ppmindonesia.com.Jakarta – Sekilas, hamparan perkebunan kelapa sawit tampak hijau dan rimbun. Tak jarang, kondisi itu dijadikan alasan untuk menyebut sawit sebagai “pengganti hutan”. Namun, di balik warna hijau yang seragam tersebut, para peneliti menegaskan bahwa kebun sawit sama sekali tidak dapat disamakan dengan hutan alam, baik dari sisi ekologi, hidrologi, maupun fungsi perlindungan lingkungan.
Perdebatan ini kembali mengemuka seiring meningkatnya bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatra, yang dalam dua dekade terakhir mengalami konversi hutan alam secara masif menjadi perkebunan sawit.
Produksi Sawit Tinggi, Tekanan Ekosistem Meningkat
Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Data Foreign Agricultural Service United States Department of Agriculture (USDA) periode 2024–2025 mencatat produksi minyak sawit Indonesia mencapai 46 juta ton per tahun, sekitar dua kali lipat dari Malaysia.
Produksi sawit nasional juga menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada periode 2013–2019, volume produksi melonjak dari 28 juta ton menjadi 47 juta ton. Namun, pertumbuhan ini diikuti perluasan lahan yang kerap berasal dari alih fungsi hutan alam, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Ekspansi tersebut meninggalkan jejak ekologis yang kian terasa: degradasi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, krisis air, serta meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
Ahli UGM: Hijau Sawit Bukan Hijau Hutan
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, menegaskan bahwa kebun sawit tidak bisa menggantikan fungsi ekologis hutan alam.
“Meski sawit sering diklaim tetap membuat lahan hijau, tapi sesungguhnya sama sekali berbeda dengan hijaunya hutan,” ujar Hatma
Menurut Hatma, hutan tropis memiliki struktur vegetasi yang sangat kompleks, baik secara vertikal maupun horizontal. Tajuk pohon berlapis, lantai hutan yang tertutup rapat oleh serasah, serta sistem perakaran yang beragam menciptakan ekosistem yang stabil dan resilien.
“Hutan menghasilkan kekasaran permukaan tanah yang tinggi, sehingga mampu menahan hujan dan mengendalikan aliran air. Kebun sawit tidak memiliki struktur seperti itu,” jelasnya.
Perbedaan Mendasar Hutan dan Kebun Sawit
Dari sudut pandang ekologi dan hidrologi, terdapat perbedaan mendasar antara hutan alam dan kebun sawit:
1. Struktur Vegetasi
Hutan alam memiliki tajuk berlapis dan beragam jenis tanaman, sementara kebun sawit bersifat monokultur dan homogen. Lantai kebun sawit umumnya dibersihkan untuk memudahkan panen, sehingga minim penutup tanah.
2. Daya Serap Air
Di hutan, hujan tertahan oleh tajuk dan serasah sebelum mencapai tanah. Struktur tanah yang kaya bahan organik dan makropori memungkinkan air meresap dengan baik.
Sebaliknya, di kebun sawit, tanah cenderung padat akibat penggunaan alat berat dan aktivitas panen.
“Infiltrasi air di kebun sawit jauh lebih rendah. Ketika hujan lebat, limpasan permukaan menjadi besar,” kata Hatma.
3. Keanekaragaman Hayati
Hutan hujan tropis menjadi rumah bagi sekitar 80–90 persen spesies dunia. Kebun sawit tidak mampu menyediakan habitat yang memadai bagi satwa liar, termasuk spesies endemik dan terancam punah seperti orangutan dan harimau Sumatra.
Dampak Lingkungan yang Mengikuti
Konversi hutan menjadi kebun sawit memicu serangkaian dampak ekologis jangka panjang, antara lain:
- Degradasi tanah, akibat hilangnya unsur hara dan pori-pori tanah.
- Erosi dan sedimentasi, yang merusak sungai dan meningkatkan risiko banjir.
- Emisi karbon, terutama jika pembukaan lahan dilakukan di kawasan gambut.
- Fragmentasi habitat, yang mengancam kelangsungan hidup satwa liar.
- Pencemaran air, akibat penggunaan pupuk dan pestisida.
Dampak-dampak tersebut tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah hilir.
Hutan Tersisa Harus Dipertahankan
Menjawab pertanyaan mengenai upaya pencegahan banjir dan longsor, Hatma menegaskan bahwa mempertahankan hutan alam yang tersisa merupakan langkah paling krusial.
“Hutan tersisa harus dipertahankan. Itu harga mati,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya memulihkan fungsi lindung kawasan hulu DAS dengan mengembalikan tutupan hutan, bukan sekadar menanam vegetasi monokultur.
Warna Hijau Kebun Sawit
Warna hijau kebun sawit kerap menimbulkan ilusi seolah-olah alam tetap terjaga. Padahal, dari sisi fungsi ekologis, kebun sawit tidak dapat menggantikan peran hutan alam. Struktur, keanekaragaman hayati, dan kemampuan mengendalikan air yang dimiliki hutan tidak bisa direplikasi oleh tanaman industri monokultur.
Di tengah meningkatnya produksi sawit nasional, tantangan terbesar Indonesia adalah menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan perlindungan ekosistem. Tanpa perlindungan serius terhadap hutan yang tersisa, “hijau” yang terlihat justru berpotensi menipu dan meninggalkan risiko bencana yang kian besar.



























