Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Al-Qur’an Menyampaikan Salam Natal: Telaah Qur’an bil Qur’an atas Kisah Isa Al-Masih

66
×

Ketika Al-Qur’an Menyampaikan Salam Natal: Telaah Qur’an bil Qur’an atas Kisah Isa Al-Masih

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang mengabadikan secara panjang dan utuh kisah kelahiran Isa Al-Masih dari seorang ibu suci bernama Maryam.

Surah Maryam tidak sekadar menghadirkan narasi sejarah spiritual, tetapi juga menyuguhkan pesan teologis, kemanusiaan, dan etika sosial yang relevan lintas zaman dan lintas iman.

Dalam kesendirian dan rasa sakit menjelang persalinan, Maryam bahkan mengungkapkan keputusasaan manusiawi:

فَأَجَاءَهَا ٱلْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ قَالَتْ يَـٰلَيْتَنِى مِتُّ قَبْلَ هَـٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Maka rasa sakit akan melahirkan itu memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.’” (QS Maryam [19]: 23)

Namun, dalam titik terendah itulah, pertolongan Ilahi hadir.

Penghiburan Ilahi dan Mukjizat Kelahiran

Allah menenangkan Maryam melalui wahyu-Nya:

فَنَادَىٰهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِى قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ۝ وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَـٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۝ فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًا

“Maka (Jibril) menyerunya dari tempat yang rendah, ‘Janganlah engkau bersedih hati, sungguh Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya ia akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan tenangkanlah hatimu.’” (QS Maryam [19]: 24–26)

Kisah ini menunjukkan bahwa kelahiran Isa bukan peristiwa biologis biasa, melainkan tanda (āyah) kekuasaan Allah sekaligus pemuliaan terhadap perempuan dan kemanusiaan.

Fitnah Sosial dan Pembelaan Ilahi

Maryam tidak luput dari kecaman sosial ketika kembali kepada kaumnya:

قَالُوا۟ يَـٰمَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْـًٔا فَرِيًّا ۝ يَـٰٓأُخْتَ هَـٰرُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ ٱمْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

“Mereka berkata, ‘Wahai Maryam, sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudara perempuan Harun, ayahmu bukanlah seorang yang jahat dan ibumu bukan pula seorang pezina.’” (QS Maryam [19]: 27–28)

Maryam memilih diam—sebuah diam yang diperintahkan wahyu. Dan di sinilah Al-Qur’an menampilkan salah satu mukjizat terbesar: bayi yang berbicara.

Kesaksian Isa dan Salam Natal Qur’ani

قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَـٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّا ۝ وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَـٰنِى بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمْتُ حَيًّا ۝ وَبَرًّۢا بِوَٰلِدَتِى وَلَمْ يَجْعَلْنِى جَبَّارًا شَقِيًّا

“Dia (Isa) berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi. Dia menjadikanku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkanku shalat dan zakat selama aku hidup, serta berbakti kepada ibuku.’” (QS Maryam [19]: 30–32)

Lalu ayat yang sering luput dari perbincangan publik:

وَٱلسَّلَـٰمُ عَلَىَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”
(QS Maryam [19]: 33)

Inilah salam kelahiran Isa—salam Natal dalam bahasa Al-Qur’an.

Qur’an bil Qur’an: Salam bagi Para Nabi

Jika salam ini dianggap istimewa, Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa salam juga diberikan kepada nabi-nabi lain:

سَلَـٰمٌ عَلَىٰ نُوحٍۢ فِى ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Salam sejahtera bagi Nuh di seluruh alam.” (QS Ash-Shaffat [37]: 79)

سَلَـٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
“Salam sejahtera bagi Ibrahim.” (QS Ash-Shaffat [37]: 109)

سَلَـٰمٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ
“Salam sejahtera bagi Musa dan Harun.” (QS Ash-Shaffat [37]: 120)

Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, salam bukanlah pengakuan ketuhanan, melainkan doa keselamatan Ilahi bagi hamba-hamba pilihan-Nya.

Isa, Muhammad, dan Misi Kemanusiaan

Isa menyebut dirinya ‘abdullah (hamba Allah). Muhammad SAW pun diperintahkan berkata:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

“Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku.” (QS Al-Kahfi [18]: 110)

Keduanya membawa misi pembebasan manusia dari penindasan, kebodohan, dan kemiskinan spiritual—sebuah pesan yang berkelindan dengan kalimatun sawā’:

قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

“Katakanlah, wahai Ahli Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu…” (QS Ali ‘Imran [3]: 64)

 Akidah yang Teguh, Kemanusiaan yang Luas

Perdebatan tentang ucapan “Selamat Natal” tidak bisa dilepaskan dari konteks akidah dan kearifan sosial. Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan pengaburan iman, tetapi juga tidak mengajarkan kekeringan kemanusiaan.

Selama seorang Muslim memahami Isa sebagaimana digambarkan Al-Qur’an—sebagai hamba dan nabi Allah—maka salam keselamatan yang diabadikan wahyu justru menjadi pengingat bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta.

سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

“Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadr [97]: 5)

Salam adalah bahasa langit. Dan Al-Qur’an telah lebih dahulu mengajarkannya.

Example 120x600