Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Asrā Bukan Isrā’: Membongkar Kesalahpahaman QS Al-Isrā’ Ayat 1

31
×

Asrā Bukan Isrā’: Membongkar Kesalahpahaman QS Al-Isrā’ Ayat 1

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

Jakarta.PPMIndonesia.com– Peringatan Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu tradisi keagamaan yang paling populer di Indonesia. Setiap tahun, kisah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat, disampaikan dari mimbar ke mimbar. Kisah ini bahkan telah begitu mengakar hingga anak-anak pun hafal alurnya.

Namun, tradisi ini tidak ditemukan secara serupa di banyak negeri Muslim lain. Bahkan pernah beredar kabar, sejumlah warga Indonesia ditegur aparat keamanan Arab Saudi karena menggelar acara Isra’ Mi‘raj sebagaimana lazim dilakukan di Tanah Air. Fakta ini mengundang pertanyaan mendasar: apakah pemahaman Isra’ Mi‘raj yang populer selama ini benar-benar bersumber dari Al-Qur’an?

Tulisan ini mencoba menelaah ulang QS Al-Isrā’ [17]:1 dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an (kajian Syahida)—yakni membaca Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri—tanpa menafikan tradisi, tetapi dengan menempatkan wahyu sebagai rujukan utama.

Menyoal Landasan QS Al-Isrā’ Ayat 1

Ayat yang selama ini dijadikan dasar kisah Isra’ Mi‘raj berbunyi:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Dia yang telah asrā hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS Al-Isrā’ [17]:1)

Masalah utama terletak pada kata “asrā”. Selama ini, kata tersebut hampir selalu dipahami sebagai “memperjalankan secara fisik”. Namun, Al-Qur’an sendiri memberikan petunjuk makna yang berbeda.

Makna Asrā dalam Al-Qur’an

Kata asrā hanya digunakan Al-Qur’an tiga kali, yaitu pada QS 17:1, QS 8:67, dan QS 8:70. Pada dua ayat terakhir, makna asrā jelas merujuk pada tawanan.

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ
“Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.”
(QS Al-Anfāl [8]:67)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّمَن فِي أَيْدِيكُم مِّنَ الْأَسْرَىٰ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada para tawanan yang ada di tanganmu…”
(QS Al-Anfāl [8]:70)

Karena Al-Qur’an sangat konsisten dalam penggunaan istilah, maka secara metodologis tidak tepat mengubah makna asrā pada QS 17:1 menjadi perjalanan fisik, sementara pada dua ayat lainnya ia bermakna tawanan. Dengan demikian, asrā bi‘abdihī lebih tepat dipahami sebagai “menjadikan hamba-Nya berada dalam ketertawanan pengabdian”, bukan sekadar melakukan perjalanan geografis.

Bahasa Simbolik: Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha

Al-Qur’an tidak selalu berbicara secara literal. Ia kerap menggunakan simbol, metafora, dan kinayah. Dalam konteks QS 17:1:

  • Masjidil Haram dapat dipahami sebagai al-ḥaqqu min rabbika (kebenaran dari Tuhanmu), sebagaimana ditegaskan:

“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu…” (QS Al-Baqarah [2]:147, 149)

  • Masjidil Aqsha berarti “yang paling jauh”, yakni ujung capaian pandangan dan kesadaran manusia (ufuk kehidupan).

Dengan demikian, QS 17:1 berbicara tentang proses spiritual dan intelektual, yakni bagaimana seorang hamba yang sepenuhnya terikat dalam pengabdian bergerak dari kebenaran Ilahi menuju pembacaan realitas kehidupan hingga ke batas terjauhnya.

Penegasan tujuan ayat ini sangat jelas:

لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
“Agar Kami perlihatkan kepadanya ayat-ayat Kami.”

Artinya, fokus utama ayat ini adalah terbukanya penglihatan terhadap ayat-ayat Allah dalam kehidupan, bukan kisah perjalanan spektakuler semata.

Shalat: Tidak Dijemput di Langit

Kisah Isra’ Mi‘raj juga memuat narasi “penjemputan shalat” dan bahkan tawar-menawar jumlahnya. Narasi ini problematik jika dihadapkan langsung dengan Al-Qur’an.

Allah menegaskan:

لَّا يَكُونُ عَلَى النَّبِيِّ حَرَجٌ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ
“Tidak ada keberatan atas Nabi terhadap apa yang telah Allah tetapkan baginya.”
(QS Al-Aḥzāb [33]:38)

Dan:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ
“Tidaklah patut bagi mukmin dan mukminah memiliki pilihan lain apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan.”
(QS Al-Aḥzāb [33]:36)

Al-Qur’an justru menunjukkan bahwa shalat telah dikenal oleh seluruh makhluk:

كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ
“Masing-masing telah mengetahui shalat dan tasbihnya.”
(QS An-Nūr [24]:41)

Shalat dalam pengertian Al-Qur’an adalah kekuatan moral dan sosial:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS Al-‘Ankabūt [29]:45)

Bahkan dampaknya adalah kedamaian sosial:

إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ
“Sesungguhnya shalatmu menjadi ketenteraman bagi mereka.”
(QS At-Taubah [9]:103)

Penutup

Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa QS Al-Isrā’ [17]:1 tidak berbicara tentang Isra’ Mi‘raj sebagaimana narasi populer, melainkan tentang jalan spiritual-intelektual agar manusia mampu melihat ayat-ayat Allah dalam kehidupan nyata.

Pergeseran makna asrā menjadi isrā’ telah mereduksi pesan strategis Al-Qur’an menjadi sekadar kisah ritual tahunan, sementara potensi besarnya sebagai panduan transformasi umat justru terabaikan.

Mungkin inilah saatnya umat kembali bertanya: apakah kita sedang merayakan Al-Qur’an, atau justru kisah yang menyingkirkannya secara perlahan? (syahida)

Example 120x600