Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap Ramadan, umat Islam berbondong-bondong menjalankan ibadah puasa. Namun Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan puasa sebagai kewajiban ritual, melainkan sebagai sarana pembentukan karakter dan penjernihan cara beragama.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an—yakni memahami ayat dengan merujuk pada ayat lainnya—dan pendekatan syahida (kesaksian tekstual internal Al-Qur’an), kita dapat melihat bahwa puasa memiliki dimensi lahir dan batin yang saling melengkapi.
Puasa dan Tujuan Takwa
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Kata kunci dari ayat ini adalah la‘allakum tattaqun—agar kamu bertakwa. Takwa bukan hanya kepatuhan formal, tetapi kesadaran moral yang hidup: kejujuran, keadilan, empati, dan pengendalian diri.
Dengan demikian, puasa bukan tujuan akhir, melainkan sarana menuju kualitas iman yang lebih matang.
Menyempurnakan Puasa: Apa Maknanya?
Allah kembali menegaskan:
وَأَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Dan sempurnakanlah puasa itu sampai malam.”
(QS. Al-Baqarah: 187)
Kata atimmu (sempurnakanlah) menunjukkan bahwa puasa tidak cukup dijalankan sekadar formalitas. Ada tuntutan kesempurnaan—baik dalam batas waktu maupun dalam kualitas pengendalian diri.
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita melihat bagaimana Al-Qur’an menggambarkan malam:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَىٰ
“Demi malam apabila ia menutupi (dengan gelapnya).”
(QS. Al-Lail: 1)
Ayat ini memberi pemahaman bahwa “malam” adalah fase ketika kegelapan menyelimuti. Artinya, penyempurnaan puasa bukan sekadar hitungan jam, tetapi ketaatan yang disertai kesadaran.
Namun yang lebih penting dari persoalan teknis waktu adalah sikap hati: apakah puasa kita dijalankan dengan ketenangan atau justru dengan perdebatan yang memecah belah?
Makna Dasar Puasa: Menahan Diri
Dalam kisah Maryam, Al-Qur’an menggunakan istilah shaum:
إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”
(QS. Maryam: 26)
Di sini, puasa berarti menahan diri dari berbicara. Ini adalah kesaksian Qur’ani bahwa esensi puasa adalah pengendalian diri (imsak), bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Jika lisan masih mudah mencela, jika hati masih dipenuhi kebencian, maka puasa belum menyentuh akarnya.
Puasa dan Prinsip Kemudahan
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa syariat tidak dimaksudkan untuk memberatkan:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini berada dalam rangkaian ayat tentang puasa. Artinya, Islam memadukan ketegasan prinsip dengan kelapangan rahmat. Orang sakit dan musafir diberi keringanan. Agama ini tidak dibangun di atas kesulitan yang berlebihan.
Menjernihkan cara beragama berarti memahami keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang.
Puasa dan Persaudaraan
Puasa seharusnya memperkuat solidaritas sosial. Al-Qur’an mengingatkan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Jika dalam bulan Ramadan justru muncul saling mencaci dan merendahkan, maka ada yang perlu dibenahi dalam pemahaman kita.
Puasa adalah pendidikan jiwa agar lembut, bukan keras. Ia mendidik empati terhadap yang lapar dan kepekaan terhadap yang lemah.
Menjernihkan Cara Beragama
Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia berpikir:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu berpikir?”
(QS. Al-Baqarah: 44)
Beragama secara jernih berarti menempatkan wahyu sebagai pedoman utama, sekaligus menggunakan akal dengan tanggung jawab. Wahyu adalah cahaya; tafsir adalah upaya manusia memahami cahaya itu.
Dengan kesadaran ini, perbedaan tidak menjadi alasan perpecahan, melainkan ruang dialog dan pendewasaan.
Ramadan sebagai Sekolah Kedewasaan
Menyempurnakan puasa berarti memperbaiki kualitas diri—bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego. Menjernihkan cara beragama berarti mengedepankan adab, persaudaraan, dan kerendahan hati.
Ramadan seharusnya melahirkan manusia yang lebih damai, lebih adil, dan lebih bijak. Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih lembut dan lebih menghargai perbedaan, maka puasa kita telah menyentuh maknanya yang terdalam.
Sebab pada akhirnya, yang dinilai Allah bukan sekadar ritual, melainkan kejernihan hati dalam menjalankan wahyu-Nya. (syahida)



























