ppmindonesia.com.Jakarta – Pertanyaan “apakah menjadi Muslim harus menjadi Arab?” kerap muncul, baik secara tersurat maupun tersirat, dalam praktik keberagamaan umat Islam di berbagai belahan dunia.
Pertanyaan ini penting diajukan, bukan untuk mempertentangkan Islam dan budaya Arab, melainkan untuk menegaskan kembali pesan universal Al-Qur’an yang ditujukan bagi seluruh umat manusia.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini mengajak pembaca menelaah bagaimana Al-Qur’an memposisikan Islam, kenabian, dan keberagaman manusia secara utuh dan proporsional.
Islam Diturunkan untuk Seluruh Manusia
Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa risalah Islam tidak dibatasi oleh etnis, bahasa, atau wilayah geografis tertentu. Nabi Muhammad ﷺ diutus bukan hanya untuk satu kaum, melainkan untuk seluruh umat manusia:
قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
“Katakanlah (Muhammad): Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 158)
Seruan “yā ayyuhan-nās” (wahai manusia) menunjukkan cakupan universal risalah Islam. Dengan demikian, Islam tidak pernah dimaksudkan sebagai agama etnis atau budaya tertentu.
Bahasa Arab sebagai Media, Bukan Identitas Iman
Al-Qur’an memang diturunkan dalam bahasa Arab. Namun Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Arab bertujuan agar pesan wahyu dapat dipahami oleh masyarakat pertama yang menerimanya:
إِنَّآ أَنزَلْنَـٰهُ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Yūsuf [12]: 2)
Bahasa Arab dalam Al-Qur’an adalah sarana komunikasi wahyu, bukan standar etnis atau kultural bagi keislaman seseorang. Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa kedekatan kepada Allah ditentukan oleh bahasa atau budaya tertentu.
Keberagaman sebagai Tanda Kekuasaan Allah
Alih-alih menyeragamkan manusia, Al-Qur’an justru menegaskan bahwa perbedaan bahasa, warna kulit, dan budaya merupakan bagian dari kehendak dan tanda-tanda Allah:
وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian.”(QS. Ar-Rūm [30]: 22)
Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukan penghalang iman, melainkan bagian dari sunnatullah yang harus dihormati.
Ukuran Kemuliaan Bukan Budaya, tetapi Takwa
Al-Qur’an secara tegas menolak ukuran kemuliaan yang berbasis etnis atau identitas budaya:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)
Ayat ini menempatkan takwa sebagai satu-satunya ukuran kemuliaan, bukan cara berpakaian, bahasa sehari-hari, atau gaya hidup tertentu.
Teladan Nabi: Iman, Bukan Arabisasi
Dalam Al-Qur’an, Nabi Muhammad ﷺ dihadirkan sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik):
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzāb [33]: 21)
Ayat ini menegaskan bahwa teladan Nabi terletak pada iman, orientasi kepada Allah, dan kesadaran akhirat, bukan pada atribut kultural beliau sebagai seorang Arab.
Nabi Mengikuti Wahyu, Bukan Budaya
Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan bahwa otoritas beliau bersumber dari wahyu, bukan dari tradisi atau preferensi budaya:
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ
“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An‘ām [6]: 50)
Dengan demikian, mengikuti Nabi berarti mengikuti nilai-nilai wahyu, bukan meniru seluruh bentuk kehidupan sosial dan budaya Arab abad ke-7.
Islam dan Budaya Lokal: Harmoni, Bukan Penyeragaman
Dalam sejarahnya, Islam berkembang di berbagai wilayah dengan ekspresi budaya yang beragam: Afrika, Persia, Nusantara, hingga Eropa. Keislaman tidak menghapus budaya lokal, selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan prinsip tauhid dan keadilan.
Pendekatan Qur’ani ini menunjukkan bahwa Islam bersifat transformatif, bukan homogenisasi budaya.
Menjadi Muslim tidak berarti harus menjadi Arab. Al-Qur’an tidak mengajarkan arabisasi iman, melainkan universalisasi nilai tauhid, keadilan, dan ketakwaan. Bahasa Arab adalah bahasa wahyu, bukan identitas keimanan. Budaya Arab adalah konteks sejarah, bukan standar religius.
Melalui pembacaan Qur’an bil Qur’an, Islam tampil sebagai agama yang memuliakan keberagaman manusia, sekaligus mengikatnya dalam satu nilai utama: ketundukan kepada Allah.



























