Baten|PPMIndonesia.com- Jika merujuk pada masa pemerintahan Panembahan Senopati (Sutawijaya) pada 1587–1601, maka Kerajaan Mataram Islam dapat disebut sebagai tonggak penting dalam sejarah politik dan peradaban Jawa. Sekitar empat abad silam, kejayaan Mataram Islam bukan hanya menandai kebangkitan kekuasaan baru di Jawa Tengah, tetapi juga menjadi simbol menguatnya pengaruh Islam di Nusantara setelah runtuhnya Majapahit.
Perjalanan panjang menuju lahirnya Mataram Islam tidak terjadi dalam ruang hampa sejarah. Ia merupakan bagian dari mata rantai panjang transformasi kekuasaan di Jawa. Kerajaan Mataram Kuno atau Medang, yang berakar sejak abad ke-8, mengalami dinamika politik dan keagamaan yang kompleks. Pada masa pemerintahan Mpu Sindok (929–947), pusat kekuasaan dipindahkan ke Jawa Timur, menandai babak baru sejarah Medang.
Sebelumnya, jejak Mataram Kuno dapat ditelusuri sejak pemerintahan Sanjaya (732–760) yang bercorak Hindu. Dinasti ini kemudian mengalami pengaruh kuat Buddha pada masa Rakai Panangkaran, yang ditandai dengan pembangunan Candi Kalasan. Sementara pada masa Rakai Pikatan, dibangun Candi Prambanan sebagai simbol kebangkitan Hindu di Jawa.
Rangkaian kekuasaan berlanjut hingga masa Dharmawangsa Teguh (990–1016). Keruntuhan Mataram Kuno sering dikaitkan dengan serangan Kerajaan Wurawari pada tahun 1016, yang mengakibatkan kehancuran besar dan melemahnya stabilitas politik. Faktor internal seperti konflik dinasti, ketegangan keagamaan Hindu-Buddha, serta kemerosotan ekonomi dan pertanian turut mempercepat keruntuhan tersebut.
Pasca-Medang, estafet kekuasaan di Jawa Timur berlanjut melalui Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Airlangga, lalu muncul Kerajaan Kediri, Singasari, hingga mencapai puncak kejayaan pada masa Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya pada akhir abad ke-13. Dua abad kemudian, Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah. Dari Demak inilah embrio kekuasaan Islam di Jawa berkembang semakin kuat.
Cikal bakal Mataram Islam bermula dari Ki Ageng Pemanahan yang memperoleh tanah Mataram sebagai hadiah politik. Putranya, Sutawijaya atau Panembahan Senopati, kemudian memproklamasikan berdirinya Kerajaan Mataram Islam pada 1587 di Kotagede. Sejak saat itu, Mataram tampil sebagai kekuatan baru yang berupaya menyatukan kembali Jawa di bawah panji Islam.
Puncak kejayaan Mataram Islam terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613–1645). Di bawah kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Mataram meluas hampir ke seluruh Jawa, bahkan melakukan perlawanan terhadap VOC di Batavia. Sultan Agung bukan hanya pemimpin militer dan politik, tetapi juga arsitek kebudayaan Jawa-Islam yang memadukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam, termasuk dalam sistem kalender dan tata pemerintahan.
Transformasi dari Mataram Kuno yang bercorak Hindu-Buddha menuju Mataram Islam menunjukkan perubahan besar dalam struktur sosial, budaya, dan politik masyarakat Jawa. Islam tidak hadir dengan menghapus tradisi lama secara total, melainkan melalui proses akulturasi yang melahirkan sintesis kebudayaan baru. Inilah yang membuat warisan Mataram Islam bertahan lama—bukan sekadar sebagai entitas politik, tetapi sebagai fondasi budaya.
Memang, keberadaan Kerajaan Wurawari masih menjadi perdebatan, baik terkait lokasi maupun tokoh rajanya. Namun yang pasti, sejarah panjang Mataram—baik dalam fase Hindu-Buddha maupun Islam—telah membentuk karakter peradaban Jawa dan Nusantara.
Warisan Mataram Islam tidak berhenti pada runtuhnya kekuasaan politiknya. Ia berlanjut dalam bentuk struktur sosial, sistem pemerintahan, tradisi keraton, hingga nilai-nilai budaya yang masih hidup di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, semangat persatuan wilayah Jawa yang pernah dirintis Mataram menjadi salah satu inspirasi historis tentang pentingnya integrasi dan kedaulatan.
Dengan demikian, Mataram Islam bukan sekadar catatan masa silam. Ia adalah bagian dari denyut sejarah yang terus mengalir dalam identitas bangsa—menjadi warisan panjang yang langgeng dan berlanjut hingga kini. (jacob ereste)



























