Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Di Manakah Teladan Nabi?

58
×

Di Manakah Teladan Nabi?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

ppmindonesia.com.Jakarta – Ungkapan “Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik (uswatun hasanah)” merupakan salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam wacana keislaman.

Ayat ini menjadi dasar penting bagi umat Islam dalam memahami relasi antara keimanan, keteladanan Nabi, dan praktik keberagamaan sehari-hari. Namun, pertanyaan mendasarnya tetap relevan untuk diajukan: di manakah letak teladan Nabi itu sesungguhnya menurut Al-Qur’an?

Tulisan ini berupaya mengajak pembaca menelaah kembali makna uswatun hasanah melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, yakni membaca dan memahami ayat Al-Qur’an dengan merujuk pada ayat-ayat lain yang saling menjelaskan.

Nabi sebagai Rasul dan Nabi sebagai Manusia

Al-Qur’an menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang rasul, sekaligus manusia. Sebagai manusia, beliau hidup dalam ruang budaya dan sosial tertentu, memiliki kebiasaan, selera, dan preferensi yang wajar sebagaimana manusia lainnya. Hal-hal tersebut merupakan bagian dari sisi kemanusiaan beliau, bukan inti dari risalah kenabian.

Al-Qur’an sendiri menegaskan realitas keberagaman manusia sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَـٰتٍۢ لِّلْعَـٰلِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpengetahuan.”
(QS. Ar-Rūm [30]: 22)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan budaya, kebiasaan, atau ekspresi manusia, melainkan membimbing keberagaman itu dalam bingkai tauhid dan ketakwaan.

Makna Uswatun Hasanah dalam QS Al-Ahzab

Ayat yang menjadi pusat pembahasan berbunyi:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzāb [33]: 21)

Menarik untuk dicermati bahwa ayat ini memberikan batasan dan orientasi. Teladan Nabi dikaitkan secara langsung dengan: harapan kepada Allah, kesadaran akan hari akhir, dan intensitas mengingat Allah.

Dengan demikian, uswatun hasanah tidak dilepaskan dari dimensi iman dan spiritualitas, bukan sekadar pada aspek teknis atau kebiasaan keseharian.

Perbandingan Qur’ani: Teladan Nabi Ibrahim

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menjadi semakin jelas ketika kita menemukan ungkapan yang sama digunakan untuk Nabi Ibrahim:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ

“Sungguh, telah ada bagi kalian teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (QS. Al-Mumtaḥanah [60]: 4)

Dalam konteks Nabi Ibrahim, Al-Qur’an jelas tidak mengarahkan umat untuk meniru kebiasaan personal beliau, melainkan meneladani keteguhan tauhid, keberanian moral, dan kesetiaan kepada Allah meskipun menghadapi tekanan sosial dan risiko besar.

Karena istilah uswatun hasanah digunakan Al-Qur’an untuk kedua nabi tersebut, maka maknanya pun konsisten: teladan iman dan sikap batin, bukan peniruan budaya atau kebiasaan personal.

Nabi Tidak Menggeser Orientasi Tauhid

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa para nabi tidak pernah mengarahkan manusia untuk menjadikan mereka sebagai pusat pengabdian:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ

“Tidak patut bagi seorang manusia yang Allah beri Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Jadilah penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.’” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 79)

Ayat ini menegaskan bahwa orientasi risalah kenabian selalu kembali kepada Allah dan Kitab-Nya, bukan pada figur personal nabi itu sendiri.

“Aku Hanya Mengikuti Wahyu”

Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan posisi beliau:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Al-An‘ām [6]: 50)

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa keteladanan Nabi bersumber dari kepatuhan total terhadap wahyu, bukan dari preferensi manusiawi yang bersifat kontekstual.

Meneladani Nabi secara Substantif

Dalam konteks ini, meneladani Nabi berarti: meneladani keteguhan iman, kesabaran menghadapi ujian, keberanian menyampaikan kebenaran, komitmen pada keadilan dan rahmat, serta kepatuhan penuh kepada Al-Qur’an.

Pendekatan ini justru menguatkan makna keteladanan Nabi, karena menempatkannya pada level nilai dan prinsip, bukan pada simbol atau bentuk luar semata.

Al-Qur’an menghadirkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan iman, bukan sebagai figur yang harus ditiru secara kultural dan personal dalam setiap detail kehidupan. Uswatun hasanah adalah keteladanan dalam ketundukan kepada Allah dan kesetiaan kepada wahyu.

Dengan memahami teladan Nabi secara Qur’ani dan substantif, umat Islam diharapkan dapat menumbuhkan keberagamaan yang lebih sadar, dewasa, dan berorientasi pada nilai-nilai tauhid yang hakiki.

Example 120x600