Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Identitas, Golongan, dan Fanatisme: Sebuah Tafsir Syahida

92
×

Identitas, Golongan, dan Fanatisme: Sebuah Tafsir Syahida

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan beragama adalah ketika agama yang diturunkan sebagai petunjuk persatuan justru berubah menjadi alat pembenaran perpecahan. Identitas, golongan, mazhab, bahkan nama-nama tokoh agama sering kali lebih dibela daripada nilai keadilan dan kebenaran itu sendiri. Al-Qur’an menyebut fenomena ini secara gamblang dan menjadikannya sebagai peringatan serius bagi umat manusia.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini berupaya membaca persoalan identitas dan fanatisme bukan melalui sejarah konflik atau polemik mazhab, melainkan langsung dari kesaksian Al-Qur’an atas dirinya sendiri.

Identitas: Untuk Dikenal, Bukan Diagungkan

Al-Qur’an mengakui keberagaman identitas manusia—suku, bangsa, dan latar sosial—namun menolak menjadikannya dasar keunggulan atau klaim kebenaran.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa identitas sosial bukan alat legitimasi moral atau teologis. Ketika identitas berubah menjadi simbol kesucian kelompok, di situlah Al-Qur’an melihat awal penyimpangan.

Golongan: Penyakit Lama Umat Manusia

Al-Qur’an secara konsisten mengkritik sikap beragama yang terpecah ke dalam golongan-golongan eksklusif.

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi berkelompok-kelompok, engkau (Muhammad) tidak bertanggung jawab sedikit pun terhadap mereka.”(QS. Al-An‘ām [6]: 159)

Ayat ini bukan sekadar kritik historis, tetapi pernyataan teologis yang tegas: pemecahan agama ke dalam golongan adalah pengkhianatan terhadap misi wahyu.

Pesan serupa ditegaskan kembali:

وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ • مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi berkelompok-kelompok; tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rūm [30]: 31–32)

Fanatisme golongan selalu melahirkan kepuasan diri (self-righteousness) dan menutup pintu koreksi.

Fanatisme: Ketika Nama Mengalahkan Nilai

Fanatisme muncul ketika loyalitas kepada nama—mazhab, tokoh, organisasi—mengalahkan loyalitas kepada kebenaran. Al-Qur’an menggambarkan mentalitas ini sebagai warisan kaum terdahulu.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka menjawab: tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini menjelaskan bahwa fanatisme bukan sekadar soal emosi, tetapi soal penolakan sadar terhadap wahyu demi menjaga identitas yang diwariskan.

Standar Qur’an: Kebenaran, Bukan Afiliasi

Al-Qur’an menetapkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah siapa yang diikuti, tetapi apa yang ditegakkan.

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَنْ تَقُومُوا لِلَّهِ
“Katakanlah: sesungguhnya aku hanya memperingatkan kamu dengan satu perkara, yaitu agar kamu bangkit karena Allah.”(QS. Saba’ [34]: 46)

“Bangkit karena Allah” berarti membebaskan diri dari belenggu loyalitas sempit dan berdiri di atas prinsip kebenaran dan keadilan.

Umat yang Satu: Visi yang Terabaikan

Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa umat manusia ditakdirkan untuk memiliki satu orientasi nilai.

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
“Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 92)

Namun kesatuan ini hancur bukan karena perbedaan, melainkan karena perebutan otoritas dan klaim kebenaran eksklusif.

Tafsir Syahida atas Fanatisme

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai saksi atas dirinya sendiri, menjadi jelas bahwa fanatisme identitas dan golongan bukanlah bagian dari iman, melainkan gejala penyimpangan yang berulang sepanjang sejarah.

وَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
“Mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ash-Shūrā [42]: 14)

Al-Qur’an tidak memanggil manusia untuk membela nama, tetapi untuk menegakkan nilai. Ia tidak mengajak pada fanatisme, melainkan pada kesaksian atas kebenaran.

Selama identitas lebih dibela daripada keadilan, dan golongan lebih dipertahankan daripada nilai Qur’ani, maka konflik akan terus diwariskan. Tafsir syahida mengingatkan: Al-Qur’an tidak berpihak pada siapa pun—kecuali pada kebenaran.

Example 120x600