Scroll untuk baca artikel
BeritaSejarah

Menyambung Jejak Diponegoro: Silaturahmi, Wakaf Sejarah, dan Pesantren di Brangkal

11
×

Menyambung Jejak Diponegoro: Silaturahmi, Wakaf Sejarah, dan Pesantren di Brangkal

Share this article

Penulis: m habib chirzin| Editor: asyary

Catatan reflektif Mas Habib Chirzin,

ppmindonesia,com. Jakarta – Rumah di Jalan Borobudur Km 3 No. 88 siang itu menjadi ruang perjumpaan yang hangat sekaligus sarat makna sejarah. Saya menerima kunjungan silaturahmi Mudir dan Dewan Asatidz Pesantren Muhammadiyah Diponegoro, Brangkal, Klopogodo, Gombong, yang didampingi oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gombong serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kebumen.

Silaturahmi berlangsung dalam suasana akrab. Setelah makan siang bersama dan menunaikan shalat Dzuhur, dialog dilanjutkan dengan kunjungan ke Pondok Pabelan. Percakapan yang mengalir bukan sekadar obrolan kelembagaan, melainkan perbincangan tentang sejarah, amanah wakaf, pendidikan, dan kesinambungan nilai perjuangan.

Pesantren Muhammadiyah Diponegoro sendiri berdiri di atas tanah wakaf keluarga besar dr. Atikah Muslim. Wakaf ini bukan wakaf biasa, melainkan tanah yang memiliki jejak sejarah panjang perjuangan bangsa. Keluarga wakif di antaranya adalah Prof. Dr. dr. Rifki Muslim—mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang—serta Drs. Faesol Muslim, tokoh yang pernah mengabdi sebagai pejabat UNICEF. Mereka merupakan keturunan langsung Pangeran Diponegoro.

Pengembangan pesantren ini dilakukan bersama keluarga Ustadzah Washiyati binti Kyai Dahlan, seorang tokoh Masyumi dan Muhammadiyah di Klopogodo, yang sejak awal memiliki perhatian besar pada pendidikan dan kaderisasi umat.

Dalam penuturannya, dr. Atikah Muslim—mantan Direktur RSI Pondok Kopi, Jakarta Timur—menyampaikan kesaksian sejarah keluarga yang jarang terdengar di ruang publik.

“Saya ini keturunan BRA Maryam, adik Pangeran Diponegoro, putri HB II. Pada tahun-tahun terakhir perlawanan Pangeran Diponegoro, beliau tinggal di padepokan adiknya di Desa Brangkal, Gombong, di rumah adik iparnya yang seorang ulama,” tutur dr. Atikah.

Ia melanjutkan, sisa-sisa padepokan tersebut beserta seluruh tanah warisan keluarga kini telah diserahkan sepenuhnya kepada Muhammadiyah. Di atasnya kini berdiri TK Aisyiyah, MI Muhammadiyah, dan Pesantren Tahfidz Muhammadiyah “Diponegoro”.

“Dulu banyak peninggalan Diponegoro berada di rumah Simbah Kyai Syiradj—seperti amben, tombak, pelana kuda—namun semuanya sudah diserahkan ke Museum Diponegoro di Magelang. Bahkan di amben itu, ibu saya melahirkan kakak-kakak saya,” kenangnya.

Keterangan tersebut disampaikan dr. Atikah melalui komentar di media sosial, lalu dilanjutkan dengan komunikasi personal melalui WhatsApp. Sebuah kesaksian yang memperlihatkan bagaimana sejarah besar bangsa ini tidak hanya hidup di buku dan museum, tetapi juga mengalir dalam memori keluarga dan kini diterjemahkan menjadi amal jariyah pendidikan.

Pesantren Diponegoro di Brangkal bukan sekadar lembaga tahfidz. Ia adalah simpul sejarah, wakaf, dan gerakan dakwah pencerahan. Di tempat itulah jejak perjuangan Diponegoro disambung bukan dengan senjata, melainkan dengan ilmu, akhlak, dan pendidikan umat.

Semoga silaturahmi ini menjadi penguat ikhtiar bersama dalam merawat warisan sejarah, memperluas manfaat wakaf, dan meneguhkan pendidikan sebagai jalan perjuangan yang berkelanjutan.

Semoga bermanfaat dan membawa keberkahan.

Example 120x600