Scroll untuk baca artikel
Sejarah

Kerajaan Perlak, Pelabuhan Islam Awal di Pesisir Aceh

62
×

Kerajaan Perlak, Pelabuhan Islam Awal di Pesisir Aceh

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

Wilayah Kerajaan Perlak (Steemit)

ppmindonesia.com. JakartaKerajaan Perlak atau Kesultanan Peureulak kerap disebut sebagai salah satu kerajaan bercorak Islam paling awal di Nusantara. Kesultanan ini berpusat di wilayah Perlak, Aceh Timur, dan diperkirakan berdiri sejak abad ke-9 Masehi, sekitar tahun 840 M, hingga akhir abad ke-13.

Letak geografis Perlak yang berada di pesisir timur Aceh, menghadap langsung jalur pelayaran Selat Malaka, menjadikannya pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan internasional. Sejak awal Masehi, wilayah ini telah ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari Arab, Persia, dan India.

Awal Masuknya Islam di Perlak

Sejarah awal Kerajaan Perlak banyak bersumber dari naskah tradisional seperti Hikayat Aceh dan sejumlah kronik Melayu. Dalam sumber-sumber tersebut disebutkan bahwa Islam masuk ke Perlak melalui rombongan dakwah dan pedagang dari Timur Tengah yang datang sekitar abad ke-9.

Salah satu tokoh yang kerap disebut adalah Sayyid Ali Al-Muktabar, bagian dari rombongan yang dikenal sebagai Nakhoda Khalifah. Ia kemudian menikah dengan perempuan lokal bernama Tansyir Dewi. Dari pernikahan tersebut lahir Allaidin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kemudian dikenal sebagai pendiri sekaligus sultan pertama Kerajaan Perlak.

Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah naik tahta pada tahun 840 Masehi dan wafat pada 864 Masehi. Dalam sejumlah catatan, ia disebut menganut mazhab Syiah, yang memengaruhi dinamika keagamaan dan politik di Perlak pada masa awal.

Konflik Internal dan Pembelahan Wilayah

Pada perkembangan selanjutnya, Perlak mengalami ketegangan internal akibat perbedaan mazhab antara pengikut Syiah dan Sunni. Konflik ini berujung pada Perjanjian Alue Meuh, yang membagi wilayah Perlak menjadi dua pemerintahan.

Perlak Baroh, yang beraliran Syiah, berpusat di wilayah pesisir, sementara Perlak Tunong, yang beraliran Sunni, berada di wilayah pedalaman. Pembelahan ini membuat posisi politik Perlak melemah.

Dalam sejumlah sumber sejarah, Perlak Baroh disebut pernah mendapat serangan dari kekuatan Sriwijaya. Setelah melewati periode konflik dan tekanan eksternal tersebut, Kesultanan Perlak akhirnya kembali bersatu di bawah satu pemerintahan.

Pelabuhan Niaga dan Pusat Penyebaran Islam

Puncak kejayaan Kerajaan Perlak terjadi pada abad ke-12 hingga ke-13, terutama pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin II (1230–1267 M). Pada masa ini, Perlak berkembang pesat sebagai pelabuhan niaga dan pusat penyebaran Islam di kawasan Sumatera bagian utara.

Perlak dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi yang banyak digunakan untuk pembuatan kapal. Komoditas ini menjadikan Perlak sebagai pelabuhan penting yang ramai disinggahi kapal-kapal besar dari Arab dan Persia.

Aktivitas perdagangan turut mempercepat proses Islamisasi. Para saudagar Muslim yang singgah di Perlak menjalin hubungan sosial dan perkawinan dengan penduduk lokal, sehingga ajaran Islam menyebar secara damai dan bertahap di wilayah pesisir Aceh.

Kemunduran dan Penyatuan dengan Samudera Pasai

Memasuki akhir abad ke-13, Kerajaan Perlak mulai mengalami kemunduran. Setelah wafatnya Sultan terakhir, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan, stabilitas politik kerajaan terganggu. Aktivitas perdagangan perlahan menurun dan para saudagar mulai meninggalkan pelabuhan Perlak.

Pada akhirnya, Kerajaan Perlak bergabung dengan Kesultanan Samudera Pasai. Proses penyatuan ini berlangsung tanpa konflik bersenjata, karena Raja Samudera Pasai memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan Perlak.

Sejak saat itu, Perlak tidak lagi berdiri sebagai kerajaan merdeka dan menjadi bagian dari kekuasaan Samudera Pasai, yang kemudian dikenal luas sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara dengan bukti arkeologis yang lebih kuat.

Posisi Perlak dalam Sejarah Nusantara

Meski sering disebut sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara, keberadaan Kerajaan Perlak masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Keterbatasan bukti arkeologis membuat sebagian peneliti lebih berhati-hati dalam menempatkan Perlak sebagai kerajaan Islam pertama.

Namun demikian, Perlak tetap memiliki peran penting dalam sejarah Islam Nusantara, terutama sebagai pelabuhan awal yang menjadi pintu masuk interaksi dagang, budaya, dan dakwah Islam di pesisir Aceh.

Sejarah Kerajaan Perlak menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung secara gradual, melalui jalur maritim dan perdagangan, jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam besar di kawasan ini. (emha)

Example 120x600