Scroll untuk baca artikel
BeritaEkonomi

Membedah “Brankas Raksasa” di Ujung Barat: Antara Tabir Geologi dan Rebutan Ekonomi Global di Aceh

42
×

Membedah “Brankas Raksasa” di Ujung Barat: Antara Tabir Geologi dan Rebutan Ekonomi Global di Aceh

Share this article

Penulis: Bambang Suhada| Editor: asyary

ppmindonesia.com. Lampung  — Selama dua dekade terakhir, narasi publik mengenai Aceh selalu didominasi oleh trauma tsunami dan posisi geografisnya di atas patahan aktif Semangko. Namun, di balik kerentanan geologis tersebut, muncul tabir baru yang lebih kompleks: Aceh bukan sekadar “episentrum bencana”, melainkan diduga merupakan “brankas energi” terakhir di Asia Tenggara yang kini tengah diperebutkan oleh kekuatan geopolitik global.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa potensi sumber daya alam (SDA) di Serambi Mekkah telah melampaui angka ribuan triliun rupiah, memicu pertanyaan krusial: Apakah rentetan bencana dan kebijakan relokasi penduduk merupakan murni fenomena alam, atau bagian dari skenario penguasaan ruang untuk eksploitasi besar-besaran?

Blok Andaman: Cadangan Migas yang “Membangunkan” Raksasa

Sejumlah dokumen eksplorasi menunjukkan cadangan minyak di lepas pantai Aceh, khususnya di Blok Andaman II dan III, diperkirakan mencapai 30 miliar barel. Jika angka ini tervalidasi sepenuhnya, Aceh akan memegang kendali atas hampir 1/8 cadangan minyak Arab Saudi.

Saat ini, status cadangan tersebut masih dikategorikan sebagai frontier atau belum terjamah secara masif. Namun, nilai kontrak investasi yang mencapai 42 miliar dolar AS dari pemain global menjadi sinyal bahwa mata dunia tengah tertuju ke laut utara Aceh. Secara teoritis, dengan produksi moderat, wilayah ini mampu menyumbang pendapatan negara hingga ratusan triliun rupiah per tahun.

Emas Aluvial Gayo: Konsentrasi yang Melampaui Standar Global

Temuan pasca-banjir besar pada akhir 2025 di Gayo Lues dan Aceh Tenggara membuka tabir kekayaan mineral yang mengejutkan. Hasil uji laboratorium terhadap sampel pasir sungai menunjukkan kadar emas aluvial sebesar 15 hingga 42 gram per ton.

“Angka ini anomali. Sebagai perbandingan, tambang emas komersial skala global umumnya hanya beroperasi pada kadar 4–8 gram per ton. Di Aceh, kadarnya mencapai lima kali lipat lebih tinggi,” ungkap seorang praktisi geologi yang enggan disebutkan namanya.

Diestimasi, terdapat sekitar 1.200 hingga 1.800 ton cadangan emas yang tersebar di sepanjang aliran sungai purba di pegunungan Leuser, dengan nilai valuasi mencapai Rp120 triliun.

Nikel dan Tembaga: Poros Baru Industri EV Dunia

Aceh kini juga masuk dalam peta persaingan industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Cadangan nikel laterit di Aceh Tengah diperkirakan mencapai 1,8 miliar ton dengan kadar tinggi (1,8–2,4%).

  • Valuasi Ekonomi: Diestimasi mencapai Rp7.000 triliun.
  • Geopolitik: Laporan menunjukkan pergeseran penguasaan konsesi di mana korporasi besar asal China mulai mendominasi peta perizinan tambang nikel di wilayah ini.

Tak hanya nikel, Blok Beutong di Aceh Barat kerap dijuluki sebagai “Grasberg Kedua”. Wilayah ini menyimpan cadangan 12 juta ton tembaga dan 800 ton emas, menyerupai karakteristik kekayaan PT Freeport di Papua sebelum dieksploitasi besar-besaran.

Strategi “Cleansing” atau Mitigasi Bencana?

Poin yang paling memicu perdebatan adalah dugaan penggunaan narasi bencana (banjir dan longsor) sebagai alat untuk meminimalkan resistensi penduduk lokal atau Cleansing of Local Resistance.

Analisis spekulatif namun berdasar menyebutkan bahwa untuk memobilisasi alat berat pertambangan pada tahun 2027, diperlukan area yang “bersih” dari permukiman padat. Dengan pola relokasi pasca-bencana dan kompensasi yang minimal, muncul kekhawatiran bahwa masyarakat adat perlahan-lahan kehilangan hak atas tanah mereka tepat sebelum industri raksasa masuk.

Kedaulatan di Simpang Jalan

Secara matematis, jika seluruh potensi ini dikelola dengan prinsip kedaulatan penuh, Aceh memiliki kapasitas ekonomi untuk melampaui kemakmuran gabungan Singapura dan Qatar. Namun, sejarah mencatat bahwa kekayaan sumber daya alam seringkali menjadi kutukan jika tidak dibarengi dengan transparansi dan perlindungan terhadap masyarakat lokal.

Masyarakat Aceh kini berdiri di simpang jalan: Menghadapi bencana sebagai takdir geologis, atau mulai melihatnya sebagai bagian dari dinamika penguasaan lahan di atas “Brankas Asia Tenggara” yang sedang diperebutkan. (bmabang suhada)

Example 120x600