Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Uswatun Hasanah dalam Dua Nabi

63
×

Uswatun Hasanah dalam Dua Nabi

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

Telaah Qur’an bil Qur’an atas Muhammad dan Ibrahim**

ppmindonesia.com.Jakarta – Istilah uswatun hasanah (teladan yang baik) merupakan konsep penting dalam Al-Qur’an yang kerap dijadikan rujukan dalam memahami keteladanan para nabi.

Namun, pemahaman terhadap istilah ini sering kali mengalami penyempitan makna, seolah-olah teladan kenabian identik dengan peniruan kebiasaan personal dan ekspresi budaya tertentu.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini mengajak pembaca menelaah makna uswatun hasanah sebagaimana digunakan Al-Qur’an untuk dua nabi besar, yakni Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim عليه السلام, guna menemukan esensi keteladanan yang sejati menurut Al-Qur’an.

Uswatun Hasanah pada Nabi Muhammad ﷺ

Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan yang baik dalam firman-Nya:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzāb [33]: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa uswatun hasanah pada diri Nabi Muhammad ﷺ tidak berdiri sendiri, melainkan dikaitkan dengan orientasi iman: berharap kepada Allah, kesadaran akan hari akhir, dan kedekatan spiritual melalui zikir. Dengan demikian, teladan Nabi terletak pada kualitas iman dan ketundukannya kepada Allah, bukan semata-mata pada bentuk lahiriah atau kebiasaan keseharian beliau sebagai manusia.

Uswatun Hasanah pada Nabi Ibrahim عليه السلام

Menariknya, istilah uswatun hasanah juga digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan keteladanan Nabi Ibrahim:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ

“Sungguh, telah ada bagi kalian teladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya…” (QS. Al-Mumtaḥanah [60]: 4)

Dalam konteks Nabi Ibrahim, Al-Qur’an tidak pernah mengarahkan umat untuk meniru kebiasaan pribadi atau aspek kultural beliau. Yang ditampilkan sebagai teladan adalah keteguhan tauhid, keberanian moral dalam menghadapi kemusyrikan, serta kesetiaan penuh kepada Allah meskipun harus berhadapan dengan risiko besar dan penolakan sosial.

Kesamaan istilah yang digunakan Al-Qur’an untuk Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim عليه السلام menegaskan bahwa uswatun hasanah merujuk pada nilai iman dan prinsip hidup, bukan pada detail teknis kehidupan personal.

Keteladanan Nabi dan Orientasi Tauhid

Al-Qur’an secara konsisten menegaskan bahwa para nabi tidak pernah mengalihkan orientasi manusia dari Allah kepada diri mereka:

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ ٱللَّهُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحُكْمَ وَٱلنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا۟ عِبَادًۭا لِّى مِن دُونِ ٱللَّهِ

“Tidak patut bagi seorang manusia yang Allah beri Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Jadilah penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah.’” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 79)

Ayat ini menegaskan bahwa keteladanan kenabian selalu mengarah pada penguatan tauhid, bukan pengultusan figur atau penyeragaman ekspresi keagamaan.

Nabi Muhammad ﷺ dan Kepatuhan kepada Wahyu

Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan bahwa seluruh sikap dan arah hidup beliau berpijak pada wahyu, bukan pada tradisi atau preferensi personal:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”
(QS. Al-An‘ām [6]: 50)

Pernyataan ini memperjelas bahwa keteladanan Nabi bersumber dari ketaatan total kepada wahyu, bukan dari aspek manusiawi yang bersifat kontekstual dan temporal.

Teladan Iman, Bukan Penyeragaman Budaya

Dengan memahami uswatun hasanah secara Qur’ani, jelas bahwa Al-Qur’an tidak menghendaki penyeragaman budaya, kebiasaan, atau gaya hidup. Keberagaman manusia justru ditegaskan sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah:

وَمِنْ ءَايَـٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَـٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulit kalian.” (QS. Ar-Rūm [30]: 22)

Ayat ini menguatkan bahwa keteladanan iman tidak bertentangan dengan keberagaman ekspresi manusia.

Melalui telaah Qur’an bil Qur’an, uswatun hasanah pada Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim عليه السلام menunjukkan satu pesan yang konsisten: keteladanan sejati terletak pada iman, tauhid, dan ketaatan kepada Allah, bukan pada peniruan kebiasaan personal atau budaya tertentu.

Dengan memahami keteladanan para nabi secara substantif, umat diharapkan mampu membangun keberagamaan yang lebih dewasa, berakar pada Al-Qur’an, serta selaras dengan realitas keberagaman masyarakat.

Example 120x600