Teheran, PPMIndonesia.com — Iran kini berada di persimpangan paling genting sejak Revolusi Islam 1979. Gelombang unjuk rasa yang bermula dari aksi mogok para pedagang di pasar tradisional kini telah berubah menjadi tantangan serius terhadap pemerintahan Republik Islam, mengguncang tatanan politik dan sosial negara tersebut.
Demonstrasi pecah pada 28 Desember 2025, ketika pedagang dan pelaku usaha di Grand Bazaar Tehran menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap anjloknya nilai rial Iran terhadap dolar AS dan tekanan ekonomi yang makin parah, termasuk inflasi tinggi serta harga kebutuhan pokok yang meroket. Mogok pasar yang awalnya bersifat ekonomi ini segera menyebar ke seluruh penjuru Iran, memasuki kota-kota besar dan kecil, termasuk Mashhad, Isfahan, Shiraz, dan Qom. (Wikipedia)
Krisis Ekonomi Menjadi Kritik Politik Terbuka
Dari pusat perdagangan hingga universitas, warga Iran—termasuk pedagang, pelajar, dan pekerja—bergabung menuntut perubahan lebih luas. Mereka tidak lagi sekadar meminta solusi ekonomi, tetapi juga menyuarakan kritik terbuka terhadap struktur pemerintahan dan kepemimpinan negara. Aksi protes telah menjadi ekspresi ketidakpuasan sosial yang mencapai puncaknya dalam dua pekan terakhir. (Wikipedia)
Sebagai respon, pemerintah memberlakukan pemadaman internet nasional pada 8 Januari 2026, sebuah langkah drastis yang memutus hampir seluruh akses komunikasi digital dalam negeri dan membatasi hubungan warga dengan dunia luar. Tindakan ini mencerminkan upaya rezim menutup informasi dan koordinasi massa, tetapi juga menghambat verifikasi independen atas situasi di lapangan. (Wikipedia)
Represi, Kekerasan, dan Dampaknya
Sejak protes dimulai, bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan meningkat tajam. Lembaga HAM mencatat bahwa ratusan warga tewas dalam aksi protes dan lebih dari 10.000 orang ditangkap sepanjang dua pekan terakhir. Angka kematian sempat diperkirakan mencapai lebih dari 500 orang, meskipun jumlah pastinya sulit dikonfirmasi akibat pemadaman komunikasi. (Türkiye Today)
Pemerintah Tehran telah menyebutkan peserta demonstrasi sebagai ancaman keamanan dan memberikan peringatan keras terhadap siapa pun yang melanjutkan aksi massa, termasuk ancaman hukuman berat dan pembatasan hukum lainnya.
Ketegangan Politik: Dari Lokal ke Global
Protes yang meluas ini tidak hanya berpengaruh di dalam negeri. Pemerintahan Iran menghadapi tekanan internasional yang meningkat dan risiko politik luar negeri yang lebih besar. Di tengah kekacauan domestik, pernyataan serta ancaman dari negara-negara besar ikut memperuncing situasi. Rusia, China, dan negara-negara Eropa mengamati dengan cermat, sementara komunitas internasional menyerukan perundingan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Krisis ini tidak lagi sekadar soal ekonomi; ia telah berkembang menjadi tekanan politik langsung terhadap legitimasi Republik Islam Iran, mengguncang pondasi pemerintahan yang telah bertahan lebih dari empat dekade. Bagi banyak pengamat, titik ini menandai fase baru dalam sejarah modern Iran—di mana tuntutan perubahan sosial dan pemerintahan menembus batas protes ekonomi. (Wikipedia) (emha)



























