Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Etika, Moral dan Akhlak Mulia Sebagai Penakar Kelayakan Bagi Seorang Pemimpin Untuk Rakyat

7
×

Etika, Moral dan Akhlak Mulia Sebagai Penakar Kelayakan Bagi Seorang Pemimpin Untuk Rakyat

Share this article

Penulis: jacob ereste| editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Jika laku spiritual hanya mungkin berlangsung dengan baik melalui penegakan etika, moral, dan akhlak yang benar, maka dengan mudah dapat dipahami betapa pentingnya ketiganya dalam mengantarkan manusia menuju puncak kesadaran spiritual. Laku spiritual tidak dapat dipisahkan dari perilaku nyata, sebab ia harus dibimbing oleh tindakan yang baik dan benar, berlandaskan nilai-nilai moral serta prinsip etika yang tidak hanya dapat diterima oleh sesama manusia, tetapi juga selaras dengan alam dan kehendak Sang Pencipta jagat raya.

Dasar utama dari etika adalah kejujuran. Kejujuran menuntut kesederhanaan dan kebersahajaan dalam berbicara maupun bertindak, sehingga apa yang diucapkan selaras dengan perbuatan dan sesuai dengan kenyataan. Dengan kejujuran, seseorang tidak terjebak dalam kepalsuan, karena ia berani menanggung konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakannya sendiri.

Selain kejujuran, etika juga menjunjung tinggi keadilan. Keadilan bukan hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Berlaku adil terhadap diri sendiri berarti tidak memanipulasi nurani, tidak menipu kesadaran batin, serta tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi. Dalam keadilan yang demikian, sikap sopan santun, penghormatan terhadap hak orang lain, serta kepekaan terhadap perasaan sesama akan tetap terjaga.

Yang tak kalah penting adalah tanggung jawab. Setiap tindakan dan keputusan harus diakui sebagai hasil dari pilihan sadar diri sendiri, tanpa kecenderungan menyalahkan pihak lain. Inilah wujud kemuliaan manusia yang tekun menjalani laku spiritual dengan martabat—menghargai dan menghormati hak serta martabat orang lain. Pada hakikatnya, etika berperan besar dalam membantu manusia mengambil keputusan yang terbaik: bukan hanya benar bagi dirinya sendiri, tetapi juga baik dan adil bagi orang lain.

Karena itu, etika menjadi unsur penting dalam membangun kepercayaan—baik kepercayaan antarindividu maupun kepercayaan publik terhadap lembaga dan institusi. Ketika etika dijaga, tercipta kondisi sosial yang kondusif, lingkungan yang positif, serta hubungan yang harmonis dalam kehidupan bersama.

Dalam konteks politik, etika, moral, dan akhlak mulia bahkan berfungsi sebagai semacam jaminan moral bagi seorang pemegang kekuasaan. Etika menjadi modal sosial yang menentukan apakah seorang politisi layak dipercaya atau justru menjadi sasaran cemooh dan kekecewaan publik akibat kebijakan dan praktik politik yang menipu serta merugikan rakyat.

Oleh sebab itu, transparansi dalam pengambilan keputusan dan penggunaan kekuasaan harus senantiasa merujuk pada kepentingan rakyat. Demikian pula akuntabilitas, yakni kesiapan untuk mempertanggungjawabkan setiap kebijakan dan tindakan di hadapan publik, serta membuka ruang bagi kritik dan penilaian rakyat. Tanpa itu, keadilan mudah tercemar oleh praktik diskriminasi dan penyalahgunaan wewenang.

Pada akhirnya, etika merupakan penanda utama perilaku manusia yang bermoral dan berakhlak mulia—sebagai makhluk yang dipercaya memikul amanah sebagai wakil Tuhan di bumi. Karena itu, tidaklah berlebihan jika etika, moral, dan akhlak mulia dijadikan tolok ukur utama untuk menilai kelayakan seseorang, terutama pemimpin publik, dalam mengemban kepercayaan dan tanggung jawab rakyat. (jacob ereste)

Example 120x600