Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Dari Pagi hingga Malam: Makna Waktu dalam Al-Qur’an

5
×

Dari Pagi hingga Malam: Makna Waktu dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; asyary

Jakarta.PPMIndonesia.comWaktu merupakan salah satu tema sentral dalam Al-Qur’an. Ia hadir bukan sekadar sebagai penanda kronologis, melainkan sebagai ruang kesadaran, fase kehidupan, dan medium hidayah.

Dari pagi hingga malam, Al-Qur’an berulang kali menyebut waktu dengan beragam istilah—shubḥ, bukrah, ‘ashiyy, layl, nahār—yang menunjukkan bahwa kehidupan manusia berjalan dalam ritme ilahiah.

Namun dalam pemahaman keagamaan populer, ayat-ayat waktu sering direduksi menjadi jadwal ibadah ritual, khususnya shalat. Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita membaca ulang: apa sebenarnya makna waktu dalam Al-Qur’an?

Waktu sebagai Kesadaran Spiritual

Salah satu ayat kunci tentang waktu adalah QS Ar-Rum (30): 17–18:

فَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ
وَلَهُ ٱلْحَمْدُ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَعَشِيًّۭا وَحِينَ تُظْهِرُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah ketika kamu memasuki malam dan ketika kamu memasuki pagi. Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, pada waktu petang dan ketika kamu berada di waktu zuhur.”

Ayat ini tidak berbicara tentang teknis ibadah, melainkan tentang kesadaran akan Allah pada fase-fase utama kehidupan. Tasbih dan hamd dalam Al-Qur’an merupakan ekspresi pengakuan bahwa hidup, dengan seluruh perputarannya, berada dalam tatanan ilahi.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa waktu di sini adalah momen refleksi, bukan sekadar kewajiban ritual.

Pagi, Siang, dan Malam sebagai Fase Manusiawi

Makna waktu sebagai kondisi manusia juga tampak dalam QS An-Nur (24): 58:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُكُمْ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا۟ ٱلْحُلُمَ مِنكُمْ ثَلَـٰثَ مَرَّٰتٍۢ ۚ مِّن قَبْلِ صَلَوٰةِ ٱلْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعْدِ صَلَوٰةِ ٱلْعِشَآءِ ۚ ثَلَـٰثُ عَوْرَٰتٍۢ لَّكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah orang-orang yang berada dalam tanggunganmu dan anak-anak yang belum baligh meminta izin kepadamu pada tiga waktu: sebelum shalat fajar, ketika kamu menanggalkan pakaian di tengah hari, dan setelah shalat isya. Itulah tiga waktu aurat bagimu.”

Ayat ini menegaskan bahwa pagi, tengah hari, dan malam adalah fase-fase kerentanan manusia—waktu istirahat, kelelahan, dan privasi. Al-Qur’an tidak sedang menetapkan jadwal ibadah, melainkan mengajarkan etika sosial berbasis pemahaman waktu.

Rentang Waktu dalam Ibadah

Dalam QS Hud (11): 114, Allah berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًۭا مِّنَ ٱلَّيْلِ

“Dirikanlah shalat pada dua ujung siang dan pada bagian-bagian malam.”

Bahasa ayat ini menunjukkan rentang waktu, bukan rincian teknis. Al-Qur’an tidak menyebut jam, hitungan, atau pembagian matematis. Yang ditekankan adalah kehadiran hubungan dengan Allah sepanjang siklus waktu.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menegaskan bahwa ibadah berada dalam alur kehidupan, bukan terpisah darinya.

Waktu dan Tujuan Etis Shalat

Makna waktu dalam Al-Qur’an selalu terkait dengan transformasi moral. QS Al-‘Ankabut (29): 45 menegaskan:

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ

“Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

Ini menunjukkan bahwa shalat bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana pembentukan kesadaran etis. Jika waktu hanya dipahami sebagai jadwal ritual, maka tujuan ini berisiko hilang.

Waktu sebagai Amanah Ilahi

Al-Qur’an bahkan menjadikan waktu sebagai objek sumpah, sebagaimana QS Al-‘Ashr (103): 1–3:

وَٱلْعَصْرِ ۝ إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ ۝ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…”

Waktu diposisikan sebagai amanah besar yang menentukan keberhasilan atau kerugian manusia.

Pendekatan Qur’an bil Qur’an mengajak kita memahami bahwa dari pagi hingga malam, Al-Qur’an tidak sekadar mengatur ibadah, tetapi mendidik kesadaran hidup. Waktu adalah ruang perjumpaan manusia dengan nilai ilahi—dalam kerja, istirahat, relasi sosial, dan ibadah.

Dengan membaca waktu sebagai tanda (ayat), bukan sekadar jadwal, Al-Qur’an mengarahkan manusia agar seluruh hidupnya—dari awal hari hingga akhir malam—menjadi bentuk pengabdian yang bermakna.(syahida)

 

Example 120x600