Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Syahr dan Qamar: Memahami Terminologi Waktu dalam Al-Qur’an

4
×

Syahr dan Qamar: Memahami Terminologi Waktu dalam Al-Qur’an

Share this article

Kajian syahida - Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap memasuki Ramadan, perbincangan tentang awal bulan kembali mengemuka. Istilah rukyat, hisab, dan “melihat hilal” menjadi tema yang berulang. Namun jarang kita bertanya lebih mendasar: bagaimana sebenarnya Al-Qur’an menggunakan istilah waktu? Apakah ia menggunakan satu kata saja, atau memiliki terminologi yang berbeda?

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita tidak cukup berhenti pada satu ayat. Kita menelusuri keseluruhan ayat yang berkaitan agar makna menjadi utuh. Di sinilah penting memahami dua istilah kunci: syahr (شهر) dan qamar (قمر).

Syahr: Bulan sebagai Sistem Waktu

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Kata yang digunakan adalah syahr, bukan qamar. Syahr dalam Al-Qur’an menunjuk pada periode waktu yang terhitung, bukan benda langit yang terlihat.

Hal ini diperkuat dalam ayat lain:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah dua belas bulan.”
(QS. At-Taubah: 36)

Di sini digunakan bentuk jamak asyhur (bulan-bulan), yang jelas merujuk pada sistem kalender, bukan pada objek fisik bulan di langit.

Dengan demikian, ketika Al-Qur’an berbicara tentang Ramadan sebagai syahr, ia sedang berbicara tentang sistem waktu yang memiliki hitungan.

Qamar: Bulan sebagai Benda Langit

Berbeda dengan syahr, istilah qamar digunakan untuk menyebut bulan sebagai makhluk ciptaan Allah yang bercahaya.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah bagi bulan itu agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.”
(QS. Yunus: 5)

Ayat ini menjelaskan bahwa qamar memiliki fase-fase (manāzil) agar manusia mengetahui bilangan tahun dan hisab (perhitungan).

Artinya, qamar adalah instrumen kosmik yang memungkinkan lahirnya sistem syahr. Ia bukan tujuan ibadah, melainkan sarana untuk memahami waktu.

Syahida Syahra: Menyaksikan atau Membuktikan?

Allah berfirman:

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
“Maka barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Perhatikan, yang digunakan adalah frasa syahida syahra, bukan ra’a al-qamara (melihat bulan). Ini menarik.

Kata syahida dalam Al-Qur’an memiliki makna lebih luas dari sekadar melihat. Ia juga bermakna:

  • Menghadiri
  • Membuktikan
  • Menyadari secara pasti

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, makna ini dikuatkan oleh ayat-ayat yang menekankan hisab (perhitungan). Jika qamar diciptakan untuk mengetahui bilangan dan perhitungan, maka menyaksikan syahr bisa dimaknai sebagai membuktikan datangnya periode waktu melalui sistem yang telah Allah tetapkan.

Hisab sebagai Sunnatullah

Masih dalam QS. Yunus: 5, Allah menegaskan fungsi perhitungan:

لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ
“…agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.”

Kata hisab menunjukkan bahwa Islam mengenal dan mendorong sistem perhitungan yang akurat. Matahari dan bulan tunduk pada hukum tetap.

Allah juga berfirman:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.”
(QS. Ar-Rahman: 5)

Jika peredaran qamar sendiri berjalan dengan perhitungan, maka sistem syahr pun berada dalam koridor ketetapan matematis yang presisi.

Mengurai Perbedaan dengan Ilmu

Perbedaan dalam menentukan awal bulan sering kali muncul karena pendekatan yang berbeda terhadap makna syahida. Sebagian menekankan observasi visual, sebagian menekankan hisab.

Namun jika kita kembali kepada Al-Qur’an secara menyeluruh, tampak bahwa:

  • Syahr adalah periode waktu terhitung
  • Qamar adalah benda langit yang memiliki fase
  • Hisab adalah mekanisme mengetahui bilangan waktu
  • Syahida dapat bermakna pembuktian yang sadar dan pasti

Dengan demikian, Al-Qur’an membuka ruang pendekatan ilmiah tanpa meninggalkan spiritualitas.

Tujuan Akhir: Bukan Perdebatan, tetapi Ketakwaan

Pada akhirnya, Allah menutup ayat Ramadan dengan tujuan yang jelas:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“…Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Yang ditekankan adalah:

  1. Menyempurnakan bilangan
  2. Mengagungkan Allah
  3. Menjadi hamba yang bersyukur

Bukan mempertajam perpecahan.

Kembali kepada Bahasa Al-Qur’an

Memahami perbedaan antara syahr dan qamar bukan sekadar kajian linguistik, tetapi upaya kembali kepada metodologi Al-Qur’an sendiri. Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita diajak membaca ayat secara terpadu, tidak terpotong-potong.

Mungkin persoalannya bukan pada siapa yang paling cepat melihat hilal, tetapi pada seberapa dalam kita memahami bahasa wahyu.

Karena waktu dalam Islam bukan sekadar peredaran benda langit—
ia adalah tanda kebesaran Allah yang mengajarkan disiplin, keteraturan, dan ketundukan pada hukum-Nya.(syahida)

Example 120x600