Jakarta|PPMIndonesia.com- Seorang pria berusia 50-an tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan napas tersengal dan tubuh dipenuhi keringat dingin. Keluarga menduga keluhan itu hanya gangguan lambung atau kelelahan biasa. Ia pun tidak mengeluh nyeri dada — gejala yang selama ini identik dengan serangan jantung. Namun beberapa saat kemudian, monitor jantung menunjukkan gangguan irama serius. Tim medis bergerak cepat, tetapi kerusakan otot jantung sudah terlalu luas.
Dokter menyebut kondisi itu sebagai silent myocardial infarction, atau serangan jantung senyap — salah satu komplikasi paling berbahaya pada pasien diabetes.
Serangan Jantung Tanpa Alarm Nyeri
Secara medis, myocardial infarction terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat akibat penyumbatan pembuluh darah koroner. Pada banyak kasus, kondisi ini ditandai nyeri dada hebat. Namun pada penderita diabetes menahun, gejala tersebut bisa tidak muncul.
Kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak saraf tubuh, termasuk saraf otonom yang berperan dalam sensasi nyeri. Akibatnya, tubuh gagal memberikan “alarm” ketika jantung kekurangan oksigen. Kondisi ini dikenal sebagai neuropati diabetik.
Alih-alih nyeri dada, pasien sering hanya merasakan:
- Sesak napas mendadak
- Mual atau rasa tidak nyaman di ulu hati
- Lemas ekstrem
- Keringat dingin berlebihan
Gejala yang tidak khas ini membuat banyak pasien datang terlambat ke rumah sakit.
Beban Diabetes dan Risiko Jantung di Indonesia
Fenomena silent myocardial infarction menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya jumlah penderita diabetes di Indonesia. Data riset kesehatan nasional yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi diabetes terus mengalami peningkatan dalam satu dekade terakhir.
Organisasi profesi seperti Perkumpulan Endokrinologi Indonesia menegaskan bahwa penderita diabetes memiliki risiko penyakit kardiovaskular jauh lebih tinggi dibanding populasi umum. Bahkan, sebagian pasien tidak menyadari gangguan jantungnya hingga terjadi kejadian akut.
Secara global, World Health Organization menyebut penyakit kardiovaskular sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia, dengan diabetes sebagai faktor risiko utama yang mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Golden Period yang Sering Terlewat
Dalam penanganan serangan jantung, terdapat periode emas — biasanya dalam dua jam pertama sejak gejala muncul — di mana terapi medis dapat membuka kembali aliran darah dan menyelamatkan jaringan jantung.
Pada silent myocardial infarction, waktu krusial ini sering terlewat. Tanpa nyeri dada, pasien mengira keluhan yang muncul hanya gangguan ringan. Banyak yang memilih beristirahat di rumah, berharap kondisi membaik dengan sendirinya. Ketika akhirnya datang ke fasilitas kesehatan, kerusakan jantung sudah terjadi secara permanen.
Para tenaga medis menyebut keterlambatan diagnosis sebagai salah satu faktor utama tingginya angka kematian pada serangan jantung di kelompok diabetisi.
Kenali Gejala yang Tidak Biasa
Kesadaran masyarakat menjadi kunci penting dalam mencegah keterlambatan penanganan. Penderita diabetes disarankan segera mencari pertolongan medis bila mengalami:
- Sesak napas tiba-tiba tanpa sebab jelas
- Keringat dingin berlebihan
- Rasa tidak nyaman di dada atau ulu hati yang menetap
- Lemas yang tidak biasa
Tidak adanya nyeri dada bukan berarti kondisi aman. Pada pasien diabetes, gejala ringan bisa menjadi tanda bahaya serius.
Pencegahan dan Edukasi Keluarga
Silent myocardial infarction menunjukkan bahwa diabetes bukan sekadar persoalan kadar gula darah, melainkan penyakit sistemik yang memengaruhi pembuluh darah dan saraf. Pengendalian gula darah, pemeriksaan kesehatan rutin, serta gaya hidup sehat menjadi langkah penting untuk menekan risiko.
Edukasi keluarga juga tak kalah penting. Respons cepat orang terdekat sering menjadi penentu keselamatan pasien, terutama ketika gejala muncul tanpa peringatan jelas.
Karena pada akhirnya, serangan jantung senyap bukan hanya persoalan medis, tetapi juga soal kewaspadaan. Saat rasa sakit tak lagi menjadi penanda, kesadaranlah yang menjadi garis pertahanan terakhir. (acank)



























