Scroll untuk baca artikel
BeritaKesehatan

Dari Meja Makan ke Pembuluh Darah: Literasi Gizi untuk Menekan Kolesterol Tinggi

8
×

Dari Meja Makan ke Pembuluh Darah: Literasi Gizi untuk Menekan Kolesterol Tinggi

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

Sehat Dimulai dari Piring Keluarga" Jangan abaikan pola makan harian. Kolesterol tinggi adalah pemicu utama stroke dan gagal ginjal yang sering kali luput dari perhatian hingga terlambat.

ppmindonesia.com.Jakarta  — Kolesterol tinggi masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang kerap luput dari perhatian. Tanpa gejala yang jelas, kondisi ini perlahan merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal. Padahal, sebagian besar pemicunya berawal dari kebiasaan sederhana yang terjadi setiap hari: pola makan di meja keluarga.

Kolesterol sejatinya merupakan lemak yang dibutuhkan tubuh. Zat ini diproduksi secara alami oleh hati dan berperan penting dalam pembentukan sel, hormon, serta vitamin D. Namun, ketika asupan kolesterol dan lemak jenuh berlebihan tidak diimbangi gaya hidup sehat, kolesterol justru menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak yang menyempitkan aliran darah.

Pola Makan dan Rendahnya Literasi Gizi

Di banyak komunitas, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh masih menjadi bagian dari kebiasaan harian. Gorengan, jeroan, daging berlemak, makanan cepat saji, serta produk olahan dengan lemak trans mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Sayangnya, minimnya literasi gizi membuat masyarakat kerap tidak menyadari dampak jangka panjang dari pola makan tersebut.

Kolesterol jahat atau LDL yang berlebihan akan menempel pada dinding arteri dan memicu aterosklerosis. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada penyakit jantung koroner, serangan jantung, dan stroke—penyakit tidak menular yang kini menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“Masalah kolesterol tinggi bukan semata soal medis, tetapi soal perilaku dan pengetahuan,” ujar seorang pegiat kesehatan masyarakat. Menurutnya, perubahan kecil di meja makan dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan pembuluh darah.

Dari Meja Makan ke Pembuluh Darah

Apa yang dikonsumsi setiap hari secara langsung memengaruhi kondisi pembuluh darah. Lemak jenuh dan lemak trans meningkatkan kadar LDL, sementara serat, lemak sehat, dan aktivitas fisik membantu menurunkan kolesterol jahat sekaligus meningkatkan kolesterol baik (HDL).

Makanan berserat tinggi seperti sayur, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan berperan menghambat penyerapan kolesterol di usus. Sementara itu, sumber lemak sehat seperti ikan berlemak, alpukat, dan minyak zaitun terbukti membantu menjaga keseimbangan lipid dalam darah.

Sebaliknya, metode memasak yang tidak sehat—seperti menggoreng dengan minyak berulang atau deep frying—justru memperparah risiko kolesterol tinggi. Literasi gizi menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya kenyang, tetapi juga sehat.

Peran Aktivitas Fisik dan Gaya Hidup

Selain pola makan, gaya hidup kurang gerak turut mempercepat penumpukan kolesterol. Aktivitas fisik yang minim menurunkan kadar HDL dan memperlambat pembakaran lemak. Padahal, olahraga ringan seperti berjalan cepat 30 menit sehari sudah cukup membantu tubuh mengelola kolesterol dengan lebih baik.

Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan juga memperburuk kondisi pembuluh darah. Rokok merusak lapisan arteri dan menurunkan kolesterol baik, sementara alkohol memicu peningkatan trigliserida dalam darah.

Literasi Gizi sebagai Strategi Pencegahan

Kolesterol tinggi dapat dicegah melalui pendekatan promotif dan preventif berbasis masyarakat. Edukasi gizi di tingkat keluarga, sekolah, dan komunitas menjadi langkah penting untuk menekan angka penyakit tidak menular.

Pencegahan tidak selalu membutuhkan biaya besar. Mengurangi gorengan, memperbanyak sayur dan buah, bergerak lebih aktif, serta melakukan pemeriksaan kolesterol secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, literasi gizi bukan hanya soal memilih makanan sehat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan pembuluh darah dimulai dari keputusan sehari-hari di meja makan.

Kolesterol tinggi bukan takdir. Dengan pengetahuan yang tepat dan perubahan kebiasaan secara bertahap, risiko penyakit serius dapat ditekan, dan kualitas hidup masyarakat pun meningkat. (emha)

Example 120x600