Jakarta|PPMIndonesia.com– Dalam rangkaian kajian Qur’an bil Qur’an (kajian syahida) ini, kita telah melihat bagaimana Al-Qur’an menjelaskan dirinya sebagai kitab yang lengkap, penentu kebenaran, penegas peran Rasul, serta fondasi iman dan tanggung jawab individu. Namun pertanyaan penting yang tersisa adalah: mengapa umat justru sering menjauh dari Al-Qur’an?
Menjauh di sini bukan selalu berarti tidak membacanya. Bisa jadi mushaf tetap dibaca, dilantunkan, bahkan diperlombakan. Namun apakah ia benar-benar dijadikan rujukan utama dalam berpikir, menilai, dan mengambil keputusan?
Al-Qur’an sendiri merekam keluhan Rasulullah:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”
(QS. Al-Furqan [25]: 30)
Kata mahjūrā (ditinggalkan) tidak selalu berarti ditolak, tetapi bisa berarti tidak difungsikan sebagaimana mestinya.
Mengikuti Prasangka, Bukan Wahyu
Salah satu sebab umat menjauh adalah kecenderungan mengikuti prasangka dan asumsi yang diwarisi.
إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ
“Mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu.”
(QS. An-Najm [53]: 23)
Ketika hawa nafsu, kepentingan, atau fanatisme kelompok lebih dominan daripada wahyu, maka Al-Qur’an hanya menjadi pelengkap legitimasi, bukan sumber koreksi.
Padahal Allah telah menegaskan:
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
(QS. Al-A’raf [7]: 3 – bagian ayat)
Perintahnya jelas: mengikuti yang diturunkan, bukan yang diasumsikan.
Tradisi Tanpa Evaluasi
Al-Qur’an juga mengungkap kecenderungan manusia mempertahankan tradisi tanpa mengujinya dengan wahyu:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 170)
Tradisi memiliki nilai historis, tetapi tidak boleh menggantikan posisi wahyu sebagai standar kebenaran.
Takut Membaca Secara Langsung
Ada pula kecenderungan menjadikan Al-Qur’an seolah kitab yang terlalu tinggi untuk dipahami langsung. Padahal Al-Qur’an menyatakan dirinya mudah untuk diingat dan dipelajari:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar [54]: 17)
Jika Allah sendiri menyatakan kemudahan Al-Qur’an, maka menjadikannya terlalu sulit untuk disentuh justru bertentangan dengan kesaksiannya.
Memecah Wahyu Menjadi Fragmen
Sikap menjauh juga bisa terjadi ketika ayat-ayat dipilih sesuai kepentingan, bukan dipahami secara utuh.
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah [2]: 85)
Menerima sebagian dan mengabaikan sebagian lain adalah bentuk menjauh yang halus tetapi serius.
Kembali kepada Fungsi Asal
Al-Qur’an menjelaskan dirinya sebagai petunjuk dan pembeda:
هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
(QS. Al-Baqarah [2]: 185 – bagian ayat)
Petunjuk hanya berfungsi jika dijadikan rujukan. Pembeda hanya bekerja jika dijadikan standar.
Mendekat dengan Kesadaran
Kajian syahida menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan dirinya dengan sangat jelas. Jika umat menjauh, penyebabnya bukan pada kekurangan wahyu, melainkan pada sikap manusia terhadapnya.
Allah mengingatkan:
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ
“Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku.”
(QS. Qaf [50]: 45 – bagian ayat)
Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk mengingatkan, mengoreksi, dan membimbing.
Maka pertanyaan reflektif bagi kita semua: apakah kita benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi hidup, atau hanya menjadikannya simbol yang dihormati tetapi jarang dijadikan penentu? (syahida)



























