Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap Ramadhan, ayat tentang puasa kembali menggema di mimbar-mimbar dan ruang kajian. Namun ada pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: apakah kita memahami puasa sebagaimana dirangkai Al-Qur’an, ataukah kita hanya memetik satu ayat lalu membangun kesimpulan sendiri?
Pendekatan syāhida dengan metode Qur’an bil Qur’an mengajak kita membaca ayat puasa secara utuh, terutama QS Al-Baqarah ayat 183–185. Sebab Al-Qur’an tidak berbicara secara terpotong; ia menyusun gagasan secara bertahap — dari kewajiban menuju kesadaran, dari ritual menuju revolusi taqwa.
Kutiba ‘Alaikumus Shiyam: Titik Awal Perjalanan
Al-Qur’an membuka pembahasan puasa dengan kalimat yang sangat kuat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Kata kutiba menunjukkan ketegasan hukum, tetapi ayat ini tidak berhenti pada kewajiban. Ia langsung menegaskan tujuan: la‘allakum tattaqūn. Puasa adalah jalan menuju kesadaran etis dan spiritual.
Pemikir Muslim Fazlur Rahman pernah menulis bahwa tujuan ibadah dalam Al-Qur’an selalu berorientasi pada transformasi moral. Tanpa perubahan sikap hidup, ritual berpotensi menjadi rutinitas tanpa ruh. Perspektif ini sejalan dengan ayat di atas: puasa bukan hanya aktivitas fisik, tetapi pendidikan batin.
Ayyāman Ma‘dūdāt: Sistem yang Terukur dan Manusiawi
Ayat berikutnya menjelaskan detail yang sering terlewat:
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ
“(Yaitu) beberapa hari yang berbilang…” (QS Al-Baqarah: 184)
Frasa ini menunjukkan bahwa puasa bukan praktik yang kabur, melainkan sistem yang terukur. Bahkan Al-Qur’an memberikan keringanan yang sangat jelas:
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, maka (wajib mengganti) pada hari-hari yang lain.”
Prinsip kemudahan ini diperkuat dengan konsep fidyah:
وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ
“Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin.”
Ayat ini menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi sosial yang kuat. Memberi makan bukan sekadar pengganti, tetapi pengingat bahwa spiritualitas Islam selalu terkait dengan solidaritas kemanusiaan. Yusuf al-Qaradawi menegaskan bahwa syariat Islam bergerak dalam keseimbangan antara ibadah dan kemaslahatan sosial; puasa adalah contoh nyata dari keseimbangan tersebut.
Syahr Ramadhan: Revolusi Kesadaran Melalui Wahyu
Puncak penjelasan datang pada ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu, dan pembeda (furqan).”
Ayat ini menggeser fokus kita: Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi tentang Al-Qur’an sebagai hudan linnās — petunjuk bagi seluruh manusia. Kata furqān mengisyaratkan fungsi Al-Qur’an sebagai laboratorium kebenaran, tempat manusia menimbang ulang keyakinan dan tradisi.
Muhammad Abduh pernah mengingatkan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk membangunkan akal manusia, bukan sekadar dibaca sebagai ritual. Dalam konteks Ramadhan, pesan ini terasa sangat relevan: puasa seharusnya membuka ruang refleksi intelektual, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Kemudahan sebagai Prinsip, Syukur sebagai Tujuan
Masih dalam ayat yang sama, Allah menegaskan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
Ini adalah prinsip besar dalam syariat puasa. Ketika puasa dipahami secara kaku hingga menimbulkan beban yang tidak proporsional, mungkin yang perlu ditinjau ulang bukan ayatnya, tetapi cara kita membacanya.
Ayat ini ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Agar kamu menyempurnakan bilangannya, mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, dan agar kamu bersyukur.”
Takbir Idul Fitri bukan sekadar tradisi emosional, tetapi simbol keberhasilan memahami petunjuk Allah. Ia adalah penanda bahwa perjalanan puasa telah membawa manusia pada kesadaran baru.
Dari Ritual Menuju Revolusi Taqwa
Jika ayat 183–185 dibaca secara terpisah, puasa bisa tampak sebagai kewajiban tahunan yang sederhana. Namun ketika dibaca dengan metode Qur’an bil Qur’an, terlihat jelas bahwa Al-Qur’an sedang membangun sebuah revolusi batin: dari kewajiban menuju kesadaran, dari tradisi menuju transformasi.
Pertanyaannya kini kembali kepada kita: apakah Ramadhan hanya mengubah jadwal makan, ataukah ia benar-benar mengubah cara kita berpikir dan bertindak?
Barangkali di sinilah makna terdalam dari puasa. Ia bukan sekadar menahan lapar, tetapi proses menyaring diri melalui petunjuk Ilahi. Dari kutiba ‘alaikumus shiyam menuju revolusi taqwa — perjalanan yang tidak berhenti pada Ramadhan, tetapi terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (syahida)



























