Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Bumi Hijau atau Bumi Hangus? Pesan Qur’an tentang Cara Kita Mengelola Alam

13
×

Bumi Hijau atau Bumi Hangus? Pesan Qur’an tentang Cara Kita Mengelola Alam

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Krisis iklim, deforestasi, polusi, dan bencana ekologis bukan sekadar isu modern. Al-Qur’an telah memberi peringatan tegas sejak berabad-abad lalu bahwa manusia akan menghadapi kerusakan bumi jika salah mengelola amanah kekhalifahan. Pertanyaannya sederhana namun sangat mendasar: Apakah kita sedang menjadikan bumi hijau atau justru membakarnya perlahan?

Manusia sebagai Khalifah: Tugas Mengelola, Bukan Menghancurkan

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah, pengelola semesta. Bukan perusak, bukan penjarah.

Allah berfirman:

﴿ وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ﴾
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS Al-Baqarah 2:30)

Khalifah bukan titel kehormatan; ia adalah mandat ekologis. Tugas utama manusia adalah memastikan bumi tetap hidup, subur, dan berkelanjutan.

Ketika Kerusakan Meluas: Qur’an Mendiagnosis Akar Masalahnya

Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat relevan dengan kondisi ekologi global hari ini. Kerusakan bukan terjadi sendiri; ia lahir dari tangan manusia.

﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia.” (QS Ar-Rum 30:41)

Deforestasi, emisi karbon, penambangan rakus, sampah plastik, kerakusan industri—semuanya masuk dalam kategori “Bima kasabat aydin-nas”, dampak dari pilihan-pilihan ekonomi yang destruktif.

Ayat ini bukan sekadar peringatan; ia adalah Ta’wil ekologis: bumi merespons perlakuan manusia.

Larangan Merusak di Bumi: Perintah Langsung, Bukan Etika Umum

Dalam banyak ayat, Allah menegaskan ulang larangan membuat kerusakan. Ayat-ayat ini tidak kontekstual untuk perang saja, tetapi prinsip universal pengelolaan kehidupan.

﴿ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ﴾
“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS Al-A’raf 7:56)

Ini adalah ayat ekologi, bukan sekadar ayat moral.
Kerusakan setelah perbaikan berarti:

  • mengubah ekosistem yang seimbang,
  • menambang tanpa batas,
  • mengeksploitasi tanah hingga mati,
  • memusnahkan vegetasi,
  • atau membuang limbah tanpa kendali.

Bumi Diciptakan Seimbang: Rusaknya Kesetimbangan, Rusaklah Segalanya

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menciptakan bumi dan langit dalam keseimbangan ekologis yang presisi.

﴿ وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ ١ أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ ﴾
“Dan langit Dia tinggikan, dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kalian tidak merusak keseimbangan itu.” (QS Ar-Rahman 55:7–8)

“Al-Mīzān” bukan hanya keadilan sosial, tetapi juga keseimbangan ekologis:
siklus air, rotasi musim, keanekaragaman hayati, keseimbangan atmosfer.

Ketika manusia “yatghau”—melampaui batas—maka tatanan yang seimbang itu terganggu. Ujungnya: bencana.

Bumi yang Baik, Tanaman Baik: Prinsip Pertanian dan Ekonomi Hijau dalam Qur’an

Al-Qur’an memberikan gambaran menarik tentang hubungan tanah, air, dan kehidupan:

﴿ وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهُ بِإِذْنِ رَبِّهِ ﴾
“Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan.” (QS Al-A’raf 7:58)

Tanah yang baik bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga cara manusia memperlakukannya:

  • tidak dibebani kimia berlebihan,
  • tidak dieksploitasi untuk monokultur ekstrem,
  • tidak dipaksa produktif tanpa istirahat.

Ayat ini adalah fondasi pertanian regeneratif dan ekonomi hijau dalam Islam.

Bumi Akan “Melawan” Bila Ditindas

Al-Qur’an menggambarkan bumi bukan benda pasif, tetapi “makhluk yang akan berbicara” ketika manusia melampaui batas.

﴿ يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ﴾
“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.” (QS Al-Zalzalah 99:4)

Bumi memberi “laporan”:
lewat banjir, panas ekstrem, gagal panen, wabah, badai, kebakaran hutan.
Semua itu adalah bentuk tasykhīsh Qur’ani: bumi memberi peringatan sebelum kehancuran total tiba.

Menuju Bumi Hijau: Jalan Qur’an bagi Peradaban Berkelanjutan

Mengelola bumi bukan isu aktivisme; ia adalah bagian dari iman dan ibadah.

Qur’an memerintahkan:

  • tidak berlebih-lebihan (QS Al-An’am 6:141)
  • menjaga sumber daya air (QS Al-Mulk 67:30)
  • memanfaatkan alam tanpa merusaknya (QS Hud 11:61)
  • memperbaiki kerusakan (QS Al-Baqarah 2:205)

Islam bukan hanya agama ritual, tetapi agama peradaban.
Dan peradaban yang benar menurut Qur’an adalah yang menjaga bumi, bukan membakarnya.

Pilihan Kita Menentukan Nasib Bumi

Hari ini kita berada di persimpangan besar:
Apakah kita akan menjadikan bumi kembali hijau—selaras dengan amanah kekhalifahan?
Atau membiarkannya hangus oleh kerakusan dan kelalaian?

Qur’an telah memberi peringatan, sekaligus panduan.
Tinggal manusia yang memutuskan apakah ingin berjalan di jalan merusak atau jalan memperbaiki.

Dan seperti ditegaskan Qur’an:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka.” (QS Ar-Ra’d 13:11)

Pilihan itu kini berada di tangan kita.

Example 120x600