Scroll untuk baca artikel
BeritaTokoh

Menjembatani Iman dan Perdamaian: Jejak Global M. Habib Chirzin dari Pabelan ke Paris

4
×

Menjembatani Iman dan Perdamaian: Jejak Global M. Habib Chirzin dari Pabelan ke Paris

Share this article

Penulis: m habib chirzin| Editor: asyary

M. Habib Chirzin (kanan/posisi beliau) berfoto bersama para delegasi dunia seusai forum Global Ethics on Interfaith di Markas Besar UNESCO, Paris, April 2003. Kehadirannya sebagai panelis menjadi representasi penting bagi pemikiran Islam moderat Indonesia dalam merumuskan etika global dan dialog antarperadaban di kancah internasional (doc.mhc)

Magelang|PPMIndonesia.com- Pada musim semi April 2003, M. Habib Chirzin kembali menjejakkan kaki di Paris. Itu bukan kunjungan biasa. Ia diundang menjadi panelis dalam forum Global Ethics on Interfaith di kantor pusat UNESCO—sebuah ruang perjumpaan gagasan lintas agama dan lintas peradaban.

Di forum tersebut, Habib duduk sejajar dengan sejumlah pemikir dan aktivis perdamaian dunia: David Chappell dari University of Hawai‘i; Presiden Just World Trust Malaysia; Dr. Wolfgang Schmith dari World Council of Churches; Sulak Sivaraksa, Presiden INEB; serta Dharma Master Hsin Tao dari World Love and Peace, Taiwan.

Forum itu bukan sekadar diskusi akademik. Ia adalah ruang etika global—tempat agama-agama dipertemukan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk menyumbangkan nilai bagi perdamaian dunia.

Selepas forum, rombongan mengunjungi Masjid Jamee di Paris, dengan tamannya yang indah dan teduh. Siang itu ditutup dengan makan bersama di restoran Turki di sudut masjid—sebuah simbol sederhana tentang harmoni: dialog intelektual yang berlanjut dalam persaudaraan kemanusiaan.

Paris Pertama: Dari Pabelan ke Sekretariat Internasional

Namun, Paris 2003 bukanlah yang pertama bagi Habib. Ia mengingat, musim panas 1979 menjadi titik awal perjalanannya di kota itu. Saat itu ia masih mengajar di Pondok Pabelan, masih kuliah di Universitas Gadjah Mada, dan belum menikah.

Tahun itu ia terpilih menjadi anggota Sekretariat ISD (International Study Days) di Paris untuk masa tugas 1979–1981. Bagi seorang guru muda dari pesantren, kesempatan itu merupakan pintu perjumpaan dengan dinamika pemikiran global.

Di Paris, ia belajar bahwa dialog bukan hanya konsep, tetapi praksis. Bukan hanya teori, tetapi laku hidup.

Jejak Peace Studies: Groningen, Austria, dan Para Guru Dunia

Perjalanan intelektual Habib tidak berhenti di Paris. Pada Juli 1990, ia menghadiri 25th Anniversary dan Konferensi IPRA di Rijksuniversiteit Groningen, Belanda. Di sana ia bertemu sejumlah tokoh besar dalam studi perdamaian: Johan Galtung, Elise Boulding, dan Kenneth Boulding.

Dua tahun kemudian, pada 1992, ia berkunjung ke European Peace University (EPU) di Stadtschlaining, Austria—sebuah institusi yang menjadi salah satu pusat penting kajian peace studies di Eropa.

Di lingkungan itulah tradisi studi perdamaian diperkaya oleh pemikir seperti Håkan Wiberg dan Peter Wallensteen, yang dikenal luas dalam kajian konflik dan resolusi damai.

Bagi Habib, pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar jejaring akademik, melainkan pembelajaran spiritual dan intelektual. Perdamaian bukan sekadar absennya perang, tetapi hadirnya keadilan dan etika global.

Dari War Studies ke Peace Studies: Dialog Generasi

Kisah ini berkelindan dengan cerita generasi berikutnya. Pada April 2003, saat Habib menjadi panelis di Paris, seorang akademisi muda Indonesia, Riefqi Muna, baru dua bulan memulai studi doktoralnya di Royal Military College of Science (RMCS), Cranfield University, Shrivenham, Inggris—yang kini menjadi bagian dari Defence Academy of the United Kingdom.

Riefqi menempuh jalur military studies sebagai pendekatan untuk memahami peace studies—sebuah paradoks yang justru mencerminkan kedalaman pencarian: memahami perdamaian melalui studi tentang perang. Tradisi ini juga dikenal dalam kajian War Studies di King’s College London.

Percakapan antara Habib dan generasi akademisi seperti Riefqi menunjukkan kesinambungan: dari dialog agama di UNESCO hingga kajian konflik di kampus pertahanan, semua bermuara pada satu tujuan—mencari jalan damai bagi umat manusia.

Etika Global sebagai Jalan Tengah

Dalam dunia yang kerap terbelah oleh identitas dan kepentingan, perjalanan M. Habib Chirzin menunjukkan satu hal penting: bahwa pesantren, kampus, dan forum internasional dapat dipertemukan dalam satu misi kemanusiaan.

Ia bergerak dari ruang kelas Pondok Pabelan ke panggung global di Paris; dari diskusi pesantren ke pertemuan para pemikir perdamaian dunia. Benang merahnya tetap sama: etika, dialog, dan kemaslahatan bersama.

Perjalanan itu juga memperlihatkan bahwa diplomasi spiritual dan intelektual Indonesia memiliki akar kuat. Ketika tokoh-tokoh lintas agama dan lintas bangsa duduk bersama membicarakan etika global, kehadiran seorang ulama dari Indonesia menjadi penanda bahwa Islam Indonesia membawa wajah damai—bukan defensif, tetapi kontributif.

Dari Paris 1979 hingga Paris 2003, dari Groningen hingga Austria, jejak itu membentuk satu narasi: perdamaian adalah kerja panjang, lintas generasi, lintas disiplin, dan lintas iman.

Dan di antara forum-forum besar dunia, terkadang ia ditutup dengan hal sederhana: makan siang bersama—karena dialog yang sejati selalu berakhir dengan kemanusiaan. (m habib chirzin)

Example 120x600