Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap Ramadan, masjid penuh. Jadwal kajian padat. Media sosial ramai dengan konten tausiyah. Lomba tilawah, buka bersama, tarawih berjamaah, i’tikaf massal—semua menjadi pemandangan yang menggembirakan.
Namun, di tengah keramaian itu, patutkah kita bertanya dengan jujur:
apakah Ramadan yang kita jalani benar-benar telah sesuai dengan konstruksi Al-Qur’an?
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an—menafsirkan ayat dengan ayat—dan kajian syahida—membiarkan Al-Qur’an bersaksi atas dirinya sendiri—kita mencoba kembali kepada fondasi nash, bukan sekadar tradisi.
Apa Tujuan Puasa Menurut Al-Qur’an?
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa orientasi puasa adalah takwa—kesadaran penuh terhadap Allah dalam seluruh dimensi kehidupan.
Ramadan bukan sekadar ritual kolektif, tetapi proses pembentukan kesadaran spiritual dan moral.
Ramadan dan Al-Qur’an: Pusat yang Sering Bergeser
Allah menegaskan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ…
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)…”
(Al-Baqarah: 185)
Secara tekstual, ayat ini tidak menyebut tarawih, lomba, atau seremoni. Yang ditegaskan justru adalah fungsi Al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk), bayyinat (penjelasan), dan furqan (pembeda).
Pertanyaannya:
Apakah Ramadan kita lebih fokus pada interaksi mendalam dengan Al-Qur’an, atau justru lebih sibuk pada kemeriahan aktivitas?
Batas-Batas yang Sering Terabaikan
Dalam ayat yang sama, Allah menutup penjelasan puasa dengan peringatan tegas:
تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا
“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
(Al-Baqarah: 187)
Menariknya, peringatan ini muncul setelah penjelasan detail tentang waktu makan, hubungan suami istri, dan batas fajar hingga malam.
Artinya, Ramadan bukan hanya tentang semangat ibadah, tetapi juga tentang disiplin terhadap batas (hududullah).
Keramaian tidak boleh mengaburkan kepatuhan terhadap detail syariat.
Malam Ramadan: Antara Qiyam dan Substansi
Allah berfirman:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ… وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istrimu… dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(Al-Baqarah: 187)
Ayat ini menunjukkan bahwa malam Ramadan adalah ruang keseimbangan: ibadah, keluarga, dan penguatan generasi.
Namun dalam praktik, malam Ramadan sering berubah menjadi maraton aktivitas—hingga ruh kesadaran justru menipis.
Prinsip Keseimbangan dalam Al-Qur’an
Allah mengingatkan:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan.”
(Al-Baqarah: 143)
Ramadan bukan bulan euforia spiritual tanpa kendali, dan bukan pula bulan rutinitas tanpa makna. Ia adalah madrasah keseimbangan—antara ibadah ritual, akhlak sosial, dan pembinaan keluarga.
Kajian Syahida: Membiarkan Ayat Bersaksi
Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita melihat bahwa:
- Tujuan puasa adalah takwa (2:183)
- Ramadan adalah bulan Al-Qur’an (2:185)
- Ada batas-batas yang harus dijaga (2:187)
- Umat Islam dituntut menjadi moderat (2:143)
Tidak ada satu pun ayat yang menekankan kemeriahan sebagai tujuan. Yang ditekankan adalah kesadaran, kedisiplinan, dan transformasi moral.
Refleksi: Ramadan yang Ramai atau Ramadan yang Mengubah?
Ramadan memang layak dirayakan dengan semangat. Tetapi semangat tanpa kedalaman dapat berubah menjadi rutinitas kolektif yang kehilangan arah.
Maka pertanyaan reflektifnya adalah:
- Apakah interaksi kita dengan Al-Qur’an semakin mendalam?
- Apakah batas-batas Allah semakin kita jaga?
- Apakah takwa semakin terasa dalam keputusan hidup sehari-hari?
Jika belum, mungkin Ramadan kita terlalu ramai—namun belum sepenuhnya sesuai dengan Al-Qur’an.
Penutup
Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Maka sudah semestinya ia dikembalikan kepada Al-Qur’an.
Bukan sekadar diramaikan, tetapi dihayati.
Bukan sekadar dipenuhi agenda, tetapi dipenuhi kesadaran.
Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan keramaiannya—melainkan ketakwaannya. (syahida)



























