Jakarta|PPMIndonesia.com — Wacana penggantian atap seng menjadi genteng yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto menuai beragam tanggapan. Program yang disebut sebagai bagian dari Gerakan Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, Indah) itu dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Namun, di negara yang berada di cincin api Pasifik dan rawan gempa seperti Indonesia, gagasan tersebut memunculkan pertanyaan: apakah genteng cocok untuk semua?
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Sentul, Bogor, awal Februari 2026, Presiden menyoroti masih banyaknya rumah warga—terutama di perdesaan—yang menggunakan atap seng.
Seng dinilai membuat rumah lebih panas dan rentan berkarat. Karena itu, ia mendorong penggunaan genteng secara lebih luas melalui gerakan nasional yang populer disebut “gentengisasi”.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan, sebanyak 40.913.287 rumah tangga atau sekitar 57,93 persen telah menggunakan genteng sebagai atap rumah. Artinya, lebih dari separuh rumah tangga memang telah beralih ke material tersebut. Namun, masih terdapat jutaan rumah lainnya yang menggunakan seng maupun material alternatif.
Antara Kenyamanan dan Risiko Struktur
Secara umum, genteng dikenal lebih baik dalam meredam panas sehingga suhu di dalam rumah terasa lebih sejuk. Di wilayah dataran rendah dan beriklim panas, keunggulan ini menjadi nilai tambah. Namun, kenyamanan termal bukan satu-satunya variabel dalam menentukan pilihan material atap.
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ashar Saputra, mengingatkan bahwa setiap material memiliki konsekuensi teknis yang berbeda.
Seng berbentuk lembaran dan relatif ringan sehingga dapat dipasang pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan sekitar 5 persen. Sementara itu, genteng umumnya membutuhkan kemiringan lebih dari 30 persen agar berfungsi optimal.
Perbedaan ini berdampak pada desain rangka atap dan struktur bangunan. Genteng tanah liat, keramik, maupun beton memiliki bobot lebih berat dibandingkan seng. Beban tambahan tersebut harus ditopang oleh struktur yang memadai.
Di negara rawan gempa, massa bangunan menjadi faktor penting. Semakin berat beban di bagian atas bangunan, semakin besar pula gaya inersia yang timbul saat terjadi guncangan. Tanpa perencanaan struktur yang tepat, penggantian atap seng dengan genteng berpotensi meningkatkan risiko kerusakan.
“Penambahan beban harus dihitung secara cermat. Tidak bisa serta-merta mengganti material tanpa meninjau kesiapan struktur,” ujar Ashar dalam keterangan yang dikutip dari laman UGM.
Konteks Geografis dan Budaya
Indonesia memiliki kondisi geografis dan iklim yang sangat beragam. Di wilayah pegunungan yang berhawa dingin, material yang mampu menyerap dan memantulkan panas matahari justru membantu menjaga kehangatan ruangan. Dalam konteks tersebut, seng dapat menjadi pilihan yang sesuai.
Selain itu, dimensi sosial-budaya juga perlu dipertimbangkan. Arsitektur tradisional seperti Rumah Gadang di Sumatera Barat, Tongkonan di Toraja, maupun rumah adat di Nias dan Papua memiliki karakter atap yang khas dan menggunakan material lokal seperti ijuk atau sirap. Penyeragaman material berpotensi mengubah karakter arsitektural yang menjadi identitas budaya setempat.
Prinsip Bhineka Tunggal Ika menegaskan bahwa keberagaman merupakan realitas sekaligus kekuatan Indonesia. Karena itu, kebijakan hunian berskala nasional idealnya tetap memberi ruang adaptasi terhadap kondisi lokal.
Menghindari Pendekatan Seragam
Wacana gentengisasi pada dasarnya lahir dari niat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hunian yang aman, sehat, dan nyaman merupakan kebutuhan dasar yang tak terbantahkan. Namun, kebijakan yang efektif memerlukan pendekatan berbasis data, analisis risiko, serta pemetaan kondisi struktural bangunan di berbagai daerah.
Alih-alih pendekatan seragam, sejumlah kalangan menilai diperlukan fleksibilitas kebijakan yang mempertimbangkan aspek teknis, geografis, budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Pertanyaan yang mengemuka bukan sekadar apakah genteng lebih baik dari seng, melainkan apakah setiap rumah di Indonesia siap secara struktural untuk perubahan tersebut.
Di negeri yang berdiri di atas pertemuan lempeng tektonik, keputusan sekecil apa pun dalam desain bangunan memiliki implikasi besar terhadap keselamatan. Maka, sebelum genteng menjadi pilihan untuk semua, kesiapan struktur dan konteks lokal perlu diuji dengan cermat. (acank)



























