Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

QS Al-Ahzab 33:56: Antara Tradisi dan Makna Asli

5
×

QS Al-Ahzab 33:56: Antara Tradisi dan Makna Asli

Share this article

Kajian Syahida Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Tidak ada ayat yang lebih sering dirujuk dalam majelis keagamaan selain firman Allah berikut:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh ketundukan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat ini menjadi dasar praktik shalawat yang begitu luas dalam tradisi Islam. Namun, pertanyaannya: apakah makna “shalawat” dan “taslim” yang kita pahami hari ini sepenuhnya sejalan dengan penjelasan Al-Qur’an itu sendiri?

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida), satu ayat tidak dipahami secara terpisah, melainkan dijelaskan oleh ayat-ayat lain yang menggunakan istilah dan struktur serupa. Dengan metode ini, makna menjadi utuh dan konsisten.

Memahami Kata “Yushallūna”: Siapa yang Bershalawat?

Menariknya, kata kerja yang sama dalam QS 33:56 juga digunakan untuk kaum mukmin:

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَـٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Dialah yang bershalawat atas kamu dan para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya.”
(QS. Al-Ahzab: 43)

Begitu pula:

أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka itulah yang memperoleh shalawat dari Tuhan mereka dan rahmat.”
(QS. Al-Baqarah: 157)

Dan Nabi sendiri diperintahkan melakukan hal yang sama kepada orang beriman:

وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ

“Dan bershalawatlah atas mereka; sesungguhnya shalawatmu itu menjadi ketenteraman bagi mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)

Jika kata yang sama digunakan untuk Allah, malaikat, Nabi, dan kaum mukmin, maka maknanya harus konsisten. Dalam konteks ayat-ayat tersebut, shalawat terkait dengan tindakan mendukung, menolong, dan menguatkan.

Allah menegaskan dukungan-Nya kepada Rasul:

وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Dan Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”
(QS. Al-Fath: 3)

Dan orang beriman diperintahkan melakukan hal serupa:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya—mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Araf: 157)

Ayat ini merinci bentuk pengagungan kepada Nabi: beriman, memuliakan, menolong, dan mengikuti wahyu.

Taslim: Sekadar Salam atau Penerimaan Total?

Bagian kedua QS 33:56 berbunyi: “wa sallimū taslīman.”

Makna kata taslim dapat ditelusuri dalam ayat berikut:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu dan menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)

Di sini, taslim berarti menerima sepenuhnya, tanpa keberatan. Maka perintah dalam QS 33:56 dapat dipahami sebagai seruan untuk menerima dan tunduk sepenuhnya pada kerasulan Nabi, bukan sekadar ucapan salam formal.

Antara Tradisi dan Substansi

Tradisi shalawat adalah bagian dari ekspresi cinta umat kepada Nabi. Namun jika berhenti pada pengulangan lafaz tanpa memahami makna, ia berisiko menjadi ritual kosong.

Al-Qur’an sendiri merumuskan bentuk pengagungan Nabi secara jelas:

  1. Beriman kepadanya.
  2. Memuliakannya.
  3. Mendukung perjuangannya.
  4. Mengikuti cahaya (Al-Qur’an) yang diturunkan bersamanya.

Semua itu terangkum dalam QS 7:157.

Menghidupkan Makna

Dalam perspektif Qur’an bil Qur’an (Syahida), QS 33:56 bukan sekadar perintah verbal, tetapi komitmen iman.

Bershalawat kepada Nabi berarti mendukung risalahnya.
Bertaslim kepadanya berarti menerima sepenuhnya wahyu yang dibawanya.

Ketika shalawat dipahami dalam makna ini, ia tidak lagi sekadar tradisi, melainkan energi spiritual yang menggerakkan umat untuk kembali kepada Al-Qur’an.

Dan di situlah makna aslinya hidup. (syahida)

Example 120x600