Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri (4): Iman dan Tanggung Jawab Individu

3
×

Al-Qur’an Menjelaskan Dirinya Sendiri (4): Iman dan Tanggung Jawab Individu

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Dalam seri kajian Qur’an bil Qur’an (kajian syahida) ini, kita sampai pada satu fondasi terpenting dalam ajaran Al-Qur’an: iman adalah keputusan sadar yang melahirkan tanggung jawab personal. Ia bukan sekadar identitas kolektif, bukan pula warisan turun-temurun yang otomatis sah tanpa perenungan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Allah:

وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Dan masing-masing dari mereka akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat secara sendiri-sendiri.”
(QS. Maryam [19]: 95)

Ayat ini membongkar ilusi keselamatan kolektif. Tidak ada jaminan karena mayoritas, tradisi, atau afiliasi kelompok. Yang ada adalah pertanggungjawaban individu.

Tidak Ada Beban yang Dipindahkan

Prinsip tanggung jawab personal ditegaskan berulang kali dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
(QS. Al-An’am [6]: 164)

Dan juga:

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
(QS. Al-Muddatsir [74]: 38)

Iman dalam perspektif Al-Qur’an bukanlah slogan teologis, tetapi komitmen eksistensial yang konsekuensinya melekat pada diri masing-masing.

Akal sebagai Instrumen Pertanggungjawaban

Mengapa tanggung jawab itu bersifat individual? Karena Allah menganugerahkan akal dan kemampuan berpikir sebagai perangkat utama dalam menerima wahyu.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi (merenungkan) Al-Qur’an?”
(QS. An-Nisa [4]: 82)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 3)

Seruan untuk berpikir dan merenung menunjukkan bahwa iman bukanlah kepasrahan tanpa kesadaran, melainkan hasil interaksi aktif antara wahyu dan akal.

Iman dan Pilihan Bebas

Al-Qur’an juga menegaskan dimensi kebebasan dalam menerima kebenaran:

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka siapa yang mau hendaklah ia beriman, dan siapa yang mau hendaklah ia kafir.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 29)

Kebebasan ini sekaligus menegaskan tanggung jawab. Pilihan iman bukan dipaksakan, tetapi konsekuensinya pasti.

Jangan Berlindung di Balik Mayoritas

Salah satu kecenderungan manusia adalah menyandarkan keyakinan pada jumlah dan arus besar. Namun Al-Qur’an telah mengingatkan:

إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan mereka hanyalah menduga-duga.”
(QS. Al-An’am [6]: 116 – bagian ayat)

Karena itu, setiap individu dituntut untuk memiliki furqan—kemampuan membedakan yang benar dan salah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan).”
(QS. Al-Anfal [8]: 29)

Furqan bukan hadiah kolektif, tetapi buah ketakwaan personal.

Iman sebagai Proses Bertumbuh

Al-Qur’an juga menggambarkan iman sebagai sesuatu yang dapat bertambah dan berkembang:

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ
“Agar mereka bertambah imannya bersama iman mereka.”
(QS. Al-Fath [48]: 4)

Artinya, iman bukan status statis. Ia bertumbuh melalui refleksi, ujian, dan keterlibatan sadar dengan wahyu.

Datang Sendiri, Menjawab Sendiri

Kajian syahida menunjukkan bahwa Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri tentang iman: ia adalah kesadaran pribadi, pilihan bebas, hasil perenungan, dan sumber tanggung jawab langsung di hadapan Allah.

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita di hadapan-Nya:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Kita datang sendiri, membaca sendiri, memilih sendiri, dan mempertanggungjawabkan sendiri.

Maka pertanyaannya sederhana namun mendasar: sudahkah iman kita lahir dari kesadaran, atau sekadar mengikuti arus yang tidak pernah benar-benar kita renungkan? (syahida)

Example 120x600