Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Faman Syahida Minkumusy-Syahra: Apakah Al-Qur’an Mengisyaratkan Hisab Astronomi?

7
×

Faman Syahida Minkumusy-Syahra: Apakah Al-Qur’an Mengisyaratkan Hisab Astronomi?

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap menjelang Ramadan, diskusi tentang rukyat dan hisab kembali mengemuka. Sebagian menekankan pentingnya melihat hilal secara langsung, sementara yang lain berpegang pada perhitungan astronomi modern.

Namun bagaimana jika kita kembali kepada teks Al-Qur’an dan membiarkannya menjelaskan dirinya sendiri?

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an dan kajian syahida—yakni membaca ayat secara langsung dan menafsirkan satu ayat dengan ayat lainnya—kita akan menelaah frasa kunci dalam penentuan awal puasa.

Ayat Sentral: “Faman Syahida Minkumusy-Syahra”

Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ…

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil). Maka barang siapa di antara kamu menyaksikan (syahida) bulan itu, hendaklah ia berpuasa…”
(Al-Baqarah: 185)

Kata kunci dalam ayat ini adalah شَهِدَ (syahida).

Apakah maknanya sekadar “melihat dengan mata”? Ataukah memiliki cakupan makna yang lebih luas?

Makna “Syahida” dalam Al-Qur’an

Dalam metode Qur’an bil Qur’an, kita mencari bagaimana Al-Qur’an menggunakan kata yang sama di tempat lain.

Allah berfirman:

وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا

“Dan kami tidak bersaksi kecuali atas apa yang kami ketahui.”
(Yusuf: 81)

Dalam ayat ini, syahida berkaitan erat dengan pengetahuan (ilm), bukan sekadar penglihatan fisik.

Demikian pula:

مَّا أَشْهَدتُّهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“Aku tidak menghadirkan (menyaksikan) mereka pada penciptaan langit dan bumi…”
(Al-Kahf: 51)

Makna syahida dalam Al-Qur’an mencakup kehadiran, kesadaran, dan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, frasa faman syahida minkumusy-syahra dapat dipahami sebagai:
“Barang siapa yang hadir dan mengetahui masuknya bulan itu.”


Al-Qur’an dan Sistem Perhitungan Waktu

Jika “syahida” berkaitan dengan pengetahuan, bagaimana Al-Qur’an memandang sistem waktu?

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dia menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase-fase) agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (hisab).”
(Yunus: 5)

Ayat ini secara eksplisit menyebut hisab sebagai tujuan penciptaan sistem bulan.

Dalam ayat lain ditegaskan:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan (beredar) dengan perhitungan yang teliti.”
(Ar-Rahman: 5)

Artinya, sistem waktu dalam Islam memang dibangun di atas keteraturan kosmik yang terukur.

Apakah Ini Isyarat kepada Hisab Astronomi?

Pendekatan kajian syahida tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Namun ada beberapa fakta tekstual:

  1. Al-Qur’an menggunakan kata syahida, bukan ra’a (melihat).
  2. Syahida dalam banyak ayat berkaitan dengan pengetahuan yang sadar dan dapat dipastikan.
  3. Sistem bulan diciptakan untuk hisab (perhitungan).

Maka, dapat dipahami bahwa kepastian masuknya Ramadan dapat diperoleh melalui pengetahuan yang sahih, termasuk melalui instrumen astronomi yang akurat.

Ini bukan penolakan terhadap rukyat, tetapi penegasan bahwa prinsip Al-Qur’an adalah kepastian yang berbasis ilmu.

Prinsip Kemudahan dan Kepastian

Dalam ayat puasa yang sama, Allah menegaskan:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”
(Al-Baqarah: 185)

Kepastian waktu melalui sistem yang presisi dapat menjadi bagian dari kemudahan itu, selama tetap berada dalam koridor nash dan prinsip syariat.

Refleksi: Kembali pada Prinsip Al-Qur’an

Perdebatan rukyat dan hisab seharusnya tidak memecah ukhuwah. Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita belajar bahwa:

  • Yang diperintahkan adalah memastikan bulan dengan kesaksian yang sah.
  • Sistem langit diciptakan dengan perhitungan.
  • Islam menghargai ilmu dan kepastian.

Maka pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah “rukyat atau hisab?”, melainkan:

Apakah kita telah memastikan masuknya Ramadan dengan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai prinsip Al-Qur’an?

Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an. Maka sudah selayaknya kita kembali kepada Al-Qur’an dalam memahaminya.

Melalui kajian syahida, kita belajar bahwa teks suci tidak anti-ilmu. Justru ia meletakkan fondasi kosmik bagi keteraturan waktu.

Dan mungkin, di situlah letak hikmahnya:
bahwa antara wahyu dan ilmu, tidak ada pertentangan—yang ada adalah kesaksian bersama menuju kebenaran. (syahida)

Example 120x600