Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika “Takdir” Disalahpahami

39
×

Ketika “Takdir” Disalahpahami

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

Membaca Ulang QS Ibrahim 14:4 dengan Metode Al-Qur’an Menafsirkan Al-Qur’an

ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu persoalan teologis yang paling sering memicu kebingungan umat adalah soal takdir, kehendak Allah, dan tanggung jawab manusia. Di tengah pemahaman populer, kerap muncul anggapan bahwa seluruh perbuatan manusia—baik maupun buruk—telah ditentukan sebelumnya oleh Allah.

Bahkan, tidak jarang kesesatan dan kejahatan manusia pun dianggap sepenuhnya sebagai “kehendak Tuhan”.

Pemahaman semacam ini sering bersandar pada penggalan ayat:

“Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS Ibrahim [14]: 4)

Namun, benarkah ayat ini bermakna bahwa manusia tidak memiliki kebebasan memilih? Apakah Allah sengaja menyesatkan manusia, lalu menghukumnya atas kesesatan tersebut?

Melalui pendekatan Al-Qur’an bil Qur’an, tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa pemahaman fatalistik tersebut tidak sejalan dengan keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Ayat Kunci dan Kesalahpahaman yang Muncul

Ayat lengkap QS Ibrahim [14]: 4 berbunyi:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Masalah muncul ketika ayat ini dipotong dari konteks keseluruhan Al-Qur’an, lalu dipahami secara literal tanpa mempertimbangkan ayat-ayat lain yang berbicara tentang ikhtiar, tanggung jawab, dan keadilan Allah.

Al-Qur’an Menegaskan Adanya Kebebasan Memilih

Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa manusia diberi pilihan sadar dalam menerima atau menolak kebenaran:

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

“Katakanlah: Kebenaran itu datang dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir.”
(QS Al-Kahfi [18]: 29)

Demikian pula:

إِنَّا هَدَيْنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًۭا وَإِمَّا كَفُورًۭا

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS Al-Insan [76]: 3)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa hidayah ditawarkan, bukan dipaksakan, dan manusia bertanggung jawab atas pilihannya.

Kesesatan Selalu Didahului oleh Sikap Manusia

Dalam Al-Qur’an, kesesatan tidak pernah digambarkan sebagai tindakan sewenang-wenang Allah. Justru sebaliknya, kesesatan adalah akibat dari pilihan manusia sendiri:

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka ketika mereka berpaling, Allah pun memalingkan hati mereka.”
(QS Ash-Shaff [61]: 5)

Prinsip yang sama ditegaskan dalam ayat lain:

وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَـٰسِقِينَ

“Dan dengan itu Allah tidak menyesatkan kecuali orang-orang yang fasik.”
(QS Al-Baqarah [2]: 26)

Artinya, Allah menyesatkan dalam kerangka keadilan, bukan sebagai sebab awal, melainkan sebagai konsekuensi atas sikap pembangkangan.

Hidayah Bertambah Seiring Ikhtiar

Sebaliknya, Al-Qur’an menjanjikan tambahan petunjuk bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran:

وَٱلَّذِينَ ٱهْتَدَوْا۟ زَادَهُمْ هُدًۭى وَءَاتَىٰهُمْ تَقْوَىٰهُمْ

“Dan orang-orang yang menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka.”
(QS Muhammad [47]: 17)

Bahkan, perjuangan aktif disebut sebagai syarat datangnya bimbingan Ilahi:

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS Al-‘Ankabut [29]: 69)

Balasan Sesuai Perbuatan, Bukan Takdir Buta

Al-Qur’an berkali-kali menegaskan bahwa balasan selalu sebanding dengan amal, bukan akibat takdir yang dipaksakan:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS An-Najm [53]: 39)

مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَنْ أَسَآءَ فَعَلَيْهَا

“Barang siapa berbuat baik, maka untuk dirinya sendiri; dan barang siapa berbuat jahat, maka atas dirinya sendiri.”
(QS Al-Jatsiyah [45]: 15)

Kehendak Allah dan Tanggung Jawab Manusia

Melalui pembacaan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, jelas bahwa:

  1. Manusia memiliki kebebasan memilih
  2. Allah menetapkan hukum sebab-akibat moral
  3. Kesesatan adalah akibat penolakan, bukan paksaan
  4. Hidayah adalah respons atas kejujuran dan ikhtiar

Maka menyalahkan Allah atas kesesatan diri sendiri justru bertentangan dengan keadilan-Nya.

Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an:

مَآ أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍۢ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍۢ فَمِن نَّفْسِكَ

“Apa saja kebaikan yang menimpamu, maka itu dari Allah; dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka itu dari dirimu sendiri.”
(QS An-Nisa [4]: 79)

Allah tidak menyesatkan manusia secara zalim, dan manusia tidak diciptakan untuk menjadi korban takdir. Jalan telah dijelaskan, pilihan telah diberikan, dan tanggung jawab tidak bisa dialihkan.

Inilah pesan keadilan Al-Qur’an—ketika ia dibaca secara utuh, saling menafsirkan, dan bebas dari fatalisme. (syahida)

Example 120x600