Pantai Indah Kapuk.PPMIndonesia.com– Jika ekonomi Indonesia tidak membaik pada 2026, kata Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa—sebagaimana dikutip pula oleh Muhammad Said Didu—pergantian rezim penguasa sangat mungkin terjadi. Peringatan ini bukan sekadar wacana politik, melainkan analisis teknokratis dari seorang menteri yang tentu memahami denyut ekonomi nasional. Karena itu, peringatan tersebut layak dipandang sebagai sinyal rasional yang patut diwaspadai.
Nada serupa, bahkan lebih ekstrem, disampaikan Rocky Gerung yang mengingatkan potensi krisis serius pada Februari 2026 jika Presiden Prabowo Subianto tidak segera mengambil langkah-langkah besar dan menentukan. Pesan yang tersirat jelas: persoalan ekonomi rakyat tidak bisa ditunda, dan kabinet harus dibersihkan dari beban masa lalu yang terus menggerogoti kinerja pemerintahan. Beban itu bukan hanya soal individu, melainkan warisan sistemik yang menghambat terwujudnya amanat konstitusi—membebaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan—yang telah digaungkan sejak 80 tahun silam.
Potensi kerusuhan dan konflik sosial kian nyata ketika bencana demi bencana hadir sebagai akibat dari ulah manusia sendiri. Keserakahan dan ketamakan mengumbar konsesi hutan dan lahan, mengeruk habis isi perut bumi—kayu, mineral, dan segala yang bernilai ekonomi—tanpa memperhitungkan keadilan sosial dan keberlanjutan hidup rakyat. Kerusakan itu bukan hanya meluluhlantakkan alam, tetapi juga menghancurkan tatanan ekonomi dan budaya masyarakat. Keputusasaan dan kemarahan pun muncul, bukan semata kepada banjir bandang atau kayu gelondongan yang menghanyutkan rumah dan ternak, melainkan juga kepada kenyataan pahit: perabot rumah tangga yang belum lunas cicilannya ikut lenyap tanpa sisa.
Di kota, rakyat disuguhi berita korupsi yang semakin membingungkan. Kasus-kasus hukum maju-mundur seperti permainan anak-anak, seolah hukum telah berubah menjadi komoditas transaksi bebas di pasar. Di ruang lain, tampak permainan petak umpet kekuasaan: saling mengintip perilaku culas untuk menyandera satu sama lain, atau sekadar menjadi tameng pelindung diri dari ancaman delik. Tumpukan dosa disembunyikan rapat-rapat, sambil berharap dilupakan.
Satire dalam stand-up comedy Pandji Pragiwaksono—yang sarkastik dan telak—seakan menandai bahwa kritik publik telah dianggap angin lalu. Para pejabat tak lagi merasa malu, bukan hanya kepada rakyat, tetapi juga kepada keluarga dan anak keturunannya. Padahal, perilaku tidak bermoral itu akan diwariskan bersama azab sosial dan spiritualnya—ditanggung renteng, turun-temurun—hingga akhirnya musnah dan terkubur oleh sejarah.
Di sinilah dimensi spiritual menjadi penentu. Ketika spiritualitas direduksi menjadi materialitas, etika, moral, dan akhlak pun meranggas. Korupsi, ingkar janji, pengkhianatan, tipu daya, dan hasrat mencelakakan orang lain menjelma naluri liar—seperti penggundulan hutan untuk perkebunan dan pertambangan. Konsekuensinya bukan hanya punahnya habitat, tetapi tersumbatnya aliran sungai yang mengirim malapetaka, seolah mengingatkan bahwa keserakahan manusia telah lepas dari kendali ilahi.
Pembiaran atas kerusakan jiwa dan raga—spiritual dan material—pada akhirnya hanya menunggu waktu. Perubahan akan datang sebagai respons kemarahan langit dan bumi atas pengabaian manusia terhadap anugerah Tuhan yang penuh kasih. Padahal manusia diingatkan untuk tidak membuat kerusakan, untuk berbuat baik di bumi dan di langit, agar fasilitas kehidupan yang dianugerahkan Tuhan dapat dinikmati dan disyukuri secara patut—sesuai kebutuhan, tidak berlebihan.
Sikap ugahari dan rendah hati dalam kesederhanaan hidup hanya mungkin tumbuh bila manusia dibimbing bukan semata oleh akal sehat, tetapi juga oleh pemahaman filsafat dan makrifat. Di sinilah kecerdasan intelektual kerap menyesatkan jika tidak dipandu oleh kecerdasan spiritual. Kejahatan—mencuri, menipu, berkhianat, munafik, bahkan musyrik—bukan dilakukan oleh orang bodoh, melainkan oleh mereka yang cerdas secara intelektual namun miskin pengetahuan dan kesadaran spiritual tentang kekuasaan dan kemahatahuan Sang Pencipta langit dan bumi.
Seorang spiritualis bijak pernah berkata: menimbang surga dan neraka tidak cukup dengan kecerdasan intelektual semata. Ia harus—dan wajib—ditimbang dengan kecerdasan spiritual yang arif dan bestari. Tanpa itu, dunia akan terus berduka. Ia menjelma seperti neraka yang nyata, menghadirkan malapetaka di mana-mana—sebagaimana yang kini kita saksikan di Indonesia. (jacob ereste)



























