Jakarta|PPMIndonesia,com- Di antara pola paling konsisten dalam Al-Qur’an adalah penyandingan antara salat dan zakat. Hampir di setiap fase pembinaan umat, dua perintah ini hadir berdampingan. Ini bukan sekadar pengulangan retoris, melainkan penegasan struktur keberagamaan yang dikehendaki wahyu.
Mengapa salat—sebagai ibadah ritual paling utama—selalu dipasangkan dengan zakat—sebagai ibadah sosial? Untuk menjawabnya, kita perlu membaca Al-Qur’an dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, membiarkan ayat-ayat saling menjelaskan dan bersaksi.
Pola Berulang yang Mengandung Makna
Sejak awal, Al-Qur’an menegaskan:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
“Laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 43)
Pola ini bukan tunggal. Dalam perumusan agama yang lurus, Al-Qur’an kembali menyebutkan:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, beragama dengan lurus, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.”
(QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Di sini, salat dan zakat menjadi representasi dari dīn al-qayyimah—agama yang tegak dan seimbang.
Iman Tidak Berhenti pada Ritual
Al-Qur’an berulang kali merumuskan fondasi keberagamaan dalam satu frasa:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh …”
(lihat antara lain QS. Al-Baqarah [2]: 82)
Iman dan amal saleh tidak dipisahkan. Iman yang sejati harus mewujud dalam tindakan nyata. Dalam konteks ini:
- Salat melambangkan dimensi vertikal (hubungan dengan Allah).
- Zakat melambangkan dimensi horizontal (kepedulian terhadap manusia).
Penyandingan keduanya adalah peringatan bahwa spiritualitas tidak boleh steril dari tanggung jawab sosial.
Ketakwaan yang Terukur dalam Kepedulian
Ketika berbicara tentang rahmat-Nya, Allah menyebut secara khusus orang-orang yang menunaikan zakat:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 156)
Zakat disebut sebagai indikator ketakwaan. Artinya, ukuran iman bukan hanya pada kekhusyukan salat, tetapi juga pada sejauh mana seseorang berbagi dan peduli.
Kritik terhadap Keberagamaan yang Timpang
Al-Qur’an bahkan menautkan kegagalan iman dengan ketidakpedulian sosial:
إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ“Sesungguhnya dia tidak beriman kepada Allah Yang Mahabesar, dan tidak mendorong (orang lain) memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Haqqah [69]: 33–34)
Ayat ini menunjukkan bahwa iman yang tidak menghasilkan kepedulian adalah iman yang tidak utuh. Salat tanpa zakat akan melahirkan keberagamaan yang individualistik, sementara zakat tanpa salat kehilangan fondasi spiritualnya.
Ujian di Ambang Kematian
Al-Qur’an juga menggambarkan penyesalan manusia ketika waktu telah habis:
وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ
“Infakkanlah sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau menangguhkan aku sedikit waktu lagi, niscaya aku akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.’”
(QS. Al-Munafiqun [63]: 10)
Penyesalan itu bukan karena kurang beribadah ritual, tetapi karena kurang bersedekah. Ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial adalah ujian nyata dari iman.
Penutup
Dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, tampak jelas bahwa penyandingan salat dan zakat adalah struktur dasar agama. Salat menjaga hubungan dengan Allah; zakat menjaga hubungan dengan manusia. Keduanya membentuk keberagamaan yang seimbang.
Iman diuji bukan hanya di sajadah, tetapi juga di tengah realitas sosial. Ketika seseorang berdiri dalam salat namun abai terhadap penderitaan sesama, Al-Qur’an mengingatkan bahwa keberagamaan belumlah sempurna.
Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini:
Sudahkah iman kita teruji dalam kepedulian? (a mohmed)



























