Teheran.PPMIndonesia.com– Dalam beberapa pekan terakhir, media Barat—atau media yang terafiliasi dengan kepentingan Barat—ramai memberitakan bahwa ekonomi Iran berada di ambang kehancuran, bahwa rezim Ayatullah goyah, bahkan muncul spekulasi bahwa elite politiknya bersiap “kabur” dari negara itu. Narasi semacam ini terdengar dramatis, tetapi tidak sepenuhnya akurat. Realitas di Iran jauh lebih banal—dan justru karena itu sering diabaikan.
Benar, demonstrasi terjadi. Namun demonstrasi di Iran bukanlah fenomena baru, dan tidak pula berskala nasional yang mengarah pada kekacauan sistemik. Aksi-aksi tersebut bersifat lokal, sporadis, dan terbatas.
Ia tidak melumpuhkan negara, tidak memutus logistik, dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi utama. Dalam batas tertentu, situasi ini bahkan tak jauh berbeda dengan dinamika protes di banyak negara demokrasi, termasuk Indonesia pada periode tertentu.
Di Teheran, kehidupan berjalan relatif normal. Transportasi publik berfungsi, perdagangan berlangsung, kantor dan pabrik tetap beroperasi. Tidak ada tanda-tanda panic economy yang lazim mendahului krisis politik besar. Kebetulan saya memiliki aktivitas bisnis di Teheran. Tidak ada laporan chaos yang mengharuskan evakuasi staf asing.
Pengiriman barang ke China tetap tepat waktu, dan rantai pasok dari China ke Iran berjalan lancar. Ironisnya, dalam beberapa aspek logistik, Indonesia justru menghadapi problem yang lebih serius—bukan karena geopolitik, melainkan akibat biaya ekonomi tinggi, mafia pelabuhan, dan inefisiensi struktural.
Apakah kejatuhan nilai tukar rial hingga menyentuh kisaran 1,5 juta per dolar AS merupakan tanda ekonomi Iran runtuh? Tidak sesederhana itu. Iran tidak terintegrasi penuh dengan sistem keuangan global. Utang luar negerinya relatif rendah, hampir tidak bergantung pada arus portofolio asing, dan perbankan domestiknya terisolasi dari sistem keuangan internasional.
Dalam kondisi seperti ini, tidak terjadi sudden stop arus modal sebagaimana dialami banyak negara emerging market. Tidak ada foreign investor panic. Dalam literatur IMF, situasi ini dikenal sebagai financial insulation effect.
Meski berada di bawah embargo finansial yang ketat, ekonomi Iran tidak sepenuhnya rapuh. Negara ini tetap memproduksi dan mengekspor minyak serta gas, meski tidak melalui mekanisme konvensional seperti letter of credit. Iran memanfaatkan skema barter (counter trade) dan jaringan perdagangan alternatif melalui China, Dubai, hingga London.
Akses terhadap hard currency tetap terbuka. Dengan nilai tukar yang lemah, biaya domestik dalam rial menjadi sangat murah, sehingga ekspor Iran justru sangat kompetitif. Dalam ekonomi berbasis sumber daya, depresiasi mata uang bahkan dapat memperbesar penerimaan fiskal domestik dalam mata uang lokal.
Selain itu, ekonomi Iran digerakkan terutama oleh konsumsi domestik. Sebagian besar kebutuhan dalam negeri diproduksi secara lokal, dengan tingkat local content di atas 90 persen di banyak sektor. Implikasinya jelas: inflasi signifikan hanya terjadi pada barang impor, sementara konsumsi massal relatif terlindungi. Tekanan nilai tukar tidak otomatis berubah menjadi tekanan sosial, berbeda dengan negara-negara yang konsumsi hariannya sangat bergantung pada impor.
Kesimpulannya, ekonomi Iran relatif resilient karena terisolasi dari guncangan finansial global. Negara ini memiliki basis sumber daya strategis, kontrol negara yang kuat, pasar domestik besar, serta utang valuta asing yang rendah. Semua ini memang dibayar dengan inflasi tinggi, distorsi pasar, dan penurunan kesejahteraan masyarakat.
Namun kondisi tersebut tidak serta-merta menghancurkan sistem. Mengapa? Karena sistem ekonomi Iran memiliki mekanisme mitigasi risikonya sendiri—dan itu dijalankan secara sadar dan strategis.
Stabilitas politik Iran juga tidak lahir dari absennya oposisi, melainkan dari soliditas elite dan kekokohan institusi. Struktur kekuasaannya jelas, berlapis, dan—yang tak kalah penting—tidak terjebak dalam kleptokrasi akut sebagaimana terjadi di banyak negara berkembang. Korupsi tentu ada, sebagaimana di semua negara. Namun ia tidak menggerogoti institusi secara sistemik hingga melumpuhkan fungsi negara.
Lalu mengapa berita buruk terus-menerus datang dari media Barat dengan nada sangat kritis? Karena pada dasarnya Iran sedang terlibat dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat dan sekutunya—bukan perang senjata, melainkan perang ekonomi dan narasi. Dalam geopolitik modern, narasi adalah instrumen tekanan.
Menggambarkan Iran sebagai negara yang hampir runtuh bertujuan menekan investor, memengaruhi opini publik global, dan membenarkan kebijakan isolasi ekonomi. Masalahnya, narasi yang diulang-ulang tidak otomatis menjelma menjadi kenyataan. (Erijeli Bandaro)
Erijeli Bandaro : Praktisi bisnis yang memiliki jaringan luas dalam ekosistem perdagangan di Teheran Iran.”



























