggilan untuk berpikir, menganalisis, dan mengabdi—dalam satu napas tauhid.

Example 120x600