Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Bershalawat kepada Nabi: Ritual Lisan atau Komitmen Iman?

4
×

Bershalawat kepada Nabi: Ritual Lisan atau Komitmen Iman?

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Di setiap khutbah Jumat, majelis taklim, dan doa bersama, umat Islam hampir selalu mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ucapan itu merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh ketundukan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini jelas merupakan perintah. Namun pertanyaan mendasarnya: apakah makna “shalawat” dan “taslim” yang kita pahami selama ini benar-benar sesuai dengan penjelasan Al-Qur’an itu sendiri?

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida), satu ayat dipahami dengan ayat lain agar maknanya utuh, konsisten, dan tidak terlepas dari konteks wahyu.

Shalawat: Apa Maknanya dalam Al-Qur’an?

Kata kerja yushallūna dalam QS 33:56 bukan hanya digunakan untuk Nabi. Dalam ayat lain, kata yang sama juga digunakan untuk kaum mukmin:

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَـٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Dialah yang bershalawat atas kamu dan para malaikat-Nya (juga), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya.”
(QS. Al-Ahzab: 43)

Begitu pula:

أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka itulah yang memperoleh shalawat dari Tuhan mereka dan rahmat.”
(QS. Al-Baqarah: 157)

Bahkan Nabi diperintahkan untuk “bershalawat” atas kaum mukmin:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ

“Dan bershalawatlah atas mereka; sesungguhnya shalawatmu itu menjadi ketenteraman bagi mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Jika kata yang sama digunakan untuk Nabi dan untuk orang-orang beriman, maka maknanya harus konsisten. Tidak mungkin satu kata memiliki makna yang sepenuhnya berbeda-beda tanpa penjelasan kontekstual yang jelas.

Dalam banyak ayat lain, makna yang paling konsisten adalah menolong, mendukung, atau menguatkan.

Allah menegaskan dukungan-Nya kepada Nabi:

وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Dan Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”
(QS. Al-Fath: 3)

Dan orang-orang beriman diperintahkan melakukan hal yang sama:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya—mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Araf: 157)

Ayat ini sangat penting karena merinci bentuk pengagungan kepada Nabi: beriman, memuliakan, menolong (mendukung), dan mengikuti wahyu.

Dengan demikian, dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, perintah “shallū ‘alayhi” dapat dipahami sebagai perintah untuk mendukung Nabi dan risalahnya.

Taslim: Salam atau Penerimaan Total?

Bagian kedua QS 33:56 berbunyi: “wa sallimū taslīman.”

Makna taslim dapat dipahami melalui ayat lain:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu dan menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)

Di sini, taslim berarti menerima dengan penuh kepatuhan dan tanpa keberatan. Maka dalam QS 33:56, maknanya lebih dekat kepada pengakuan dan penerimaan total terhadap kerasulan Nabi, bukan sekadar ucapan salam.

Mengagungkan Nabi Secara Qur’ani

Dengan menghimpun seluruh ayat yang relevan, maka makna QS 33:56 menjadi jelas:

  1. Allah dan malaikat-Nya mendukung Nabi.
  2. Orang-orang beriman diperintahkan untuk mendukungnya.
  3. Mereka juga diperintahkan untuk menerima dan tunduk sepenuhnya pada kerasulannya.
  4. Bentuk nyata dukungan itu adalah mengikuti cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya (QS 7:157).

Dengan demikian, bershalawat kepada Nabi bukan sekadar ritual lisan, tetapi komitmen iman yang konkret: mendukung risalahnya dan menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.

Penutup

Mengagungkan Nabi Muhammad ﷺ tidak berhenti pada pengulangan lafaz, tetapi terwujud dalam kesetiaan terhadap wahyu yang beliau bawa.

Jika shalawat hanya menjadi kebiasaan tanpa pemahaman, ia kehilangan ruhnya. Namun jika dipahami sebagai dukungan dan penerimaan total terhadap risalah, maka shalawat menjadi energi spiritual yang menghidupkan umat.

Di sinilah pentingnya pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida)—agar setiap perintah Allah dipahami dalam cahaya keseluruhan wahyu, bukan semata-mata tradisi.

Bershalawat kepada Nabi, pada akhirnya, adalah komitmen untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup—sebagaimana beliau menegakkannya. (a mohamed)

Example 120x600