Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Ayat Dipahami Secara Utuh: Telaah Qur’an bil Qur’an tentang Ahladz-Dzikr

67
×

Ketika Ayat Dipahami Secara Utuh: Telaah Qur’an bil Qur’an tentang Ahladz-Dzikr

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam diskursus keagamaan, frasa “tanyakanlah kepada orang-orang yang mengetahui” kerap digunakan untuk menegaskan bahwa umat Islam harus bergantung kepada otoritas keagamaan tertentu dalam memahami Al-Qur’an. Ungkapan ini dinisbatkan pada ayat fas’alū ahladz-dzikr yang terdapat dalam QS. An-Nahl ayat 43 dan QS. Al-Anbiya ayat 7.

Namun persoalan mendasarnya bukan sekadar pada kutipan ayat, melainkan pada cara memahami ayat tersebut. Apakah benar Al-Qur’an memerintahkan ketergantungan kepada figur keagamaan? Ataukah ayat itu memiliki konteks dan makna yang lebih spesifik?

Pendekatan Qur’an bil Qur’an—menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri—menjadi metode penting untuk menghindari pemotongan makna dan distorsi pesan wahyu.

Al-Qur’an sebagai Petunjuk Langsung bagi Manusia

Al-Qur’an secara konsisten menegaskan dirinya sebagai petunjuk bagi manusia secara langsung:

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)

Petunjuk tersebut tidak dibatasi hanya bagi kalangan tertentu. Bahkan ditegaskan sebagai rahmat bagi mereka yang berbuat baik:

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ ۝ هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ
“Inilah ayat-ayat Kitab yang penuh hikmah, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Luqman [31]: 2–3)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an dimaksudkan untuk dipahami, direnungkan, dan dijadikan pedoman hidup oleh setiap individu beriman.

Membaca QS 21:7 Secara Lengkap

Ayat yang sering dijadikan rujukan berbunyi:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) kecuali orang-orang yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada Ahladz-Dzikr jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya [21]: 7)

Jika ayat ini dibaca secara terpisah, seolah-olah ia memerintahkan umat Islam untuk selalu bertanya kepada “orang yang mengetahui”. Namun, jika dibaca secara utuh dan kontekstual, maknanya menjadi lebih jelas dan terbatas.

Siapakah Ahladz-Dzikr dalam Al-Qur’an?

Secara bahasa, adz-dzikr (الذِّكْر) berarti peringatan atau kitab peringatan. Dalam Al-Qur’an, istilah ini digunakan untuk menyebut wahyu atau kitab suci.

Bahkan kaum penentang Nabi menggunakan istilah ini:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ
“Mereka berkata, ‘Wahai orang yang diturunkan kepadanya adz-dzikr, sungguh engkau benar-benar orang gila.’” (QS. Al-Hijr [15]: 6)

Allah juga berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-dzikr dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Dengan demikian, Ahladz-Dzikr secara Qur’ani merujuk kepada kaum pemilik kitab peringatan, yakni Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), bukan ulama dalam pengertian kelembagaan Islam kontemporer.

Konteks Historis Ayat

QS. Al-Anbiya ayat 7 turun untuk menjawab keraguan kaum musyrik Mekah yang mempertanyakan kenabian Muhammad karena beliau seorang manusia biasa.

Allah menegaskan bahwa para rasul sebelumnya pun manusia. Untuk memastikan fakta sejarah itu, kaum musyrik dipersilakan bertanya kepada Ahlul Kitab, yang memiliki pengetahuan tentang tradisi kenabian sebelumnya.

Kata sambung فَ (fa) pada frasa fas’alū menunjukkan hubungan logis dengan pernyataan sebelumnya, bukan perintah umum dalam seluruh urusan keagamaan.

Al-Qur’an Mendorong Tadabbur, Bukan Ketergantungan

Al-Qur’an justru berulang kali mendorong manusia untuk berpikir dan merenung secara mandiri:

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi kaum yang berpikir.” (QS. Yunus [10]: 24)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk peringatan; maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar [54]: 17)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa memahami Al-Qur’an adalah bagian dari tanggung jawab personal seorang mukmin.

Peringatan terhadap Pemutlakan Otoritas Agama

Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras terhadap kecenderungan memutlakkan otoritas keagamaan:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 31)

Ayat ini mengingatkan bahwa ketaatan tanpa nalar kritis dapat menyeret umat pada penyimpangan, meski dibungkus atas nama agama.

Mengembalikan Al-Qur’an pada Fungsi Aslinya

Telaah Qur’an bil Qur’an atas istilah Ahladz-Dzikr menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak dapat dijadikan dalih untuk menutup akses umat terhadap Al-Qur’an. Sebaliknya, ayat itu menegaskan pentingnya konteks, kejujuran intelektual, dan pembacaan utuh terhadap wahyu.

Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk yang hidup, membebaskan, dan mencerahkan. Ketika ayat dipahami secara utuh, Al-Qur’an tidak menjauhkan manusia dari tanggung jawab berpikir, melainkan justru mengundangnya untuk terlibat aktif dalam proses memahami dan mengamalkan pesan Ilahi.

Example 120x600