ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah kehidupan keberagamaan umat Islam, praktik berdoa di kuburan, mengucapkan salam kepada orang yang telah wafat, hingga keyakinan bahwa para penghuni kubur dapat mendengar dan merespons doa manusia hidup masih banyak dijumpai. Praktik ini kerap dipandang sebagai bagian dari tradisi religius dan ekspresi kecintaan kepada orang-orang saleh.
Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: bagaimana Al-Qur’an sendiri memposisikan relasi antara doa, orang mati, dan tauhid? Apakah keyakinan populer tersebut benar-benar memiliki landasan Qur’ani yang kokoh?
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini mencoba menguji ulang keyakinan tersebut dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama dan saling menjelaskan antarayat.
Doa dalam Perspektif Tauhid Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an, doa bukan sekadar permohonan, melainkan inti dari ibadah dan manifestasi tauhid. Doa selalu diarahkan langsung kepada Allah tanpa perantara makhluk.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”
(QS. Ghafir [40]: 60)
Ayat ini menegaskan relasi langsung antara hamba dan Tuhan. Tidak ada indikasi bahwa doa membutuhkan media orang saleh yang telah wafat atau penghuni kubur sebagai penghubung spiritual.
Orang Mati dan Terputusnya Akses Duniawi
Al-Qur’an secara konsisten menyatakan bahwa kematian adalah pemisah total antara manusia dan dunia kehidupan. Orang mati tidak lagi berada dalam sistem komunikasi duniawi.
إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ ٱلْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا وَلَّوْا۟ مُدْبِرِينَ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat membuat orang-orang mati mendengar, dan engkau tidak dapat membuat orang-orang tuli mendengar seruan apabila mereka berpaling dan pergi.”
(QS. An-Naml [27]: 80)
Penegasan ini diperkuat dalam ayat lain:
وَمَآ أَنتَ بِمُسْمِعٍۢ مَّن فِى ٱلْقُبُورِ
“Dan engkau tidak dapat membuat orang-orang yang ada di dalam kubur mendengar.”
(QS. Fathir [35]: 22)
Ayat-ayat ini menutup asumsi bahwa orang mati masih memiliki kesadaran terhadap ucapan, salam, atau doa manusia hidup.
Kubur sebagai Tempat Penantian, Bukan Ruang Interaksi
Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah wafat, manusia berada dalam fase penantian menuju Hari Kebangkitan. Fase ini bukan kehidupan aktif yang memungkinkan interaksi lintas alam.
حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ
“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia).’”
(QS. Al-Mu’minun [23]: 99)
Permohonan ini ditolak, menandakan bahwa akses kembali ke dunia telah tertutup sepenuhnya. Kubur bukanlah ruang dialog, melainkan fase transisi menuju kebangkitan.
Kesalahpahaman tentang Ayat Syuhada
Ayat tentang kehidupan para syuhada sering dijadikan dalih bahwa orang mati masih hidup dan sadar terhadap dunia.
وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapat rezeki.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 169)
Namun ayat ini berbicara tentang status akhirat mereka di sisi Allah, bukan tentang kemampuan mendengar doa atau berinteraksi dengan dunia manusia. Dalam konteks dunia, kematian tetap berlaku atas semua manusia.
كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ
“Setiap jiwa pasti merasakan kematian.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 35)
Peringatan Keras terhadap Doa kepada Selain Allah
Al-Qur’an memberikan peringatan tegas terhadap praktik memohon kepada selain Allah, termasuk kepada orang-orang yang telah wafat.
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ
“Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat mengabulkan doanya sampai Hari Kiamat?”
(QS. Al-Ahqaf [46]: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa doa kepada yang telah wafat—meskipun dengan niat baik—berpotensi menggeser kemurnian tauhid.
Tauhid sebagai Inti Reformasi Keyakinan
Al-Qur’an tidak melarang ziarah kubur sebagai sarana refleksi kematian, tetapi menegaskan bahwa doa, permohonan, dan harapan hanya ditujukan kepada Allah. Relasi spiritual dengan para nabi dan orang saleh bukan dibangun melalui kubur, melainkan melalui keteladanan dan iman yang sama.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah [1]: 5)
Kajian Qur’an bil Qur’an ini menunjukkan bahwa doa kepada orang mati tidak memiliki landasan Al-Qur’an yang kokoh. Keyakinan populer perlu diuji ulang agar tidak menjauhkan umat dari prinsip tauhid yang murni.
Menghormati orang mati adalah bagian dari adab, tetapi mengalihkan doa dan harapan kepada mereka bukan ajaran Al-Qur’an. Tauhid menuntut kejelasan arah ibadah: dari hamba, langsung kepada Allah—tanpa perantara yang telah terputus dari dunia. (syahida)



























