Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ramadan dan Revolusi Hati: Membaca Ayat Puasa dengan Pendekatan Syahida

6
×

Ramadan dan Revolusi Hati: Membaca Ayat Puasa dengan Pendekatan Syahida

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.comRamadan sering dipahami sebagai bulan menahan diri: menahan makan, minum, dan hawa nafsu. Namun jika kita kembali kepada Al-Qur’an dan membacanya dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an—membiarkan ayat-ayat saling menjelaskan—kita akan menemukan bahwa puasa adalah proyek besar: revolusi hati.

Pendekatan Syahida mengajak kita tidak berhenti pada aspek legal-formal, tetapi menyelami struktur dan pesan utuh ayat-ayat puasa dalam Surah Al-Baqarah (183–187).

Dari Seruan Iman Menuju Transformasi

Allah membuka ayat puasa dengan panggilan kehormatan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa disebut secara eksplisit: takwa.

Ketika Al-Qur’an menjelaskan makna takwa di ayat lain, ia mengaitkannya dengan kesadaran moral dan keadilan:

اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Maka revolusi hati yang dimaksud bukan sekadar rasa haru sesaat, melainkan perubahan karakter—dari ego menuju empati, dari lalai menuju sadar.

Syariat yang Bernafaskan Rahmat

Dalam rangkaian ayat yang sama, Allah menegaskan prinsip kemudahan:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, (boleh mengganti) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)

Kemudian ditegaskan kembali:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Puasa bukanlah ritual penyiksaan diri. Ia adalah pendidikan spiritual yang berlandaskan rahmat. Revolusi hati dimulai bukan dengan kekerasan terhadap diri, tetapi dengan kesadaran yang tumbuh perlahan.

Kedekatan Ilahi di Tengah Ayat Puasa

Yang menarik, di tengah pembahasan hukum puasa, Allah menyisipkan ayat tentang kedekatan-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Secara struktural, ayat ini berada di jantung ayat-ayat puasa. Seakan-akan Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa inti puasa adalah kedekatan dengan Allah.

Revolusi hati adalah revolusi jarak—dari merasa jauh menjadi merasa dekat. Dari sekadar menjalankan perintah menjadi merasakan kehadiran.

Puasa dan Kesalehan Sosial

Namun Al-Qur’an tidak pernah memisahkan kedekatan spiritual dari tanggung jawab sosial. Dalam ayat lain ditegaskan:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ… وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ

“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu adalah beriman kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin.”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Puasa yang benar akan melembutkan hati terhadap kaum lemah. Bahkan sejak awal, ayat puasa telah mengaitkan ibadah ini dengan memberi makan orang miskin melalui fidyah.

Artinya, revolusi hati tidak berhenti pada ruang ibadah, tetapi menjalar ke ruang sosial.

Dari Ritual Menuju Kesadaran

Pendekatan Syahida mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an harus utuh—melihat hubungan antar-ayat, memahami tujuan, dan menangkap ruhnya.

Jika puasa hanya menjadi ritual tahunan tanpa perubahan karakter, maka revolusi itu belum terjadi. Namun jika puasa menjadikan kita lebih sabar, lebih jujur, lebih adil, dan lebih peduli, maka hati kita sedang mengalami transformasi.

Ramadan adalah momentum. Ayat-ayat puasa adalah peta. Dan revolusi hati adalah tujuannya.

Akhirnya, puasa bukan hanya tentang menahan diri dari yang halal, tetapi tentang melatih diri meninggalkan yang batil. Di situlah Ramadan menemukan maknanya—sebagai bulan perubahan, bulan kesadaran, dan bulan kedekatan.(syahida)

Example 120x600