Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Sunnah, Ahlul Bait, dan Perebutan Otoritas Islam: Analisis Konflik Berabad-abad

12
×

Sunnah, Ahlul Bait, dan Perebutan Otoritas Islam: Analisis Konflik Berabad-abad

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Di sepanjang sejarah Islam, ada dua kata yang terus diperebutkan, dipelintir, dan diulang-ulang tanpa henti: sunnah” dan “Ahlul Bait.” Keduanya bukan sekadar istilah teologis, tetapi pondasi legitimasi kekuasaan, identitas mazhab, dan alat klaim kebenaran yang kerap menimbulkan luka panjang di tubuh umat Islam.

Pertanyaannya sederhana:
Bagaimana Al-Qur’an menempatkan sunnah? Bagaimana Al-Qur’an menempatkan Ahlul Bait? Dan mengapa perebutan makna ini berubah menjadi konflik berabad-abad?

Sunnah dalam Al-Qur’an: Tidak Pernah Disebut sebagai “Sunnah Nabi”

Ketika perdebatan tentang “ikut sunnah Nabi” berkecamuk, banyak yang tidak menyadari bahwa Al-Qur’an tidak pernah menggunakan istilah “sunnah Nabi” sama sekali. Yang ada hanya:

1. Sunnat Allah (ketetapan Allah), bukan sunnah manusia

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ
“Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku sejak dahulu.” (QS Al-Ahzab 33:62)

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Engkau tidak akan menemukan perubahan pada Sunnah Allah.” (QS Al-Fath 48:23)

Dalam Al-Qur’an, sunnah = hukum Allah yang tidak berubah, bukan praktik ritual manusia, bukan kumpulan fatwa, bukan tafsir mazhab.

2. Ketaatan kepada Rasul mengacu pada wahyu, bukan tradisi

Ketika Al-Qur’an memerintahkan taat kepada Rasul, ia selalu mengikatnya dengan wahyu:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Ia (Rasul) tidak berbicara dari hawa nafsu. Itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS An-Najm 53:3–4)

Artinya:
Taat pada Rasul = taat pada wahyu yang disampaikan, bukan pada rekonstruksi historis berabad-abad kemudian.

Ahlul Bait dalam Al-Qur’an: Penghormatan Spiritual, Bukan Hak Politik

Sementara itu, istilah Ahlul Bait dalam Al-Qur’an digunakan dalam konteks spiritual — bukan politik — bahkan tidak dikaitkan dengan klaim kekuasaan.

Ayat yang paling sering dikutip, QS Al-Ahzab 33:33, justru konteksnya adalah istri-istri Nabi, bukan garis keturunan politik:

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
“Sesungguhnya Allah hendak membersihkan kalian, wahai Ahlul Bait, dari segala dosa…”

Jika Ahlul Bait dijadikan legitimasi politik, maka:
Mengapa Al-Qur’an tidak memberikan instruksi suksesi sedikit pun kepada keluarga Nabi?
Mengapa Nabi tidak pernah memerintahkan dinasti?

Justru Al-Qur’an menekankan:

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ
“Itu adalah umat yang telah berlalu.” (QS Al-Baqarah 2:141)

Dengan kata lain:
Yang diwariskan adalah nilai, bukan tahta.

Ketika Sunnah dan Ahlul Bait Menjadi Senjata Politik

Sejak wafatnya Nabi, muncul dua arus besar:

  1. Kelompok yang menekankan “sunnah” sebagai legitimasi kekuasaan politik dan otoritas ulama.
  2. Kelompok yang menekankan “Ahlul Bait” sebagai pewaris sah kepemimpinan agama dan negara.

Keduanya kemudian berkembang menjadi:

  • Sunni → menekankan otoritas ulama dan hadis.
  • Syiah → menekankan otoritas keturunan Nabi.

Ironisnya, keduanya mengklaim membela Nabi, tetapi justru saling menumpahkan darah atas nama Nabi.

Padahal Al-Qur’an dengan tegas memperingatkan:

وَلَا تَفَرَّقُوا
“Janganlah kalian bercerai-berai.” (QS Ali ’Imran 3:103)

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan menjadi kelompok-kelompok, engkau (Muhammad) tidak ada urusan dengan mereka.” (QS Al-An’am 6:159)

Ayat ini sangat keras.
Al-Qur’an menolak mazhabisme, fanatisme, dan segala bentuk fraksionalisme agama.

Konflik Berabad-abad: Ketika Riwayat Mengalahkan Wahyu

Perpecahan Sunni–Syiah memuncak bukan karena ayat Al-Qur’an, tetapi karena:

  • kisah wasiat
  • riwayat peristiwa Saqifah
  • klaim hadis Ghadir Khum
  • persepsi politik Bani Umayyah dan Abbasiyah
  • tafsir ulama yang dipengaruhi sejarah

Padahal Al-Qur’an justru menjelaskan cara menyelesaikan perbedaan:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS An-Nisa’ 4:59)

“Allah” = Al-Qur’an.
“Rasul” = wahyu yang dibawa Rasul (bukan riwayat pasca Nabi).

Jika umat kembali ke Al-Qur’an, konflik berabad-abad itu sebenarnya tidak memiliki dasar.

Mazhabisme: Ketika Identitas Mengalahkan Kebenaran

Dalam kajian syahida (merujuk ayat, konteks, dan kesinambungannya), terlihat pola:

  • Setiap mazhab memonopoli kebenaran.
  • Setiap kelompok mengklaim Nabi sebagai “miliknya.”
  • Riwayat diprioritaskan melebihi ayat.
  • Fanatisme mengalahkan keadilan.

Padahal Al-Qur’an menegaskan:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian.” (QS Al-A’raf 7:3)

Bukan:

  • Ikutilah mazhab kalian.
  • Ikutilah gurumu saja.
  • Ikutilah riwayat yang kamu sukai.

Al-Qur’an adalah satu. Mazhab adalah banyak.
Jika yang satu dikalahkan oleh yang banyak, hancurlah umat.

Akar Masalah: Umat Kehilangan Pusat Rujukan

Dalam sejarah, setiap konflik besar Sunni–Syiah lahir dari satu sebab:
Umat tidak kembali kepada Al-Qur’an ketika terjadi perselisihan.

Ketika otoritas ditentukan bukan oleh wahyu, tetapi oleh:

  • klaim keturunan
  • klaim hadis
  • klaim mazhab
  • klaim legitimasi politik

maka agama berubah menjadi arena rebutan, bukan jalan kedamaian.

 Kembali kepada Qur’an, Kembali kepada Kejernihan

Perebutan antara “sunnah” dan “Ahlul Bait” seharusnya tidak membuat umat terpecah. Keduanya adalah bagian dari sejarah agung Islam, tetapi tidak boleh menjadi alat klaim absolut.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
“Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah.” (QS Ali ’Imran 3:103)

Tali Allah” adalah Al-Qur’an — bukan mazhab, bukan riwayat, bukan garis keturunan, bukan institusi politik.

Jika umat kembali kepada Al-Qur’an, maka akan tampak jelas:
Sunnah adalah wahyu. Ahlul Bait adalah kehormatan spiritual.
Kebenaran bukan milik golongan.
Dan Islam bukan untuk diperebutkan, tetapi untuk ditegakkan.

Example 120x600