Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (1): Menggembirakan Istri dan Mencari Ketetapan Allah

2
×

Al-Qur’an Menjelaskan Ramadan (1): Menggembirakan Istri dan Mencari Ketetapan Allah

Share this article

Kajian Syahida- Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Ramadan sering dipahami sebatas ibadah menahan lapar dan dahaga di siang hari serta memperbanyak salat malam. Namun jika kita kembali membaca Al-Qur’an dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an—menafsirkan ayat dengan ayat—kita menemukan bahwa konstruksi Ramadan jauh lebih utuh dan menyentuh dimensi keluarga, kemanusiaan, serta keberlanjutan generasi.

Melalui kajian syahida, yakni membiarkan ayat bersaksi atas dirinya sendiri, kita mulai dari teks paling eksplisit tentang puasa: Surah Al-Baqarah ayat 187.

Ayat yang Jarang Dibahas Secara Utuh

Allah berfirman:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّـهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّـهُ لَكُمْ…

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu dahulu mengkhianati dirimu sendiri, lalu Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah Allah tetapkan bagimu…”
(Al-Baqarah: 187)

Ayat ini luar biasa. Di tengah pembahasan puasa, Allah justru berbicara tentang relasi suami-istri, kehangatan, dan pencarian ketetapan-Nya.

“Hunna Libasun Lakum”: Relasi yang Menggembirakan

Frasa:

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, makna “libas” (pakaian) dapat dipahami melalui ayat lain:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian (penutup).”
(An-Naba: 10)

Pakaian berfungsi menutup, melindungi, menghangatkan, dan memperindah. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang menguatkan relasi keluarga secara terhormat dan menggembirakan.

Al-Qur’an tidak menggambarkan relasi ini sebagai beban, melainkan sebagai kenikmatan yang dihalalkan secara eksplisit pada malam Ramadan.

“Wabtaghu Ma Kataballahu Lakum”: Mencari Ketetapan Allah

Bagian yang sering terlewat adalah perintah:

وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّـهُ لَكُمْ

“Dan carilah apa yang telah Allah tetapkan bagimu.”

Apa yang dimaksud dengan “ketetapan Allah” di sini?

Dengan metode Qur’an bil Qur’an, kita menemukan bahwa kata kataba (menetapkan) sering berkaitan dengan ketentuan Ilahi yang bersifat pasti dan bernilai maslahat.

Misalnya:

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.”
(Al-An’am: 54)

Dalam konteks Ramadan, banyak ulama memahami “ma kataballahu lakum” sebagai keturunan yang saleh, keberlanjutan generasi, atau kebaikan yang Allah takdirkan melalui relasi suami-istri.

Artinya, Ramadan bukan hanya madrasah spiritual individual, tetapi juga proyek peradaban melalui keluarga.

Keseimbangan Siang dan Malam

Masih dalam ayat yang sama, Allah menegaskan:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(Al-Baqarah: 187)

Siang adalah ruang disiplin dan pengendalian diri.
Malam adalah ruang relasi, doa, dan keberlanjutan generasi.

Keduanya seimbang.

Tilka Hududullah: Jangan Melampaui Batas

Ayat ini ditutup dengan peringatan tegas:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّـهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.”
(Al-Baqarah: 187)

Ramadan bukan sekadar kemeriahan ibadah, tetapi kepatuhan terhadap batas waktu, batas etika, dan batas relasi.

Refleksi: Ramadan yang Utuh

Melalui kajian syahida, kita melihat bahwa Al-Qur’an menggambarkan Ramadan sebagai:

  • Bulan turunnya Al-Qur’an (2:185)
  • Madrasah takwa (2:183)
  • Ruang penguatan keluarga (2:187)]
  • Momentum mencari ketetapan Allah

Ramadan bukan asketisme yang memusuhi fitrah manusia. Ia justru memuliakan fitrah dalam bingkai halal dan batas yang jelas.

Maka menggembirakan istri di malam Ramadan bukan distraksi dari ibadah—ia bagian dari konstruksi ibadah itu sendiri, selama berada dalam hududullah.

Penutup

Jika kita membaca Ramadan hanya sebagai ritual menahan lapar, kita kehilangan separuh pesan Al-Qur’an.

Namun jika kita membacanya secara utuh melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita menemukan bahwa Ramadan adalah madrasah takwa, sekolah keluarga, dan proyek keberlanjutan generasi.

Inilah Ramadan yang dijelaskan langsung oleh Al-Qur’an. (syahida)

(Bersambung ke Seri 2: “Ilal-Lail dan Penyempurnaan Puasa dalam Perspektif Qur’an bil Qur’an”)

Example 120x600