Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ikutilah Apa yang Diturunkan Kepadamu”: Seruan yang Terlupakan

5
×

Ikutilah Apa yang Diturunkan Kepadamu”: Seruan yang Terlupakan

Share this article

Kajian syahida - Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Di tengah derasnya arus ceramah, tafsir, pendapat, dan tradisi keagamaan, ada satu seruan Al-Qur’an yang justru terdengar semakin lirih: ikutilah apa yang diturunkan kepadamu. Seruan ini bukan sekadar ajakan spiritual, tetapi perintah langsung yang berulang kali ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Apakah umat benar-benar telah menjadikan wahyu sebagai rujukan utama? Ataukah kita lebih sibuk mengikuti otoritas, kebiasaan, dan suara mayoritas?

Kajian ini mencoba membaca Al-Qur’an dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an (kajian syahida) — membiarkan ayat menjelaskan ayat — untuk melihat kembali makna seruan tersebut.

Perintah yang Tegas dan Langsung

Allah berfirman:

اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”
(QS. Al-An‘am: 106)

Ayat ini menggunakan bentuk perintah langsung: ittabi‘ — ikutilah. Objeknya jelas: maa uuhiya ilaika — apa yang diwahyukan kepadamu.

Seruan ini tidak berbunyi “ikutilah pendapat manusia”, bukan pula “ikutilah mayoritas”, melainkan wahyu yang diturunkan.

Penegasan serupa kembali diulang:

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.”
(QS. Al-A‘raf: 3)

Di sini, Al-Qur’an menempatkan dua pilihan yang kontras: mengikuti wahyu atau mengikuti selain-Nya.

Wahyu Sudah Cukup dan Terperinci

Mengapa perintah mengikuti wahyu begitu tegas? Karena Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa ia telah dijelaskan secara rinci.

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
“Maka apakah patut aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci?”
(QS. Al-An‘am: 114)

Dan juga:

مَّا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِن شَيْءٍ
“Tidaklah Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab.”
(QS. Al-An‘am: 38)

Jika kitab telah dijelaskan dan tidak ada yang diluputkan dalam fungsinya sebagai petunjuk, maka logis bila umat diminta untuk kembali langsung kepadanya.

Mengapa Seruan Itu Terlupakan?

Al-Qur’an sendiri memberi gambaran tentang kecenderungan manusia:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘am: 116)

Mayoritas bukan ukuran kebenaran.

Selain itu, ada kecenderungan mengikuti tradisi:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.”
(QS. Az-Zukhruf: 23)

Ketika wahyu berbenturan dengan tradisi atau otoritas sosial, sering kali yang dipilih adalah kebiasaan lama.

Tanggung Jawab Individu

Yang menarik, Al-Qur’an tidak meletakkan tanggung jawab pemahaman sepenuhnya pada otoritas kolektif. Setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra: 36)

Ayat ini mengingatkan bahwa mengikuti tanpa ilmu bukanlah jalan yang dibenarkan.

Kembali kepada Seruan Awal

Seruan “ikutilah apa yang diturunkan kepadamu” bukanlah slogan kosong. Ia adalah fondasi metodologis: wahyu sebagai pusat, bukan sekadar pelengkap.

Mengikuti wahyu bukan berarti menolak tradisi atau ulama, tetapi menempatkan semuanya dalam posisi yang tunduk kepada Al-Qur’an.

Jika umat ingin bangkit dari kebingungan dan perpecahan, maka titik awalnya bukan memperbanyak perdebatan, melainkan memperkuat komitmen kepada wahyu.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang akan diajukan bukanlah: “Siapa yang kamu ikuti?” tetapi “Apakah kamu mengikuti apa yang diturunkan?”(syahida).

Example 120x600