Antara Kesombongan Spiritual dan Hakikat Ketundukan
Jakarta|PPMIndonesia.com- Ada satu penyakit rohani yang jarang disadari: merasa bahwa amal kita memberi “hak” untuk menuntut Allah. Kita shalat, kita sedekah, kita berdakwah, lalu diam-diam muncul keyakinan: seharusnya Allah membalas sesuai standar kita.
Padahal dalam tauhid, tidak ada ruang untuk mentalitas mengancam Tuhan dengan amal.
Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas bahwa semua kebaikan sejatinya adalah anugerah-Nya.
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 17)
Ayat ini membalik cara pandang kita. Bukan kita yang berjasa kepada Allah dengan amal, tetapi Allah yang berjasa kepada kita dengan hidayah untuk beramal.
Amal Bukan Alat Tawar
Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan satu pola penting: setiap kali Al-Qur’an menyebut pahala, ia selalu dikaitkan dengan rahmat Allah, bukan klaim manusia.
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari dosa) selama-lamanya.”
(QS. An-Nur [24]: 21)
Ayat ini menegaskan bahwa kesalehan pun tidak lahir dari kemampuan independen manusia. Ia lahir dari karunia dan rahmat.
Namun sering kali manusia tergelincir dalam kesadaran tersembunyi: “Saya sudah berbuat banyak, mengapa hidup saya tetap sulit?” Pertanyaan ini sah sebagai keluhan, tetapi berbahaya ketika berubah menjadi gugatan.
Al-Qur’an menegur mentalitas semacam ini melalui kisah Qarun:
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash [28]: 78)
Merasa bahwa keberhasilan adalah murni hasil usaha pribadi adalah awal kesombongan. Demikian pula merasa bahwa pahala pasti datang sesuai hitungan kita adalah bentuk lain dari kesombongan spiritual.
Ketika Ibadah Menjadi Alasan Menyalahkan Takdir
Dalam banyak ayat, Al-Qur’an menekankan bahwa manusia akan diuji, bahkan setelah beriman.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?”
(QS. Al-‘Ankabut [29]: 2)
Iman bukan kontrak bebas ujian. Amal bukan jaminan hidup tanpa cobaan. Justru ujian adalah bagian dari skenario pendidikan Ilahi.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:
“Janganlah engkau tertipu oleh amalmu, karena amal itu sendiri adalah karunia dari Allah.”
Kesadaran ini membongkar akar kesombongan spiritual. Kita tidak pernah benar-benar “membayar” sesuatu kepada Allah dengan amal. Kita hanya menunaikan kewajiban sebagai hamba.
Amal dan Rahmat
Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan bahwa keselamatan tidak semata-mata karena amal.
Dalam sebuah hadis sahih, beliau bersabda bahwa tidak seorang pun masuk surga hanya karena amalnya, kecuali karena rahmat Allah. Bahkan beliau sendiri, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.
Al-Qur’an menegaskan:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”
(QS. Yunus [10]: 58)
Bukan dengan amal kita semata, tetapi dengan karunia dan rahmat-Nya.
Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam menulis:
“Amalmu tidak akan memasukkanmu ke surga, tetapi rahmat Allah-lah yang memasukkanmu. Amal hanyalah sebab yang Dia ciptakan.”
Dari Ancaman ke Kerendahan Hati
Mengancam Allah dengan amal sering kali terjadi secara halus. Bukan dengan ucapan keras, tetapi dengan rasa kecewa yang berubah menjadi tudingan: “Saya sudah taat, mengapa begini balasannya?”
Padahal Allah telah mengingatkan:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.”
(QS. Al-Anbiya [21]: 23)
Ayat ini menempatkan posisi manusia dengan jelas. Kita adalah hamba, bukan penilai Tuhan.
Kesalehan sejati bukanlah ketika kita rajin beramal, tetapi ketika kita tetap rendah hati setelah beramal. Ketika kita tetap merasa fakir di hadapan Allah, meski telah bersujud ribuan kali.
Penutup
Berhentilah mengancam Allah dengan amal kita. Berhentilah merasa berjasa atas iman dan ibadah yang justru Dia anugerahkan.
Jalan tengah Al-Qur’an adalah jalan kehambaan: beramal dengan sungguh-sungguh, berharap pahala dengan rendah hati, dan menerima takdir dengan lapang dada. Amal adalah kewajiban, bukan alat tawar. Rahmat adalah anugerah, bukan hak yang bisa ditagih.
Iman yang matang tidak berkata, “Saya pantas dibalas.”
Ia berkata, “Ya Allah, terimalah amal kecil ini dan limpahkan rahmat-Mu.” (syahida)



























