Jakarta.PPMIndonesia.com– Kesalehan dalam praktik keagamaan sering kali dipersempit menjadi urusan vertikal: seberapa khusyuk ibadah dilakukan, seberapa rutin ritual ditegakkan, dan seberapa lengkap simbol keagamaan ditampilkan. Dalam narasi populer Isra’ Mi‘raj, kesalehan bahkan diarahkan pada pengalaman kosmik yang menjulang ke langit. Namun Al-Qur’an justru menegaskan bahwa puncak kesalehan bukanlah keterpesonaan spiritual, melainkan tanggung jawab sosial yang membumi.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an (kajian syahida), tulisan ini mengajak pembaca menggeser orientasi: dari Mi‘raj yang dipahami sebagai “kenaikan spiritual”, menuju misi sosial yang menjadi inti risalah kenabian.
Kesalehan Tidak Berhenti di Langit
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak diukur dari simbol atau klaim spiritualitasnya, melainkan dari dampak etis dan sosial yang ditimbulkannya:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ…
Bukanlah kebajikan itu sekadar menghadapkan wajah ke timur atau barat, tetapi kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab, dan nabi-nabi, serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin… (QS Al-Baqarah [2]: 177)
Ayat ini secara tegas mengoreksi kesalehan simbolik. Kesalehan sejati selalu berujung pada keberpihakan kepada manusia yang dilemahkan.
Mi‘raj dan Risiko Spiritualitas Elitis
Ketika Mi‘raj dipahami semata sebagai perjalanan eksklusif menuju langit, ia berisiko melahirkan spiritualitas elitis—kesalehan yang merasa tinggi, namun jauh dari penderitaan manusia. Al-Qur’an justru memotret Nabi Muhammad sebagai sosok yang misinya turun ke tengah masyarakat, bukan menjauh darinya:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS Al-Anbiyā’ [21]: 107)
Rahmat tidak bekerja di ruang hampa; ia hadir dalam sejarah, konflik, dan krisis kemanusiaan.
Shalat sebagai Jembatan Spiritual–Sosial
Shalat sering dianggap puncak kesalehan personal. Namun Al-Qur’an menegaskan fungsinya sebagai pencegah kerusakan sosial:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. (QS Al-‘Ankabūt [29]: 45)
Jika shalat tidak melahirkan kepekaan terhadap kezaliman, maka kesalehan tersebut kehilangan arah. Shalat seharusnya menjadi jembatan antara kesadaran ilahiah dan tanggung jawab sosial.
Kesalehan dan Pembelaan terhadap Yang Tertindas
Al-Qur’an menempatkan pembelaan terhadap yang tertindas sebagai bagian integral dari iman:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ
Mengapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak? (QS An-Nisā’ [4]: 75)
Ayat ini menegaskan bahwa kesalehan yang abai terhadap penderitaan—termasuk tragedi kemanusiaan di Palestina—adalah kesalehan yang terputus dari pesan Al-Qur’an.
Dari Ritual ke Tanggung Jawab Peradaban
Al-Qur’an mengkritik keras praktik ibadah yang terpisah dari kepedulian sosial:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan menolong dengan bantuan yang berguna. (QS Al-Mā‘ūn [107]: 4–7)
Ibadah yang gagal melahirkan solidaritas hanyalah aktivitas kosong. Kesalehan Al-Qur’an selalu bergerak dari kesadaran kepada aksi.
Mengembalikan Arah Kesalehan
Mengembalikan arah kesalehan berarti menurunkan kembali spiritualitas ke bumi. Mi‘raj, jika hendak dimaknai secara Qur’ani, bukanlah pelarian dari realitas, melainkan penguatan moral untuk menghadapi realitas dengan keberanian dan keadilan.
Di tengah krisis kemanusiaan global—dari Palestina hingga berbagai penjuru dunia—Al-Qur’an memanggil umat untuk menghadirkan kesalehan yang membebaskan, membela yang lemah, dan membangun peradaban yang berkeadilan. Di situlah kesalehan menemukan bentuknya yang paling utuh: iman yang bekerja dalam sejarah manusia. (syahida)



























