Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Manusia Penjilat Sesungguhnya Adalah Sikap dan Sifat Munafik

8
×

Manusia Penjilat Sesungguhnya Adalah Sikap dan Sifat Munafik

Share this article

Penulis: Jacob Ereste| Editor: Asyary

Banten, PPMindonesia.com – Manusia penjilat adalah pribadi yang tidak jujur dan tidak tulus, sehingga sulit untuk dipercaya. Ia memiliki motif tersembunyi: menyenangkan orang lain dengan harapan memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Karena itu, sikap penjilat kerap merusak hubungan sosial, sebab pujian dan pengagungan yang dilontarkannya bukan lahir dari ketulusan, melainkan dari kepentingan.

Apa yang diucapkan manusia penjilat sering kali menyesatkan, karena tidak berpijak pada kejujuran dan realitas yang sesungguhnya. Ia cenderung mengatakan apa yang ingin didengar, bukan apa yang seharusnya disampaikan. Akibatnya, penilaian dan pendapat yang disampaikan menjadi tidak objektif, sebab orientasinya sekadar untuk menyenangkan, bukan untuk menyatakan kebenaran.

Atas dasar itulah, manusia penjilat identik dengan kemunafikan dan patut diwaspadai—bahkan dalam batas tertentu perlu dihindari. Mereka gemar membungkus segala sesuatu seolah-olah baik-baik saja, seakan tidak ada masalah. Padahal, yang kita perlukan justru informasi yang jujur dan apa adanya, agar kita memperoleh gambaran yang utuh tentang kenyataan yang terjadi. Gambaran itulah yang penting sebagai bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan, sehingga kita tidak dirugikan, baik secara material, intelektual, maupun spiritual—yang semuanya bersifat sangat personal.

Sifat dan kecenderungan manusia penjilat juga tampak dari kegemarannya memuji secara berlebihan, atau sebaliknya, membesar-besarkan keburukan orang lain. Semua itu ditumpangi oleh kepentingan dan ambisi pribadi untuk meraih keuntungan, bukan hanya dalam bentuk finansial, tetapi juga dalam relasi sosial yang dapat memposisikan dirinya seolah lebih unggul dibanding orang lain.

Perilaku manusia penjilat ini harus benar-benar diwaspadai, karena dapat menjerumuskan kita ke dalam perangkap lupa diri. Pujian yang berlebihan bisa membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain, sehingga abai terhadap kekurangan dan kesalahan diri sendiri yang seharusnya dikoreksi. Dari sinilah lahir sikap jumawa dan perasaan selalu paling benar.

Dalam semua agama, sifat dan sikap penjilat dipandang sebagai perilaku tercela. Karena itu, manusia penjilat sebaiknya dijauhi—setidaknya diberi jarak—agar tidak terlalu jauh memasuki wilayah paling penting dalam hidup dan kehidupan pribadi kita. Sebab, manusia penjilat pada hakikatnya adalah musuh yang dapat melemahkan dan menggoyahkan keotentikan kepribadian kita. Dengan kata lain, manusia penjilat sesungguhnya merupakan ekspresi nyata dari sikap dan sifat munafik. (jacob eraste)

Example 120x600