Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Allah Mengetahui, Manusia Memilih: Di Mana Letak Tanggung Jawab?

5
×

Allah Mengetahui, Manusia Memilih: Di Mana Letak Tanggung Jawab?

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

Meluruskan Relasi Ilmu Allah, Kehendak Manusia, dan Keadilan Ilahi

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu pertanyaan paling klasik dalam teologi Islam adalah: jika Allah Maha Mengetahui segalanya, apakah manusia benar-benar memiliki pilihan? Pertanyaan ini telah melahirkan perdebatan panjang—dari Jabariyah, Qadariyah, hingga Mu’tazilah. Namun Al-Qur’an sendiri sebenarnya memberikan kerangka yang jernih, asalkan dibaca secara utuh dan saling menafsirkan (Qur’an bil Qur’an).

Masalahnya bukan pada ajaran Al-Qur’an, melainkan pada cara sebagian umat menyederhanakan relasi antara ilmu Allah dan perbuatan manusia.

Ilmu Allah Tidak Sama dengan Paksaan

Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu—masa lalu, kini, dan masa depan. Namun pengetahuan Allah tidak pernah dipresentasikan sebagai paksaan terhadap manusia.

وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 282)

Ayat ini menegaskan sifat ilmu Allah, bukan meniadakan kehendak manusia. Mengetahui apa yang akan dipilih manusia bukan berarti memaksa manusia untuk memilihnya. Dalam bahasa sederhana: pengetahuan tidak identik dengan pemaksaan.

Al-Qur’an justru berulang kali menegaskan bahwa manusia diberi ruang memilih:

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan [76]: 3)

Petunjuk telah diberikan, tetapi respons terhadap petunjuk itulah yang menjadi wilayah tanggung jawab manusia.

Pilihan adalah Dasar Hisab

Konsep pertanggungjawaban (hisab) dalam Al-Qur’an hanya masuk akal jika manusia benar-benar memiliki pilihan. Karena itu, Al-Qur’an selalu mengaitkan pahala dan dosa dengan perbuatan sadar manusia.

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
“Setiap diri tergadai oleh apa yang telah diperbuatnya.”
(QS. Al-Muddatsir [74]: 38)

Ayat ini menutup ruang bagi anggapan bahwa manusia sekadar korban takdir. Jika manusia tidak memiliki kehendak, maka konsep tanggung jawab menjadi tidak bermakna, dan keadilan ilahi justru dipertanyakan.

Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang takdir dan perbuatan manusia. Ia menjawab dengan kalimat yang sangat terkenal:

“Seandainya takdir adalah paksaan, niscaya gugurlah pahala dan siksa.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa sejak generasi awal Islam, relasi antara kehendak Allah dan tanggung jawab manusia telah dipahami secara proporsional.

Allah Tidak Zalim terhadap Manusia

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa Allah tidak pernah berbuat zalim. Ketidakadilan tidak berasal dari Tuhan, melainkan dari kesalahan manusia dalam menggunakan pilihannya.

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ
“Dan Allah tidak menghendaki kezaliman bagi seluruh alam.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 108)

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
“Dan Tuhanmu sama sekali tidak zalim terhadap hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fussilat [41]: 46)

Ayat-ayat ini menjadi fondasi teologis bahwa tanggung jawab manusia adalah keniscayaan. Jika semua perbuatan manusia dipaksakan, maka klaim keadilan Allah akan kehilangan maknanya.

Di Antara Dua Ekstrem

Al-Qur’an tidak membenarkan dua ekstrem:

  • ekstrem yang meniadakan kehendak manusia atas nama takdir,
  • maupun ekstrem yang menyingkirkan peran Allah atas nama kebebasan mutlak.

Keseimbangan itu tampak dalam ayat berikut:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. At-Takwir [81]: 28–29)

Manusia memiliki kehendak nyata, tetapi kehendak itu tetap berada dalam sistem kehendak Allah. Inilah titik keseimbangan Qur’ani yang sering hilang dalam perdebatan teologis.

Ibnu Taimiyah merumuskan hal ini dengan lugas:

“Perbuatan hamba adalah nyata, kehendak Allah atas perbuatan itu juga nyata.”

Tanggung Jawab sebagai Inti Kemanusiaan

Al-Qur’an tidak pernah memanggil manusia untuk menjadi pasrah tanpa daya. Sebaliknya, manusia diposisikan sebagai subjek moral yang sadar dan bertanggung jawab.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada perbuatan yang sia-sia dan tidak ada alasan untuk melempar tanggung jawab kepada takdir.

Penutup

Allah Maha Mengetahui, tetapi manusia tetap memilih. Di sanalah letak tanggung jawab, keadilan, dan kemuliaan manusia sebagai makhluk berakal. Iman yang matang bukan iman yang menyalahkan takdir, tetapi iman yang berani bertanggung jawab atas pilihan hidupnya—sambil tetap berserah diri kepada Allah atas hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia. (syahida)

Artikel ini merupakan bagian dari serial kajian “Takdir, Nasib, dan Tanggung Jawab Manusia” dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an.

Example 120x600