Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Madrasah untuk Zaman yang Berubah

30
×

Madrasah untuk Zaman yang Berubah

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

Langkah Baru MA Ummatan Wasathan Penandatanganan MoU antara MA Ummatan Wasathan (Nurul Iman, S.Pd) dan Pesantren Mahasiswa Usman (dr. Janatarum Srihardono, M.M.R) pada 11 Januari 2026. Sinergi strategis untuk penguatan literasi digital dan kemandirian santri. )doc.ppmdiy)

MA Ummatan Wasathan Imogiri dan Ikhtiar Menyatukan Iman, Ilmu, Etika, serta Kemandirian Ekonomi Santri

Bantul.PPMIndonesia.com – Pagi di Imogiri tidak pernah benar-benar sunyi. Di sela persawahan dan kampung yang tumbuh bersama tradisi, sekelompok remaja berseragam madrasah melangkah ke kelas dengan ritme yang berbeda. Mereka bukan hanya datang untuk menghafal pelajaran, tetapi untuk menyiapkan diri menghadapi dunia yang berubah cepat—dan sering kali tidak ramah bagi mereka yang lahir dari keluarga sederhana.

Di sinilah Madrasah Aliyah Ummatan Wasathan Imogiri mencoba memulai kembali langkahnya. Bukan sekadar bertahan, tetapi reborn—lahir ulang dengan orientasi yang lebih relevan dengan realitas sosial, ekonomi, dan teknologi zaman kini.

Pendidikan sebagai Jalan Harapan

Bagi banyak santri MA Ummatan Wasathan, sekolah bukan hanya ruang belajar, melainkan jalan harapan. Sebagian besar berasal dari keluarga dhuafa, buruh tani, pedagang kecil, atau pekerja informal yang hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Di tengah kondisi itu, madrasah ini menegaskan komitmennya: pendidikan gratis dan inklusif sebagai bentuk keberpihakan nyata.

“Madrasah tidak boleh menjadi beban bagi keluarga miskin. Ia harus menjadi pintu pembebasan,” ujar Nurul Imam, SE, Sekretaris PPM Imogiri sekaligus perwakilan Madrasah Aliyah Ummatan Wasathan.

Komitmen ini bukan jargon. Pendidikan di MA Ummatan Wasathan dirancang agar tidak berhenti pada ijazah, tetapi berlanjut pada daya hidup santri setelah lulus.

Pesantren Literasi Digital

Berbeda dengan banyak madrasah yang masih berkutat pada pola lama, Ummatan Wasathan mencoba melangkah ke depan melalui pesantren literasi digital. Santri diperkenalkan pada dunia teknologi bukan sebagai konsumen pasif, tetapi sebagai subjek yang sadar etika, kritis terhadap informasi, dan mampu memanfaatkan digitalisasi secara produktif.

Di ruang sederhana yang berfungsi ganda sebagai kelas dan laboratorium, santri belajar menulis, mengelola konten, memahami dasar literasi media, hingga etika bermedia sosial. Bagi mereka, gawai bukan sekadar hiburan, tetapi alat belajar dan ikhtiar ekonomi.

Magang Sejak Dini, Belajar dari Dunia Nyata

Salah satu pembeda utama MA Ummatan Wasathan adalah keberanian membuka ruang magang sejak dini. Santri tidak hanya dipersiapkan untuk melanjutkan studi, tetapi juga dikenalkan dengan dunia kerja, kewirausahaan, dan pengabdian sosial sejak bangku madrasah.

Model ini diyakini mampu membentuk karakter mandiri, tangguh, dan realistis—tanpa kehilangan fondasi iman dan etika. “Santri harus siap hidup, bukan hanya siap ujian,” kata seorang pengajar.

Kesepakatan untuk Masa Depan

Ikhtiar besar ini tidak berjalan sendiri. Pada 11 Januari 2026, langkah reborn MA Ummatan Wasathan dipertegas melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara dua pihak.

Pihak Pertama, diwakili oleh Nurul Iman, SE, Sekretaris PPM Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta, yang bertindak atas nama Madrasah Aliyah Ummatan Wasathan.

Pihak Kedua, diwakili oleh dr. Janatarum Srihardono, M.M.R., Sekretaris Perkumpulan Pesantren Mahasiswa Usman, beralamat di Jalan Kemitbumen No. 1, Panembahan, Kraton, Yogyakarta.

MoU ini menjadi fondasi kerja sama strategis untuk merealisasikan program pendidikan pesantren, literasi digital, dan penguatan kemandirian santri secara berkelanjutan. Bagi kedua pihak, kerja sama ini bukan sekadar administratif, melainkan pernyataan tanggung jawab sosial dan keumatan.

Madrasah sebagai Ikhtiar Sosial

Di tengah krisis pendidikan yang makin berjarak dengan realitas sosial, MA Ummatan Wasathan Imogiri menawarkan satu pesan penting: madrasah harus adaptif tanpa kehilangan jati diri. Iman, ilmu, etika, dan kemandirian ekonomi tidak dipertentangkan, tetapi dirajut dalam satu ekosistem pendidikan.

Reborn MA Ummatan Wasathan bukan kisah spektakuler, tetapi kisah ketekunan kolektif. Tentang guru yang bertahan, santri yang berjuang, dan komunitas yang percaya bahwa pendidikan masih bisa menjadi jalan perubahan.

Di Imogiri, madrasah kecil ini sedang membuktikan bahwa untuk menghadapi zaman yang berubah, yang dibutuhkan bukan kemewahan, melainkan keberanian untuk bertransformasi dan berpihak pada yang lemah. (acank)

Example 120x600